Film Mistik Indonesia, Sebuah Representasi Keyakinan Tradisional Masyarakat

Posted on April 30, 2009

1


Film Mistik Indonesia, Sebuah Repersentasi Keyakinan Tradisional Masyarakat
Oleh :Kus Pujiati

A.    LATAR BELAKANG POPULERNYA FILM MISTIK INDONESIA
Tentunya kita masih ingat, jika kita kembali ke belakang pada tahun 1980-an hingga tahun 1990-an., yaitu pada era kejayaan film Suzzana, berbagai macam bentuk setan, hantu dan jenis makhluk halus lainnya seolah telah menjadi tokoh idola masyarakat kita. Pastinya ingatan akan film-film Suzzana akan sulit dilupakan dalam pikiran penonton Indonesia. Era itulah yang menjadi sebuah puncak kepopuleran film-film horor (baca : mistik) Indonesia. Keakraban penonton pada tokoh-tokoh supranatural dalam film mistik tentunya bukanlah tanpa alasan. Selama ini masyarakat Indonesia telah begitu dekat dengan segala bentuk ilmu klenik yang banyak berhubungan dengan makhluk-makhluk halus. Sehingga merupakan sebuah hal yang wajar jika penonton Indonesia begitu menikmati tayangan film mistik Suzzana.
Popularitas yang dimiliki tokoh makhluk halus dalam film mistik tidak jauh berbeda dengan artis ataupun aktor-aktor yang bermain dalam film yang lain, bahkan mungkin melebihi, terutama untuk masyarakat pelosok pedesaan yang belum begitu mengenal televisi atau film. Itu jelas tidak mengherankan, toh sebelumnya tokoh-tokoh seperti Kuntilanak, Jelangkung, Sundel Bolong, Nyi Roro Kidul dan kawan-kawan telah terlebih dahulu populer di masyarakat manapun, tentunya melalui berbagai mitos dan bentuk keyakinan tradisional masyarakat Indonesia.

B.    MASALAH GENRE MISTIK SEBAGAI GENRE LOKAL
Sejak zaman dahulu masyarakat Indonesia telah mengenal seluk beluk dunia mistik beserta tokoh-tokohnya dari nenek moyang yang kemudian dilanjutkan pada generasi berikutnya secara turun temurun baik secara sadar maupun tidak. Pada dasarnya mistik merupakan keyakinan yang hidup dalam alam pikiran kolektif masyarakat (Capt. R. P. Suyono : 2007). Dunia  mistik banyak berkutat pada hal-hal gaib yang sering kali tidak terjangkau oleh akal manusia, misalkan hal-hal yang menyangkut hahkluk halus, roh-roh alam, benda-benda magis, dewa-dewi dan masih banyak lagi. Setiap masyarakat memiliki konsepsi mengenai dunia mistik dan gaib yang berbeda satu sama lain.
Dalam film Indonesia yang bergenre mistik, bentuk-bentuk keyakinan tradisional masyarakat Jawa begitu terasa hampir sepanjang film, baik dari segi naratif maupun style yang dipergunakannya. Secara sepintas film mistik memiliki kemiripan dengan film bergenre horor yang lahir di Hollywood, namun ternyata jika diteliti lebih jauh ternyata berbeda. Tetapi hal yang begitu mengherankan adalah mengapa masih saja disebut sebagai film horor. Sedangkan apabila film mistik Indonesia dan film horor Hollywood di bandingkan akan ada perbedaan yang mencolok dari berbagai macam sudut pandang. Sudut pandang terbesar yang membedakannya terutama dari sisi historis, yang satu berasal dari genre besar Hollywood dan yang satu lagi berasal dari genre lokal.
Dari perbedaan pandangan tersebut, maka akan dapat dipahami dengan lebih jelas semangat yang menjadi latar belakang munculnya genre tersebut, baik genre besar seperti horor film ataupun genre lokal seperti mistik film. Tidak perlu diperdebatkan lagi seperti apakah konfensi naratif dan style yang sering digunakan dalam genre horor Hollywood. Namun untuk genre lokal seperti genre mistik yang dimiliki oleh Indonesia haruslah juga didekati dengan pendekatan lokal historis Indonesia. Karena ternyata banyak kemiripan antara dunia mistik yang diciptakan oleh film dengan dunia mistik yang dipercayai oleh masyarakat kita. Sehingga permasalahannya akan bergulir pada, apakah benar sebuah genre lokal seperti genre film mistik lahir dari keyakinan tradisional masyarakat Indonesia? Bagaimana genre film mistik tersebut dicirikan sebagai genre lokal?
C.    RUANG LINGKUP PEMBAHASAN DAN METODE ANALISA FILM MISTIK
Dunia gaib, mistik dan klenik yang selama ini begitu dekat dengan masyarakat ternyata turut memberikan pengaruh pula pada dunia perfilman Indonesia. Bukti yang nyata itu dapat dilihat dari banyaknya film Indonesia yang di dalamnya menggunakan unsur-unsur mistik dalam bertutur. Unsur mistik tersebut begitu jelas dapat terlihat dalam naratif (form) maupun style yang digunakan disetiap film. Secara detail apabila diperhatikan bentuk filmnya tampak bukanlah sebuah bentuk film yang berasal dari Hollywood. Film-film bergenre seperti ini hanya berkembang secara lokal di luar genre mainstream Hollywood. Sehingga dari sinilah dapat dikatakan bahwa Indonesia memiliki sebuah genre lokal yang berbeda dengan genre-genre Hollywood, yaitu genre film mistik.
Selama ini pula ada banyak film mistik yang menjadi idola penonton kita, terutama terjadi sekitar tahun 1980-an. Nyi Blorong (1982), Perkawinan Nyi Blorong (1983), Telaga Angker (1984), Bangunnya  Nyi Roro Kidul (1985), Malam Jumat Kliwon (1986), Nenek Lampir (1987), Malam Satu Suro (1988) merupakan bagian kecil dari sekian banyak judul-judul film mistik yang diproduksi. Tercatat pada tahun 1980-an saja terdapat 69 judul film mistik yang beredar di bioskop-bioskop tanah air. Genre film mistik pada tahun 1980-an inilah yang akan menjadi inti pembahasan kali ini, dimana pada tahun ini film mistik menjadi sebuah tren bertutur sebagian besar film-film Indonesia.
Apabila diperhatikan, ternyata film-film seperti film mistik juga memiliki bentuk-bentuk khusus yang berhubungan dengan nilai-nilai lokal Indonesia atau lebih khususnya lagi wilayah Jawa. Ini dapat dilihat dari bagaimana film-film yang bergenre mistik tersebut terbentuk. Dalam konteks ini artinya genre dapat didefinisikan sebagai sebentuk pola / forms / styles / struktur yang dikonstruksi oleh filmmaker dan direkonstruksi oleh penontonnya (Rick Altman : 1999).
Penganalisaan pada pola dan struktur genre dapat dilakukan dengan memperhatikan unsur-unsur pembentuk naratifnya dan unsur style pendukung yang digunakan pada umumnya. Meskipun terkesan tidak ada yang istimewa dalam penganalisaan naratif dan style, namun dengan cara inilah sebuah bentuk film serumit apapun dapat dibedah dan dipahami secara lebih mudah namun juga detail. Tentunya dengan tetap menghubungkan aspek-aspek di luar film yang menjadi motif dari terbentuknya sebuah (sekelompok) film.
Setelah membongkar seluruh bagian isi dari naratif dan style yang digunakan, pembahasan akan bergerak pada permasalahan konteks sosial ataupun historis yang telah membentuk dan melatarbelakangi semua itu. Karena bagaimanapun akan sulit memisahkan antara sebuah film dengan konteks sosial masyarakat pembentuknya yang selalu terkait satu sama lain. Tidak mungkin rasanya sebuah genre dimanapun dapat lahir dari sebuah kekosongan budaya dan masyarakat, sekalipun itu genre besar Hollywood.
ANALISA GENRE

NARATIF DALAM FILM MISTIK
Pada dasarnya cara bercerita film mistik secara garis besar tidaklah begitu rumit, semuanya begitu mudah untuk dicerna, bahkan untuk seorang yang tidak memiliki pendidikan tinggi sekalipun. Kesederhanaan inilah yang mungkin menjadikan film mistik dapat diterima oleh siapa saja dan dari kalangan manapun, termasuk penduduk di pedesaan kecil yang hanya mampu menikmati film mistik dari tayangan televisi. Tema dan permasalahan yang disajikan mayoritas tidak terlalu muluk-muluk alias tidak membutuhkan pemikiran yang sangat mendalam. Pengambilan cerita yang begitu dekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia seperti melalui mitos, legenda maupun folklore setempat menjadikan film mistik diminati hingga pelosok daerah.
Layaknya naratif yang dipergunakan Hollywood, film mistik juga menggunakan kondisi tanpa gangguan pada bagian awal film. Cerita film mistik biasanya akan bermula pada keadaan tenang sebuah desa dalam Santet 1 (1988) atau wilayah komunal tertentu, seperti keluarga di Perjanjian Malam Kramat (1991). Bentuk desa dan keluarga tersebut selalu digambarkan sebagai desa atau keluarga yang selalu taat dan patuh pada nilai dan norma-norma yang berlaku di masyarakat. Pola masyarakat “Pancasilais” seperti itulah yang pada waktu itu menjadi sebuah kewajiban moral dalam berbangsa dan bernegara di Indonesia. Mereka juga harus melaksanakan perintah agama secara benar dan tidak diperkenankan adanya bentuk-bentuk kepercayaan lain diluar agama, seperti animisme, dimanisme, sihir, santet dan bentuk-bentuk kepercayaan tradisional yang lain. Dengan demikian dapat terciptalah kerukunan dan kedamaian antar warga. Keadaan tenang tanpa ketergangguan seperti itulah yang banyak terlihat pada awal film.
Sampai kemudian tiba-tiba muncullah tokoh antagonis yang merasa iri dan dengki melihat kemakmuran dan kesejahteraan yang selama ini telah diperoleh warga, termasuk posisi tokoh protagonis di dalamnya. Antagonis datang serta merta ke wilayah baru mereka untuk merusak dan menghancurkan segala sesuatu milik protagonis atau warga yang telah mapan sebelumnya. Kekacauanpun tidak lagi terelakkan, mulai dari pembunuhan sadis, perampokan, pemerkosaan sampai kejahatan yang dilakukan antagonis melalui dukun ilmu hitam. Segala hal yang sebelumnya dimiliki protagonis dalam sekejap hilang dirampas oleh antagonis sampai si protagonis merasa benar-benar tidak memiliki apapun bahkan sering kali ia sendiripun mati sampai berubah menjadi jenis hantu atau setan tertentu Sundel Bolong (1981). Keadaan seperti ini membuat protagonis yang sebelumnya diperlihatkan begitu kuat kemudian berubah berada dalam keadaan yang begitu lemah dan seolah tidak dapat berbuat apa-apa untuk melawan segala tindakan kejahatan yang dilakukan antagonis. Sebalikannya, antagonis merasa begitu senang dan puas melihat kesengsaraan yang dialami protagonis.
Dalam posisi seperti itu, tidak ada satu orangpun di sekitar protagonis yang bersedia memberikan pertolongan. Sehingga mau tidak mau protagonis pergi dari tempatnya semula. Dalam perjalanannya protagonis secara sengaja ataupun tidak bertemu dengan seorang tokoh penolong yang bersedia menolong protagonis keluar dari kesengsaraannya. Penolong tersebut pada umumnya memiliki kekuatan gaib yang berfungsi mengembalikan dan memperbaiki kondisi protagonis yang memprihatinkan. Kekuatan gaib yang diberikan ini berbentuk macam-macam seperti, guna-guna, ilmu malih (siluman), santet, susuk maupun bentuk-bentuk ilmu gaib yang lain.
Dalam mempelajari ilmu gaib tersebut protagonis akan selalu melakukan berbagai ritual mistis seperti, membakar kemenyan, memakan sesuatu yang menjijikkan, menaburkan bunga-bunga tertentu dan lain-lain. Segala bentuk ritual tersebut sering kali dilakukan pada hari atau malam-malam tertentu. Tokoh protagonis secara cepat bertapa dan dapat mempelajari segala bentuk ilmu mistik yang diajarkan oleh tokoh penolong yang baru dikenalnya.
Setelah selesai bertapa kembalilah protagonis ke dunia luar. Dengan menggunakan kekuatan yang baru diperolehnya dari tokoh penolong sekaligus berperan sebagai seorang “guru”, protagonis mencoba untuk membalaskan dendamnya kepada antagonis yang telah berbuat jahat pada dirinya dan banyak orang yang lain. Saat-saat pembalasan dendam inilah yang menjadi klimaks dari keseluruhan cerita. Ketika protagonis keluar dari pertapaannya, segera ia mulai mencari keberadaan antagonis beserta anak buahnya yang turut berperan dibelakang. Ini menjadi menarik karena tokoh antagonis beserta anak buahnya sering kali tidak menyadari bahwa ia berhadapan dengan protagonis yang sudah memiliki kekuatan yang jauh berbeda dari sebelumnya, dan kekuatan tersebut mengandung sihir dan ilmu gaib. Manusia biasa akan sulit melawan kekuatan ilmu gaib protagonis terkecuali jika antagonis juga menggunakan ilmu yang sama untuk melawan protagonis.
Satu per satu didatanginya anak buah antagonis yang turut serta dalam kejahatan antagonis. Dengan cara menteror dan menakut-nakuti antagonis, protagonis mampu memberikan suspense yang selama ini selalu ditunggu oleh penontonnya untuk memberi kejutan dan antisipasi yang sesuai dengan dugaan penonton. Di sinilah terjadi pertempuran yang sengit baik pertempuran secara fisik maupun ilmu gaib sepadan antara protagonis dan antagonis. Antagonis bisa saja mendapatkan kekuatan dengan tiba-tiba dengan bantuan seorang dukun ataupun pihak lain yang memiliki kemampuan gaib. Namun bagaimanapun kuatnya perlawanan yang diberikan oleh antagonis untuk melawan protagonis, tetap saja pada akhirnya protagonislah yang akan memenangkan pertarungan, sekalipun ia berada dalam kondisi babak belur. Nasib antagonis pada akhirnya akan mati di tangan protagonis yang telah selesai membalaskan dendamnya.
Dengan menangnya tokoh protagonis dan matinya antagonis belum berarti menandai berakhirnya film mistik. Karena kondisi protagonis yang sering kali berbentuk hantu, setan atau arwah gentayangan dianggap belum tenang kehidupannya. Sehingga untuk mengembalikan segala sesuatunya pada tempatnya, dimunculkanlah seorang tokoh agamawan -terutama ustad- yang berfungsi mengembalikan kondisi sosok protagonis yang tidak tenang untuk kembali ke alamnya. Dalam artian, kaum agamawan membantu mendoakan arwah protagonis agar tenang dan tidak kembali gentayangan, karena dendamnya selama ini telah cukup terbalaskan di dunia fana. Protagonispun hanya pasrah mengikuti petunjuk yang diberikan oleh agamawan tersebut, sampai akhirnya ia menghilang dan keadaan yang tadinya kacau balau oleh pertarungan protagonis dan antagonis telah menjadi tenang dan normal kembali.
Ini merupakan sebuah akhir bahagia yang “mendamaikan” yang tentunya sangat diharapkan oleh seluruh penonton film mistik Indonesia. Akhir cerita seperti dalam film mistik dapatlah diterima penonton dengan baik, mengingat mereka (masyarakat) disatu sisi memiliki kepercayaan tradisional seperti hal-hal yang menyangkut dunia mistik dan disisi yang lain juga memegang nilai-nilai keagamaan. Jadi bukan hanya kematian antagonis yang menjadi akhir atau antiklimaks dari cerita, namun masih ada permasalahan lain yang juga harus diselesaikan, yaitu bagaimana mengembalikan protagonis ke tempat yang semestinya. Ending menghilangnya protagonis sebagai tanda kembalinya ia pada kehidupan semestinya mungkin hanya terjadi pada film bergenre mistik di negara kita.
Struktur bercerita gaya Hollywood dengan menggunakan tiga babak sepertinya tidak dipraktekkan secara penuh oleh genre mistik. Mungkin memang benar di awal hingga klimas ia menarapkan opening, pengenalan dan pengembangan karakater dengan gaya yang sama. Namun setelah selesai klimaks ternyata masih ada permasalahan yang belum diselesaikan oleh protagonis. Untuk kali ini permasalahannya tidak dapat diselesaikan sendiri oleh protagonis, ada tokoh lain yang berprofesi sebagai pemuka agama atau agamawan yang memberikan bantuan untuk menyelesaikan permasalahan terakhir yang akan mengembalikan keadaan tenang seperti semula.
Masih bersisanya masalah yang harus diselesaikan pihak lain (selain protagonis) membuat film mistik memiliki struktur bercerita yang berbeda dari pola tiga babak yang diterapkan Hollywood. Atau malah bahkan ia telah menggunakan struktur empat babak, melebihi Hollywood? Atau ternyata lebih dari itu? Apapunlah itu namanya yang jelas ternyata genre lokal Indonesia seperti film mistik pada tahun 1980-an memiliki gaya bertutur yang berbeda dari struktur naratif film-film Hollywood
KARAKTER TOKOH
Karakter dan tokoh yang memegang peranan paling penting dalam pembangunan cerita film adalah tokoh utama dan pendukungnya. Dari karakter utama itulah penonton dapat mengerti dan memahami perjalanan cerita yang sedang mengalir. Tidak akan dapat dikatakan sah sebagai film detektif jika sebuah film tidak memiliki karakter detektif yang berprofesi sebagai private investigator (PI), pelaku kejahatan, dan femme fatal di dalamnya. Itu semua seolah telah menjadi keharusan yang selalu menyertai dalam setiap film yang bergenre detektif. Begitu pula dengan film bergenre mistik yang juga memiliki karakter-karakter tertentu dalam setiap tokohnya.
Beberapa karakter utama dalam film mistik kurang lebih antara lain: protagonis, antagonis lengkap beserta anak buahnya, tokoh romance dari protagonis dan tokoh penolong baik yang bersifat buruk seperti “guru” ilmu sihir ataupun yang bersifat baik seperti pemuka agama. Merekalah yang akan saling berinteraksi dari awal cerita hingga akhir, entah itu interaksi yang menyebabkan ketegangan dan konflik seperti antara protagonis dan antagonis atau bahkan memberikan suasana menyenangkan dan tenang seperti yang selalu akan diciptakan melalui hubungan percintaan yang terjadi antara protagonis dengan tokoh romance.
Sepertinya tempat kejadian cerita atau setting yang selalu melibatkan orang banyak sebagai contoh pedesaan atau perkampungan turut memberikan pengaruh pada jumlah tokoh yang akan bermain di dalamnya. Karena dalam ruang lingkup masyarakat seperti itu pasti tidak akan mungkin rasanya lepas dari kekompleksan karakter yang ada mulai dari Pak & Bu RT, Pak & Bu Lurah dan seluruh pembantunnya, Polisi, Tokoh humor seperti Pak Bokir dan istrinya, Tukang Jual bakso, Krupuk, Bakpao dan masih banyak lagi. Memang sepertinya karakter-karakter tersebut tidaklah begitu penting dalam membentuk inti cerita, namun dengan adanya tokoh-tokoh tersebut paling tidak akan dapat membantu logika sebuah desa atau kampung sekaligus juga mampu menambah kedekatan film dengan kehidupan sosialnya.
Dengan adanya tokoh protagonis maka penonton dapat beridentifikasi dan menaruh simpati atas segala sesuatu yang dilakukannya. Melalui point of view tokoh inilah penonton diajak berjalan-jalan melewati segala hal menegangkan maupun menyenangkan dicerita. Dalam film mistik protagonis selalu digambarkan sebagai korban dari kejahatan antagonis yang telah semena-mena mengambil segala kebahagiaan dan kemapanannya. Meskipun setelah terjadi kekacauan yang dilakukan antagonis, protagonis menjadi lemah dan tidak berdaya namun ia lantas segera bangkit dari keterpurukannya itu. Dendam merupakan motif yang paling kuat yang membawa tokoh protagonis yang lemah bangun kemudian terhenyak untuk melakukan segala usaha apapun demi membalaskan dendamnya pada tokoh antagonis beserta anak buahnya.
Tokoh protagonis dalam film mistik tahun1980-an banyak diperankan oleh seorang perempuan terutama yang berjaya pada waktu itu adalah Suzzana yang pada akhirnya dikenal sebagai simbol film mistik Indonesia. Tokoh protagonis perempuan dapat saja berwujud manusia utuh yang memiliki ilmu gaib atau bentuk makhluk halus yang bentuknya beraneka macam seperti kuntilanak, setan gentayangan, siluman maupun wujud yang lain. Yang kemudian menjadi persamaan diantaranya adalah protagonis selalu memiliki kekuatan mistik baik itu santet, guna-guna, aji-aji, susuk dan lain sebagainya. Seluruh kekuatan gaibnya itu diperoleh dari seorang tokoh penolong atau “guru” yang terkadang berwujud dukun, siluman atupun jenis makhluk halus yang lain. Dengan kekuatan dari dunia mistik yang dimilikinya itulah ia dapat membalaskan dendam kesumatnya pada antagonis.
Tokoh antagonis biasanya tidak terdiri dari satu orang saja, ada beberapa orang anak buah antagonis yang juga terlibat secara langsung dalam berbagai macam kejahatan di film. Namun yang menjadi otak dari semua perbuatan tersebut hanyalah satu orang. Antagonis yang menjadi dalang dibalik semua kejahatan yang terjadi adalah orang yang paling dicari terakhir kali oleh protagonis, karena sebelumnya protagonis menghabisi anak buahnya terlebih dahulu. Sering kali tokoh antagonis ini digambarkan sebagai seorang laki-laki yang sama sekali tidak bermoral. Ia adalah tipikal laki-laki yang memiliki banyak selingkuhan, hidung belang, tidak setia, suka merebut keperawanan gadis-gadis di desa, tamak, koruptor, kikir, gila jabatan, kafir, murtad dan masih banyak lagi perangai buruk yang selalu melekat pada karakter antagonis.
Tidak jarang tokoh antagonis juga memiliki kekuatan ilmu gaib yang tidak jauh berbeda dengan yang dimiliki oleh protagonis seperti dalam Perkawinan Nyi Blorong (1983). Namun kemampuan ilmu mistik antagonis digunakan untuk melaksanakan tujuan yang tidak baik malah sering kali menyengsarakan rakyat banyak. Apalagi jika kekuatan ilmu gaib tersebut selalu membutuhkan tumbal atau wadal sebagai persembahan, dengan mengorbankan orang-orang desa terutama gadis-gadis dan anak-anak yang tidak bersalah agar kekuatannya semakin besar dan menjadi semakin kekal.
Untuk membantu protagonis membalaskan dendamnya pada antagonis yang semakin kuat maka datanglah seorang tokoh laki-laki gagah yang bersedia membantu protagonis melawan kekuatan antagonis. Kedatangan tokoh romance ini tidak hanya memberikan bantuan pada protagonis saja namun juga ada bumbu-bumbu cinta dan kemesraan bak dalam film-film India. Hingga nanti pada akhir cerita tokoh ini akan bersanding dengan protagonis di pelaminan. Tokoh romance sebenarnya memiliki kekuatan yang tidak jauh berbeda dari protagonis. Jika proatagonis perempuan memiliki kemampuan dalam ilmu mistik dan sihir maka tokoh romance akan lebih melengkapinya dengan kekuatan fisik yang mayoritas tidak begitu menonjol di karakter protagonis perempuan. Sampai keduanya mampu memenangkan hingga akhir pertarungan.
Begitu pertarungan antara protagonis dan antagonis selesai dengan kemenangan protagonis, kemudian muncullah seorang tokoh penolong yang lain yang khusus didatangkan oleh seorang tokoh pendukung lain yang mengetahui kondisi dan situasi protagonis. Tokoh ini adalah juga seorang tokoh penolong yang berperan sebagai pemuka agama seperti ustad ataupun kyai. Tujuan dari tokoh tersebut adalah untuk menuntun protagonis kembali ke jalan yang benar dan keluar dari ilmu mistik apapun yang selama ini telah menyesatkannya. Agamawan berusaha menolongnya dengan bantuan doa-doa dan cara-cara yang sangat agamais dan bukan dengan cara memberikannya kekuatan mistik yang bersifat kafir –menurut agama- seperti yang dilakukan oleh penolong yang pertama kali menolong protagonis. Inilah letak perbedaan antara penolong yang bersifat baik dan penolong yang bersifat buruk yang cenderung menyesatkan –sekali lagi : menurut versi agama.
Terdapat stereotype yang selalu melekat dalam tokoh perempuan di film mistik. Dia biasanya akan banyak ditampilkan sebagai gadis atau perempuan yang memiliki cara bicara yang genit dan menggemaskan sehingga sering kali laki-laki jatuh pada rayuan perempuan. Dengan mengandalkan kemolekkan tubuh yang didukung dengan pakaian yang terbuka, gaya bicara yang centil maka timbullah kesan bahwa perempuan senantiasa memberikan godaan tersendiri bagi kaum laki-laki. Ada saja laki-laki dalam film mistik yang diperlihatkan selalu tergoda pada perempuan. Mengapa di film mistik perempuan masih saja ditampilkan seperti itu? Sepertinya image bahwa segala dosa pertama yang dilakukan oleh Adam dikarenakan bujuk rayu Hawa masih begitu lekat dengan masyarakat kita.
Ternyata penempatan protagonis perempuan yang begitu kuat dalam menghadapi musuh-musuhnya (antagonis) laki-laki belum tentu menjadi  jaminan bahwa film ini lebih memihak kepada perempuan. Buktinya jelas-jelas terlihat melalui bagimana perempuan pada umumnya (selain tokoh protagonis) di representasikan dalam film. Belum lagi bagaimana posisi protagonis perempuan yang selalu membuat kerusuhan dan kegemparan warga masyarakat karena berbagai tindakannya yang dianggap tidak benar dan menyimpang dari ajaran agama atau norma-norma yang berlaku, seperti dengan menggunakan santet, susuk atau ajian pengikat lainnya, menakut-nakuti penduduk dengan kehadirannya sampai dengan menebar teror di mana-mana. Perempuan dianggap tidak lain seperti monster yang terus dan akan terus memberikan ketidaknyamanan dan ketidaktentraman pada sebuah kehidupan.

PENGGARAPAN STYLE YANG TIPIKAL
Setiap film memiliki kode-kode visual yang spesial atau tertentu seperti kostum para pemain, setting, lighting, properti maupun elemen-elemen lain yang kemudian menjadi sebuah ikonografi film (Pam Cook & Mieke Bernink : 1999). Dengan adanya kuda atau mobil atau pistol penonton dapat mengasumsikan film jenis apa yang sedang mereka tonton. Dalam satu genre akan selalu ditemukan pola-pola visual yang mirip satu dengan yang lain. Ikonografi yang tipikal ini juga terdapat dalam style yang banyak dipergunakan genre film mistik.
Cerita film mistik biasanya akan berputar di satu desa kecil atau satu wilayah perkampungan penduduk yang masih memegang nilai-nilai tradisional. Kehidupan sederhana masyarakat setempat sudah menjadi sebuah pemandangan keseharian yang biasa terjadi seperti mencuci atau mandi di sungai, pergi ke ladang, sawah atau kebun, beternak ataupun kegiatan sehari-hari yang lain. Sehingga itu tentunya akan banyak menggunakan latar belakang alam seperti gua, pegunungan, pantai, hutan, sawah, kebun dan juga pemandangan di dalam laut. Karena film mistik selalu memberikan adegan pertarungan maka scene yang mendominasipun selalu berada di luar ruangan atau eksterior dan selalu di malam hari. Untuk penggunaan scene dalam ruangan atau interior, protagonis juga memiliki sebuah tempat tinggal yang dapat berupa rumah, gua, istana atau kerajaan megah beserta segenap pengikut dan anak buahnya.
Dari sebagian besar film mistik, kostum tradisional dari daerah-daerah tertentu di Indonesia terutama Jawa banyak digunakan. Tokoh-tokoh perempuan -termasuk di dalamnya tokoh protagonis perempuan- banyak yang memakai kebaya yang tertutup maupun kemben dan kutang yang agak sedikit terbuka untuk bagian atas, dan untuk bawahan digunakan kain bermotif yang sebenarnya mampu menunjukkan secara lebih detail di mana terjadinya peristiwa. Sebagai “tambahan” pembentukan tokoh perempuan, kostum yang digunakan selalu menonjolkan sensualitas yang berlebih seperti belahan dada dan paha.  Sedangkan untuk tokoh laki-laki juga tetap menggunakan pakaian tradisional daerah tertentu yang tampak lebih sederhana.
Bagi tokoh protagonis perempuan meskipun ia menggunakan kostum yang tidak jauh berbeda dengan tokoh yang lain, namun akan selalu ada pembedaan yang menjadi ciri khas karakter protagonis. Dapat dilihat dari banyaknya rangkaian bunga melati yang selalu melekat di rambut protagonis atau rangkaian bunga apapun yang sering ia bawa. Jika protagonis terlihat seperti bentuk manusia biasa maka kostumlah yang lebih ditonjolkan untuk memberikan perbedaan dengan tokoh yang lain. Misalnya untuk peran ratu, sebut saja Nyi Roro Kidul, akan selalu ada sekian banyak kostum mewah termasuk pernak pernik hiasan yang melekat di sekujur tubuhnya. Namun jika protagonis berbentuk makhluk halus maka kostum yang diberikan harus disesuaikan dengan karakter yang ia perankan.
Selama ini pembuatan kostum sebagai penggambaran karakter tokoh yang berperan sebagai makhluk halus kurang lebihnya hanya mengandalkan referensi rumor dan mitos yang berkembang di masyarakat mengenai wujud makhluk halus. Karena meskipun ada beberapa buku atau kitab kuno yang menjelaskan tentang bentuk dunia gaib tersebut tetap saja dalam pelaksanaan penggambaran tokoh makhluk halus masih menggunakan daya imajinasi sang pembuat film itu sendiri. Tokoh makhluk halus yang berasal dari dunia gaib ini tidak memiliki wujud dalam dunia nyata kita namun dia tetap memiliki wujud dalam alam pikiran (kolektif) manusia.
Belum lagi penggunaan make up khusus yang akan memberikan kesan menyeramkan sekaligus menjijikkan. Make up khusus yang dapat menimbulkan rasa jijik dapat saja berupa darah merah beserta belatung atau binatang-binatang lain di dalamnya yang mampu membuat penonton bergidik melihatnya. Tetapi meskipun terkadang penampilan protagonis begitu menyeramkan atau bahkan membuat jijik sekalipun, bagaimanapun penonton tetap akan memberikan simpati pada tokoh yang satu ini.
Kelakuan para makhluk halus itu ternyata bermacam-macam, selain dapat menguasai ilmu gaib yang serba tidak dapat diperkirakan, mereka juga mampu bertarung secara fisik. Berbagai bentuk tindakan yang mengarah pada ilmu gaib antara lain seperti dengan mengucapkan mantera-mantera gaib, bersemedi kemudian berubah wujud, santet atau teluh, susuk dan masih banyak lagi.
Disamping dipenuhi dengan scene pertarungan fisik ataupun ilmu gaib sepanjang film, penonton film juga selalu disuguhi oleh adegan-adegan romantis yang mendayu biru antara protagonis dan tokoh romance yang tidak jarang nantinya akan berakhir pada scene di tempat tidur. Atau jika scene “menyenangkan” itu tidak ada paling tidak ada satu adegan perkosaan yang dilakukan oleh antagonis beserta anak buahnya. Pada intinya di sini, penonton bagaimanapun caranya akan terus diberikan tampilan adegan yang “cukup erotik” agar mereka tetap setia untuk menonton tayangan-tayangan yang berikutnya.
Untuk lighting, film mistik tidak begitu saja mengambil gaya lighting low key seperti yang sering dilakukan dalam film bergenre horor yang lain hanya untuk semakin memberikan impresi menakutkan bagi penonton. Ini bukan berarti pula film mistik sama sekali tidak menggunakan lighting yang low key. Karena ternyata ada beberapa film yang mengunakannya cuman sekedar untuk menandai atau membedakan antara manusia biasa dengan makhluk halus seperti sundel bolong dalam Telaga Angker (1984) atau  Malam Satu Suro (1988). Selebihnya tidak ada bentuk-bentuk lighting yang begitu terlihat menonjol maupun khas dalam film mistik.
Penelusuran naratif dan style tidak boleh hanya berakhir pada permukaan saja karena seharusnya tetap ada penganalisaan pesan yang lebih mendalam. Dengan cara seperti itulah kita dapat mengecek kembali apa sebenarnya “pesan” yang ingin disampaikan atau lebih tepatnya dikomunikasikan melalui film mistik ini. Jadi dengan begitu sebenarnya kita paling tidak dapat menangkap gejala apa yang sedang dan masih terjadi di dalam masyarakat. Karena mau tidak mau film mistik ini harus dapat berhubungan dengan penontonnya yang sebagian besar masih merupakan masyarakat tradisional yang masih percaya pada hal-hal mistik (pada tahun 1980-an).

PENDEKATAN HISTORIS
KEYAKINAN TRADISIONAL MASYARAKAT
Kelahiran (apabila dapat dikatakan demikian) jenis film mistik Indonesia memiliki sebuah sejarah yang cukup panjang. Untuk benar-benar dapat memahaminya maka kita harus mencari dari mana akar film mistik bermula sebenarnya. Termasuk di dalamnya pencarian pada referensi dunia seperti apakah yang ditampilkan dalam film mistik.
Cerita, dongeng, legenda maupun folklore telah lama berkembang di masyarakat dan mayoritas bentuk narasi tersebut dituturkan secara lisan secara turun temurun dari satu generasi ke generasi. Narasi dapat dimasukkan ke dalam salah satu bentuk dari tipe pembicaraan atau Barthes menyebutnya dengan a type of speech yang nantinya akan dapat berubah menjadi mitos dan mitos juga merupakan sebuah sistem komunikasi yang tetap memiliki pesan di dalamnya. Mitos dipahami bukan hanya sekedar sebagai suatu objek, konsep atau gagasan tertentu karena mitos merupakan a mode of signification atau mode penandaan yang memiliki suatu bentuk atau a form (Roland Barthes : 2007). Sehingga apa yang disebut sebagai cerita, dongeng, legenda, folklore memiliki bentuk sekaligus pesan di dalamnya. Pesan yang berada dalam suatu narasi biasanya adalah pesan moral tradisional masyarakat tertentu.
Segala bentuk narasi yang mereka ciptakan, oleh masyarakat tradisional tidak dapat dianggap hanya sekedar kisah bohong atau omong kosong begitu saja. Karena ternyata narasi-narasi ini sangat berkaitan erat dengan keyakinan yang berkembang di masyarakat tradisional pada waktu itu. Apabila ditelusuri lebih lanjut masyarakat tradisional Indonesia (terutama Jawa) pada awalnya begitu mempercayai kekuatan alam. Melalui pergaulannya dengan berbagai kekuatan alam, timbullah pemahaman bahwa setiap gerakan, kekuatan dan kejadian di alam disebabkan oleh makhluk-makhluk yang berada di sekitarnya (Capt. R. P. Suyono : 2007). Bentuk keyakinan akan adanya kekuatan roh, makhluk halus dan berbagai kekuatan alam lainnya inilah yang mendasari segala bentuk ritual hingga kebiasaan dan perilaku sehari-hari di masyarakat.
Pemujaan kepada benda-benda berwujud yang terlihat memiliki jiwa maupun pemujaan pada roh-roh leluhur dan makhluk-makhluk halus lainnya yang terdapat di alam merupakan beberapa praktek ritual yang sehari-hari dijalankan. Mereka percaya bahwa segala yang berada di alam memiliki jiwa atau roh dan dengan bantuan satu ilmu tertentu roh dapat mendatangkan kebahagiaan ataupun kesialan. Biasanya dengan memberikan mantra-mantra tertentu sebuah benda hidup maupun yang mati mampu diisi dengan roh atau jiwa yang dapat saja bersifat baik atau buruk. Tujuannyapun bermacam-macam, mulai dari yang begitu mulia seperti untuk mengobati penyakit sampai hal yang paling jelek sekalipun, untuk mencelakakan orang lain (Ibid : 2007).
Praktek-praktek ritual dan sesembahan tersebut bahkan masih sering dilakukan ketika zaman kolonial tiba dan padahal banyak dari mereka yang sudah menganut agama formal seperti Islam, Hindu, Budha maupun Nasrani. Keyakinan tradisional maupun ritual yang dijalankan merupakan hasil didikan alam yang dianut secara turun temurun kemudian bercampur dengan keyakinan modern berbentuk agama lantas oleh orang Jawa disebut sebagai kejawen.
Bentuk-bentuk kepercayaan apapun itu yang bercampur antara agama formal dengan animisme, fetisisme, spiritisme memang menjadi satu realitas yang benar-benar terjadi di pola kehidupan masyarakat tradisional di banyak wilayah di Indonesia dan bukan hanya terjadi di Jawa dan sekitarnya saja namun mungkin juga banyak terjadi di daerah di luar pulau Jawa.
PERTEMUAN AGAMA DAN ILMU MISTIK
Bagian akhir film mistik yang selalu ditandai pada kembalinya keadaan tenang dan damai seperti semula (order) dengan bantuan seorang agamawan seperti ustad, pemuka agama, imam ataupun kyai. Protagonis yang berbentuk setan, siluman ataupun jenis makhluk halus yang lain sekeji apapun sebelumnya pasti akan langsung seketika berubah menjadi tunduk dan patuh mengikuti apa yang diperintahkan oleh seorang tokoh agamawan. Tipikal closure seperti ini bukanlah hanya semata dikarenakan adanya ketetapan dari badan sensor pada waktu itu untuk memasukkan unsur-unsur agama (moral) dalam film mistik yang dinilai kurang bermoral dalam mendidik masyarakat.
Sebelum agama masuk di Indonesia dan masih berupa kepercayaan tradisional memang mereka selalu menggelar ritual khusus untuk mengusir roh-roh jahat. Tetapi setelah agama Islam masuk mereka mulai mengikuti petunjuk yang telah dijelaskan dalam agama untuk menghilangan atau menetralan kekuatan gaib dan bukan dengan bentuk ritual lagi.
Sampai dalam film mistik, agama kemudian menjadi jalan akhir satu-satunya yang mampu mengembalikan segala situasi yang penuh kacau balau menjadi kembali tenang. Jikalau di akhir cerita film mistik, setan-setan protagonis lebih memilih untuk tetap di dunia apakah akan berarti posisinya yang semula menjadi protagonis berubah menjadi antagonis? Lantas kemudian tokoh pemuka agama yang berusaha menolong ke jalan yang benar tiba-tiba beralih fungsi menjadi tokoh protagonis yang baru? Kembali kepada jalan yang benar melalui bantuan seorang tokoh agama yang mungkin merupakan sebuah pilihan terbaik yang selalu dipilih setan-setan protagonis yang moralis untuk mengakhiri segala petualangannya di dunia. Perpaduan yang “indah” yang menandai akhir dari pertarungan sengit di dunia mistik. Inilah bentuk sintesis yang akhirnya mampu menyatukan antara tesis dan antitesisnya.

KESIMPULAN
Setiap genre film merupakan sebuah bentuk representasi dari kemampuan atau kebutuhan dasar manusia (Rick Altman : 1999). Setiap orang mempunyai kebutuhan untuk merasakan senang, sedih, takut, marah dan lain sebagainya. Kebutuhan inilah yang akhirnya digali oleh orang-orang tertentu untuk mendapatkan keuntungan, salah satunya adalah pembuat film. Orang Indonesia juga demikian, mereka memiliki kebutuhan yang sama pula untuk dapat merasakan takut dan ngeri. Maka tidaklah mengerankan jika dalam beberapa tahun muncullah film horor Indonesia, sampai akhirnya pada tahun 1980-an genre film mistik yang memiliki kemiripan dengan film horor menjadi mendominasi bioskop di Indonesia.
Hadirnya film bergenre mistik di Indonesia memang tidak dapat dilepaskan begitu saja dari berbagai macam faktor sosial dan historis yang mendukungnya. Cara bertutur film baik melalui naratif maupun style yang dipergunakan dalam film mistik pada umumnya bukanlah sesuatu yang baru lagi bagi masyarakat Indonesia. Cerita-cerita semua itu sebenarnya telah ada di masyarakat sejak beratus-ratus tahun yang lalu melalui tradisi sastra lisan yang banyak berkembang di masyarakat. Hanya saja kali ini mitos yang ada tersebut dipindahkan ke dalam media yang berbeda, yaitu film. Diangkatnya narasi-narasi tradisional ke dalam film akhirnya menjadikan film mistik memiliki sisi dagang yang tidak kalah laku dengan pedagang kain di Pasar Tanah Abang.
Di satu sisi kita mengetahui bahwa setiap orang memiliki kebutuhan untuk ditakut-takuti dan di sisi yang lain orang Indonesia begitu dekat dengan segala bentuk keyakinan tradisional termasuk mistik yang menjadi menu utama dalam film mistik. Sehingga tidaklah mengherankan jika film mistik lahir, tumbuh kemudian berkembang pesat bahkan menjamur di kalangan penonton film Indonesia. Namun paling tidak film bergenre lokal mistik pada tahun 1980-an merupakan bentuk repersentasi keyakinan tradisional masyarakat. Tidak bisa dinafikan memang realitas yang terjadi di masyarakat mengenai fenomena menonton film mistik ini. Bahkan hingga sekarang, ketika telah terjadi banyak pergeseran dalam konsep film horor dan mistik Indonesia, banyak orang yang masih saja tertarik untuk menonton film horor ataupun mistik Indonesia yang selalu mengangkat setan-setan tradisional ke dalam gedung bioskop yang semakin modern (digital) atau melebihi modern?

REFERENCES
–    Capt. R. P. Suyono. Dunia Mistik Orang Jawa. LKiS : 2007
–    Edited Pam Cook & Mieke Bernink. The Cinema Book. BFI Publishing : 1999
–    JB. Kristanto. Katalog Film Indonesia 1926-2005. Penerbit Nalar : 2005
–    Rick Altman. Film / Genre. BFI Publishing : 1999
–    Roland Barthes, penerjemah: Ikramullah Mahyuddin. Membedah Mitos-mitos Budaya Massa. Jalasutra : 2007
–    Majalah Film. Edisi no.03  bulan  Feb-Mar 2006