Total Cinema Bazin dalam Mewujudkan Realita

Posted on April 30, 2009

0


Total Cinema Bazin dalam Mewujudkan Realita

Oleh : Puput Kuspujiati

PENDAHULUAN

A.    LATAR BELAKANG
Ketika Lumiere bersaudara pertama kali mempertunjukkan film di Grand Cafe Boulevard des Capucines Paris pada tanggal 28 Desember 1895, banyak penonton yang tiba-tiba keluar dari ruang pertunjukan dikarenakan ada sebuah kereta api yang seolah akan melintas di depan mereka. Padahal kereta yang mereka takutkan akan menabrak hanyalah sebuah tontonan film biasa -kala itu adalah luar biasa- yang dihasilkan dari sebuah imaji yang dihasilkan oleh adanya persistence of vision. Pertunjukan film untuk pertama kali yang menghebohkan itu merupakan momentum awal yang dapat –paling tidak- menandai kelahiran sebuah media baru yang mampu memberikan realitas yang baru pula, yang tentunya tidak dapat lepas dari peran teknologi didalamnya.
Fenomena lubang jarum yang dimiliki mesin jahit juga digunakan dalam cara kerja film untuk menghasilkan rangkaian gambar diam yang menjadikannya seolah bergerak. Itu semua berkat keingintahuan para pecinta kuda terhadap kenyataan bahwa ada saat-saat kuda menjadi terbang atau melayang di udara ketika berlari. Pembuktian saat-saat kuda dapat melayang di udara membuat mereka melakukan percobaan pengambilan gambar kuda yang berlari dari sisi samping kuda. Pekerjaan mereka tidak sia-sia, itu telah memberikan kontribusi yang cukup bermanfaat dalam pembuatan gambar sinematografis yang pertama dan dengan percobaan tersebut dapat dibuktikan kemudian bahwa ketika kuda berlari ia ternyata memiliki saat-saat terbang dan melayang di udara. Ini merupakan sebuah hal yang menakjubkan karena sebelum ada film tidak ada satupun media yang mampu merekam gerak dengan sangat detail seperti yang film dapat lakukan.
Kegiatan menonton film seolah memiliki kenikmatan tersendiri dibandingkan ketika menikmati media yang lain. Ada berbagai macam bentuk sensasi yang dapat dirasakan saat menonton sebuah film yang membuat penonton seperti benar-benar mengalami dan merasakan kejadian yang ada dalam film. Kondisi penonton yang dapat merasakan apa yang dirasakan oleh tokohnya inilah yang kemudian disebut sebagai identifikasi. Bahkan tidak jarang ada yang berlebihan, mereka ada yang menganggap segala kejadian dalam film yang telah ia tonton adalah sebuah realitas atau kenyataan yang benar-benar terjadi di dunia mereka, termasuk tokoh-tokoh yang berperan di dalamnya.
Kekuatan film dalam membentuk realita yang dapat ditangkap oleh mata manusia inilah yang menjadikan film sebagai sebuah media ”pengungkap realitas”, yang selama ini selalu dicoba untuk dicapai oleh berbagai media seni yang lain. Sebut saja seni lukis, berbagai aliran dalam seni lukis berkembang begitu pesat di Eropa, mereka memiliki satu obsesi yang selalu ingin diwujudkan, yaitu pencapaian atas sebuah ”realitas”. Hingga akhirnya pada akhir abad ke-19 film mampu mewujudkan realitas yang selama ini dicari dalam seni.
B.    MASALAH
Kemunculan film sebagai media baru menjadi sebuah perbincangan yang cukup menarik perhatian masyarakat dunia. Andre Bazin merupakan salah seorang yang mengamati segala kelebihan-kelebihan film dengan cara membandingkannya dengan media maupun seni-seni yang lain. Ketertarikan Bazin pada film telah dimulai pada sekitar tahun 1939 dimana pada waktu itu ia dan beberapa orang temannya sedang menjadi tentara. Motion picture atau film pada waktu itu seolah menjadi tempat pelarian diri banyak orang dari perang yang terus berkelanjutan, termasuk Andre Bazin di dalamnya.
Kemampuan yang dihasilkan hingga membentuk image sinematografi inilah yang membuat film menarik untuk dipelajari. Oleh karena itulah pada volume pertama buku Andre Bazin yang berjudul Qu’est-ce que le cinema? atau What is Cinema? ia menuliskan artikel The Ontology of the Photograpic Image yang membicarakan mengenai ontologi dari image sinematografi dalam film yang berfungsi sebagai ide besar yang akan mendasari tulisan-tulisannya ke depan. Dan ide mengenai film merupakan media yang paling objektif yang mampu memindahkan realitas menjadi satu ide pokok dalam pembahasan teori Bazin.
Bagi Bazin film mampu menghadirkan objektifitas yang berbeda. Kemiripan objek dalam realitas dengan imaji yang dibentuk oleh kamera adalah salah satu hal penting yang menjadikan film dapat merepresentasikan realita. Ditambah lagi dengan kedatangan suara ke dalam film yang menurut Bazin tidak akan merusak film namun dengan adanya elemen suara film akan semakin mendekati realita seperti apa yang dialami oleh kita sehari-hari. Ilusi dari Realita itu kini telah dapat dibentuk oleh film yang memiliki unsur gambar dan suara yang mirip dengan dunia aslinya.
Dari sini muncullah pandangan Andre Bazin yang menganggap bahwa film merupakan sebuah media yang sempurna dalam mengungkapkan realitas. Bazin menyebutkannya dengan ”total sinema”, dimana sinema adalah bentuk ilusi dari realitas yang telah secara instan direkonstruksi oleh alat yang secara mekanis menghasilkan film. Lantas bagaimana Bazin menilai total cinema dapat mewujudkan realitas? Bagaimanakah mekanisme dan cara kerja film hingga Bazin menilai film sebagai media yang paling objektif dalam mengungkapkan realitas yang ada?
C.    RUANG LINGKUP PEMBAHASAN
Membicarakan mengenai pemikiran Andre Bazin serasa tidak akan ada habisnya karena terlampau banyak permasalahan yang ia bahas mulai dari seni hingga permasalahan yang menyangkut film. Ketertarikannya pada film sebagai media baru membuatnya sering membandingkan film dengan seni yang lain. Bazin juga tidak jarang menjelaskan film dengan memulai pembahasan panjang lebar melalui pintu masuk seni kemudian dari barulah dia membahas film. Belum lagi sekian banyak tulisannya mengenai montage yang semakin memperbesar tema tulisan Andre Bazin. Oleh sebab itu perlu kiranya membatasi pembahasan yang akan kita bicarakan di sini agar tidak akan terjebak pada pembicaraan mengenai seni secara utuh.
Pada dasarnya tulisan ini secara inti lebih mengacu pada satu tulisan Andre Bazin dalam bukunya What is Cinema? Volume I terutama pada esainya yang berjudul The Onthology of The Photographic Image. Dimana tulisan tersebut Bazin banyak membicarakan mengenai objektifitas film dalam mengungkapkan realitas. Ketika membicarakan mengenai objektifitas film, seperti biasa Bazin juga membandingkannya dengan seni ataupun media yang lain. Dan dalam esai tersebut Bazin menggunakan perbandingan dengan media seni lukis yang kemudian bergerak pada pembahasan mengenai penemuan seluloid dalam fotografi.
Satu tulisan Bazin ini bagaimanapun memiliki keterhubungan -meskipun hanya sedikit- dengan tulisannya yang lain. Untuk membahas satu esai mengenai ontologi cinema kiranya diperlukan juga rujukan tulisan Bazin mengenai total cinema yang ada pada esainya The Myth of  Total Cinema sebagai pendamping yang dapat membantu menjelaskan apa yang dimaksud dalam pemikiran Andre Bazin mengenai ontologis cinema dan bagaimana itu dapat bekerja hingga menjadikannya objektif pada realita. Juga beberapa tulisannya  yang lain yang tentunya berhubungan dapat digunakan selama tidak terlalu menyimpang terhadap pembicaraan utama di sini.
Meskipun demikian perlulah kiranya apabila pembahasan ini menggunakan fotografi sebagai awal dan sekaligus pengantar untuk memasuki pembicaraan yang lebih jauh mengenai ontologi film yang pada akhirnya menjadikannya objektif dalam mewujudkan realita. Kemudian pembahasan dapat ditarik pada pemikiran Bazin yang dapat dikatakan sebagai wakil dari pendekatan realisme dalam teori film klasik. Teori film klasik memiliki permasalahan pada pertanyaan ”apa itu sinema?”. Disini dibicarakan film sebagai film, sebagai film yang –seolah- otonom pada dirinya sendiri. Kemudian muncullah Bazin dengan obsesi realitanya bahwa film merupakan representasi dari realita.
ISI

FOTOGRAFI SEBAGAI AWAL
Manusia memiliki kenangan yang selalu ingin mereka abadikan sepanjang hidupnya –bahkan seringkali melebihi hidup itu sendiri. Namun selalu ada waktu yang lama kelamaan akan memakan habis kenangan tersebut yang kemudian itu tidak akan menjadi abadi bagi siapapun. Yang ada hanyalah sebuah kenangan yang berada dalam pikiran dan ingatan seseorang, yang tentunya akan lenyap begitu saja apabila tidak ada cara untuk membuatnya “abadi”. Mungkin pembalseman mumi yang dilakukan pada masa kerajaan Mesir Kuno dapat dijadikan contoh yang paling kuno untuk tetap mengabadikan eksistensi mereka yang sudah mati pada dunia.
Adanya lukisan di gua pada awal peradaban juga dapat menunjukkan adanya usaha manusia untuk meneruskan memori yang mereka miliki. Perlahan-lahan lukisan yang ada di gua berpindah media menjadi di atas kanvas. Untuk dapat terus meneruskan memori yang ada dalam kehidupan diperlukan media yang mampu untuk mewujudkan itu dengan hasil semirip-miripnya dan dengan bentuk sereal-realnya. Oleh karena itu pada perkembangan lebih jauhnya kemudian muncullah berbagai gaya dalam seni lukis yang mencoba mengetengahkan realitas dalam setiap lukisan. Sebut saja aliran lukisan realisme, naturalisme, impresionisme dan lain-lain, semuanya memiliki satu keinginan yang terus mereka kejar yaitu “realita”.
Lukisan menjadi satu cara yang dapat dengan mudah didapatkan untuk mengabadikan peristiwa-peristiwa penting ataupun image sampai pada abad ke-19. Setelah itu hadirlah fotografi yang dapat mewujudkan impian itu secara lebih “sempurna” dibandingkan dengan seni lukis. Meskipun pada abad tersebut fotografi belum dapat dikatakan sesempurna saat ini dalam pengambilan gambar tapi setidaknya ada hasil foto yang dapat dikatakan memenuhi obsesi realitas para seniman kala itu. Pada akhir abad-19 fotografi mendapatkan perhatian lebih terutama ketika seluloid mampu memindahkan bentuk yang ada dalam dunia real menjadi sebuah reproduksi mekanik yang dilakukan oleh alat yang bernama kamera.
Kamera dan teknik fotografi mulai dikembangkan secara cukup signifikan terutama pada tahun 1860-an. Semakin populernya fotografi di masyarakat membuat semakin meningkatnya permintaan untuk dapat dilakukan pengambilan foto potret baik untuk perorangan ataupun keluarga dan beberapa permintaan untuk foto bentuk landscape atau pemandangan. Tidak dapat dipungkiri bila fotografi pada kala itu merupakan sebuah barang baru yang pantas untuk dikagumi dan di masyarakat fotografi sangat cepat dapat dinikmati oleh orang banyak. Ini mengingat banyak nama penemu atau juga ilmuan yang turut serta mengembangkan kamera maupun berbagai teknik fotografi.
Kehadiran kamera dan segala teknik fotografi yang ada, mau tidak mau telah mempengaruhi cara pandang banyak orang mengenai fotografi, terutama anggapan beberapa fotografer yang mengklaim bahwa fotografi merupakan salah satu bentuk seni yang baru atau bahkan yang paling ekstrim, kelanjutan dari seni lukis –yang itu artinya matinya seni lukis. Ini dikarenakan realitas yang ada dalam fotografi terasa paling dekat dibandingkan dengan segala bentuk dan aliran seni lukis, terutama yang pada waktu itu banyak berkembang adalah aliran impresionis. Kemiripan image yang dibentuk oleh fotografi mampu mengalahkan gambar yang dibentuk oleh para seniman lukis dari aliran impresionis yang dapat dikatakan sedang populer pada dekade tersebut, selain karena kemiripannya dengan kesan yang diterima mata.
Dengan kamera, gambar dan image dari dunia nyata kita ditangkap dan dihasilkan hingga menjadi bentuk image yang menyerupai aslinya, namun itu hanyalah bentuk image tiruan. Kata “kamera” berasal dari kata asli “camera obscura” yang dalam bahasa latin berarti ruang gelap atau dark room. Kamera obscura bekerja dengan mempergunakan konsep ruang gelap, dimana image gambar dari luar diterima dan diproyeksikan melalui lubang kecil di dalamnya kemudian cahaya yang masuk melalui lubang tersebut mengenai lempeng atau lembaran kimia. Lempengan ataupun lembaran kimia tersebut tentunya telah menggunakan bahan kimia yang sensitive terhadap cahaya, sehingga sesedikit apapun cahaya yang diterima tetap akan diteruskan dan diterima untuk dicetak. Dari sebuah kotak ajaib itu didapatlah image gambar yang dapat meng-capture moment secara permanent.
Bentuk foto yang ditampilkan tentunya masih berwarna hitam putih dan dengan proses pengambilan gambar yang cukup memakan waktu. Lempengan kimia yang sekarang menjadi bentuk seluloid juga membutuhkan waktu perekaman yang cukup lama. Seluloid yang kemudian terdiri dari resistant base dan emulsion base semakin fleksibel dan mudah untuk dipergunakan, tidak perlu memakan waktu yang lama untuk mengambil gambar. Ditambah lagi dengan cara kerja alat fotografi atau kamera yang dapat bekerja secara mekanik semakin memudahkan pengguna untuk dapat memindahkan image yang ada dalam dunia real ke bentuk gambar.
Hasil yang diterima dari fotografi ini memiliki kesamaan secara bentuk dengan apa yang ada dan dapat dilihat oleh manusia. Gambar yang dihasilkan dari perekaman itu juga memiliki detail yang sangat mirip dengan apa yang dilihat pada aslinya, baik itu dari segi tekstur benda maupun kedalaman ruang yang dibentuk (depth of field). Belum lagi masuknya elemen warna pada perkembangan teknik fotografi berikutnya yang membuatnya semakin mampu menambah realitas gambar dalam foto dan tidak hanya mirip dengan aslinya bahkan sama persis. Kemampuan foto untuk meniru bahkan mengimitasi bentuk dari dunia realita semakin membuatnya berbeda dengan bentuk media yang lain bahkan lukisan sekalipun.
Dengan semua inilah fotografi dianggap mampu untuk menghadirkan kembali realitas yang telah ada sebelumnya dan tidak dapat dibandingkan dengan media manapun -pada waktu itu-.termasuk seni lukis yang selalu ingin mencapai keberhasilan yang telah dicapai oleh fotografi yaitu realitas bentuk. Realitas bentuk seperti ini sepertinya hanya dimiliki oleh alat reproduksi mekanik yang berbentuk kamera yang menghasilkan foto yang berisi gambar atau image tiruan dari realitas asli benda.
KEUNGGULAN FOTOGRAFI DAN FILM
Seperti diketahui, Andre Bazin sering kali membandingkan film dengan media yang lain untuk menjelaskan keunikan dan kelebihan yang dimiliki oleh film. Namun bukan berarti di sini akan ada penjelasan panjang lebar mengenai film dengan teater ataupun sastra. Membahas mengenai ontology dari image fotografi tentunya itu akan sulit dijelaskan tanpa memanfaatkan media pembanding lain yang dapat dijadikan acuan atau rujukan. Tampilan gambar / image yang dimiliki oleh fotografi selalu dijadikan tandingan dari media seni lukis dengan kuasan cat minyak di atas  kanvasnya.
Segala bentuk momen kejadian mampu direproduksi oleh fotografi dan film melalui sistem kerja mekanis yang dimiliki oleh kamera obscura terutama kemampuannya untuk membentuk perspektif dan kedalaman ruang. Hal yang salau ingin didapatkan dari adanya perspektif adalah terbentuknya ilusi benda tiga dimensi yang memiliki panjang, lebar dan tinggi. Sehingga akan selalu menimbulkan kesan bahwa satu benda memiliki ketebalan tertentu layaknya benda yang ada dalam kehidupan yang real. Dengan adanya ilusi benda tiga dimensi ini paling tidak orang dapat meyakini bahwa gambar atau image yang mereka lihat mengacu pada satu benda tertentu yang sebelumnya telah ia kenali di kehidupan sehari-hari. Dengan adanya perspektif yang menghasilkan kedalaman dan ilusi tiga dimensi ini maka sebuah gambar tidak akan menimbulkan tafsir yang berbeda mengenai jenis benda tersebut, karena memang sudah jelas secara panjang, lebar dan tinggi.
Pada dasarnya istilah perspektif ini berasal dari kebudayaan Barat terutama pada karya-karya seni lukis Eropa yang banyak bermunculan pada masa Renaissance sekitar abad ke-15. Namun setelah diteliti lebih jauh konsep perspektif telah ada sebelum Barat memasuki era Renaissance yang kemudian berkembang lebih jauh hingga menjadi kiblat seni dunia. Dan memang benar jika konsep perspektif ataupun kedalaman ruang yang mengacu pada jarak antara satu benda ke benda lain telah ada jauh lebih lama sebelum dikembangkannya kamera ataupun kamera obscura oleh para ilmuan.
Bentuk perspektif yang paling tua banyak dijumpai pada lukisan gua ataupun pahatan yang berada di dinding atau relief-relief candi. Namun bentuk perspektif tersebut ternyata belum dapat menunjukkan adanya kedalaman ruang yang dihasilkan antara benda satu dengan benda yang lain. Kecenderungan bentuk perspektif yang ada pada masa itu lebih memiliki susunan ke atas bukan ke “dalam”. Tentunya ini tidak akan menghasilkan kesan kedalaman ruang dan umumnya bentuk perspektif ini digunakan oleh kebudayaan timur terutama pada hasil monumen, prasasti ataupun candi-candi.
Sedangkan pada perkembangan lebih lanjut perspektif yang lebih modern lebih banyak menggunakan susunan benda ke “dalam”. Yang dimaksud dengan susunan ke “dalam” adalah benda diletakkan dengan cara memusat pada satu atau dua titik tertentu. Sehingga akan didapatkan kesan kedalaman ruang atau perspektif yang lebih jelas, begitu pula dengan kesan ilusi benda tiga dimensi yang dihasilkan. Tetapi segala bentuk perspektif yang ada dalam lukisan manapun hanyalah sebuah metode penggambaran yang bersifat perkiraan semata dan sepertinya belum ada media atau juga metode penggambaran yang mampu menyamai perspektif dan kedalaman ruang yang mampu diterima oleh mata kita, selain fotografi dan film. Fotografi dan film melalui mata kameranya memiliki kemampuan untuk menangkap hal apa saja yang mampu ditangkap oleh mata manusia, sampai pada detail-detail yang bagi seni lukis ataupun media yang lain sulit untuk menyamai kemampuan ini.
Kebutuhan akan pencapaian ruang ternyata menjadi penting terutama sesaat setelah teknologi fotografi mampu memecahkannya melalui reproduksi mekanik yang dimilikinya. Banyak seniman lukis yang kemudian terpengaruh hingga menjadikan fotografi sebagai contoh dalam kreasi lukisan mereka, salah satu diantaranya adalah seorang pelukis asal Prancis, Edgar Degas yang lantas sering kali melukis kejadian-kejadian yang spontan dan bahkan tanpa pose, seperti apa yang telah sering dilakukan pada teknik pengambilan gambar dalam fotografi maupun film. Seni lukis tentunya juga memiliki tendensi yang sama untuk pencapaian gambar atau image yang real, sama seperti segala bentuk usaha banyak ilmuan untuk melakukan trobosan baru dalam pengambilan gambar pada fotografi dan film.
Sejak jaman dahulu pencapaian gambar hingga dapat menjadi sangat mirip dengan aslinya memang membutuhkan proses dan waktu yang lama dan juga dengan usaha yang tidak mudah. Terlebih lagi ketika semakin menggebunya keinginan manusia untuk mengkreasi dunia yang baru yang mirip dengan aslinya. Pada era modern sekitar abad-19 yang dapat dikatakan cukup canggih ini keinginan dan obsesi manusia untuk menghadirkan kembali realita “imajiner” ke dalam realita hidup atau yang dapat dikatakan dengan reproduksi sudah bukan menjadi satu permasalahan yang besar. Munculnya fotografi yang lantas kemudian disusul dengan hadirnya film telah mampu memecahkan permasalahan tersebut dengan mudah.
Hadirnya fotografi ataupun film jelas segala realitas dalam dunia nyata dapat dilakukan dan bukan hanya sampai pada pencapaian perspektif, kedalaman ruang dan ilusi benda tiga dimensi saja, tetapi lebih jauh lagi hingga menghasilkan ilusi gerak ke tengah-tengah penonton. Dengan adanya kesan gerak yang diterima oleh manusia maka ini akan memunculkan ekspresi dramatik dari gerak itu sendiri. Dan bagi Andre Bazin kesan gerak inilah yang akan membentuk dimensi ke empat dari teknologi fotografi terutama untuk film. Bukan hanya saja pencapaian ilusi bentuk tiga dimensi namun berkembang hingga mencapai pada tingkatan kesan gerak (movement).
Kebutuhan akan kesan gerak yang ditampilkan dalam sebuah media rupanya memberikan dampak psikologis yang berbeda dari sebelumnya yang hanya memiliki kedalaman ruang dan kesan benda tiga dimensi. Gerak merupakan satu hal baru yang baru dapat ditampilkan oleh teknologi fotografi. Melalui pengaturan terhadap kecepatan dan besarnya diafragma pada kamera, ilusi gerak dapat ditangkap dan direproduksi secara mekanik dalam ruang yang gelap. Kiranya perlu dijadikan catatan pula bahwa kesan gerak yang dihadirkan oleh teknik fotografi belumlah secara seutuhnya sempurna. Karena masih terlihatanya kesan gerak yang dihasilkan dalam foto.
Kesan gerak dalam gambar dan image yang dihasilkan fotografi bukanlah bentuk kesan gerak yang seperti kita pahami bersama namun lebih pada image gambar yang terkesan bergerak, artinya tidak ada objek atau benda yang terlihat benar-benar bergerak atau melakukan movement. Teknik pengambilan gambar dalam fotografi perlahan berkembang hingga yang disebut teknik panning pun belum dapat secara sempurna memberikan kesan bergerak dalam gambar yang bermedium foto.
Hingga sampailah pada masa dimana film menjadikan ilusi gerak dapat terlihat lebih “sempurna” daripada sebelumnya. Film ternyata memiliki kemampuan untuk merekam gambar sama baiknya dengan teknologi fotografi, karena pada dasarnya memiliki konsep dan mekanisme kerja yang hampir sama. Secara singkatnya film kemudian banyak disebut sebagai pertunjukan gambar bergerak atau juga sering disebut dengan motion picture. Barangkali ini merupakan sebutan film karena film merupakan satu-satunya media yang mampu merekam realitas ruang –seperti apa yang telah dilakukan oleh fotografi sebelumnya- secara sempurna sekaligus mampu menghadirkan kesan gerak (movement) yang tidak dimiliki secara seutuhnya oleh fotografi.
Kesan gerak yang ditimbulkan karena adanya ilusi dari rangkaian gambar yang bergerak ini, dihasilkan oleh film melalui proses kerja mekanik yang hanya dapat dilakukan oleh serangkaian teknologi yang berasa di dalamnya. Serangkaian teknologi seperti seluloid, emulsi, perangkat kamera, development yang baik dan proyektor, tentunya begitu menentukan dalam sebuah proses reproduksi image gambar. Ini berlaku baik pada fotografi maupun film. Hal yang terpenting dari aeluruh proses itu adalah kehadiran image gambar yang dihasilkan oleh barang-barang tersebut yang bekerja secara mekanik serta instant tanpa memerlukan sekian bakat dan kepandaian untuk melakukannya. Karena alat mekanik telah menggantikan itu semua.
Andre Bazin sangat mempercayai kekuatan alat reproduksi mekanik yang ada untuk mentransfer realita ke dalam bentuk media ketimbang kemampuan perorangan yang dalam pandangannya, sebaik dan sehebat apapun seorang pelukis tetap saja hasil reproduksi yang ia lakukan tetap memiliki nilai subjektifitas yang besar. Hasil yang didapat dari reproduksi fotografi maupun film dianggapnya lebih objektif dari seniman atau pelukis manapun. Seobjektif-objektifnya seorang pelukis membuat sebuah lukisan tetap saja akan selalu dijumpai subjektifitas pembuatnya, baik itu dari goresan bayangan yang ia bentuk atau detail tekstur dari objek itu sendiri. Sehingga dalam lukisan tidak ada objektifitas benda atau objek, karena yang ada merupakan bentuk image gambar yang diintervensi oleh kepentingan kreatifitas pelukis.
Untuk pertama kalinya obejek benda direpresentasikan bentuknya secara otomatis tanpa adanya intervensi dari pembuatnya seperti yang terjadi pada seni lukis. Kesubjektifan yang terjadi pada fotografi dan film hanyalah ketika proses pengambilan sudut gambar atau angle saja. Karena bagaimanpun seorang fotografer atau kameramen harus memilih dan menentukan objek mana yang akan dia ambil dan pergunakan yang tentunya sesuai dengan tujuan dan kepentingan fotografer ataupun kameramen. Bahkan kadang hasil yang diperoleh merupakan penggambaran dari kepribadian si pembuat. Dan bagi Bazin hal itu tentunya berbeda dengan subjektifitas “murni” yang dilakukan pelukis.
Kehadiran fotografer maupun kameramen dalam karya fotografi maupun film tidak dapat dirasakan oleh para penontonnya yang menikmati hasil karya. Ini berbeda dengan bentuk seni yang lain yang dalam karyanya masih begitu kental sentuhan pribadi sang kreator. Image gambar yang dihasilkan oleh alat-alat fotografi dapat dikatakan sangat natural layaknya menggambarkan fenomena alam yang sedang berlangsung seolah seperti dalam kenyataan. Oleh karena itulah alat-alat mekanik dianggap Bazin lebih dapat objektif dibandingkan dengan peran pribadi pembuatnya.
Peran lensa yang melekat pada kamera turut menentukan hasil reproduksi image fotografi dan film. Dengan lensa inilah kita dapat melihatimage dari objek secara lebih pasti dan tepat, tidak ada perkiraan maupun bentuk subjektifitas dari pembuatnya masuk. Image apa yang direkam, image itulah yang akan dihasilkan. Bagi Bazin hal ini karena image fotografi adalah objek itu sendiri yang berdiri pada satu waktu dan satu tempat, dan itulah juga yang dihasilkan oleh fotografi dan film. Segala image yang terbentuk sama bahkan persis dengan apa yang biasa kita jumpai di realita. Realita kini mampu diwujudkan, diulang atau bahkan dibentuk kembali engan adanya teknologi fotografi dan film.

FILM DALAM MEWUJUDKAN REALITA
Kehadiran film tentunya merupakan sebuah perkembangan lebih lanjut atas penemuan alat-alat perekaman image yang telah ada sebelumnya. Dengan adanya bentuk teknologi inilah maka fotografi dan film dianggap lebih mampu untuk menjelaskan dan menggambarkan sebuah peristiwa secara lebih jelas jika dibandingkan dengan media lukis.  Satu peristiwa penting atau bahkan istimewa jarang datang berkali-kali dengan cara dan kesan yang sama dapat dengan mudah untuk “diabadikan” dengan memanfaatkan fotografi ataupun film. Dengan menggunakan film segala bentuk objek dan peristiwa dapat “diabadikan”, dibalsem sebagai peringatan terhadap memori peristiwa atau objek yang istimewa.
Apabila fotografi hanya dapat memindahkan realitas bentuk atau ruang dan waktu ke dalam image foto, film juga mampu memindahkan lebih daripada itu, ada realitas gerak –bukan hanya bentuk- yang sepertinya akan sulit dilakukan oleh fotografi. Ketika satu peristiwa dalam realita terjadi pada satu waktu dan ruang tertentu, film mampu merekam semua kejadian itu sama persis sesuai apa yang telah terjadi sebelumnya yang telah terjadi pada masa lampau. Sehingga disini sangat memungkinkan terjadinya pengulangan memori maupun reproduksi pada realita yang sudah lalu.
Terimakasih kepada kemampuan retina mata kita yang telah mampu merekam gambar secara alami -tanpa bantuan alat mekanik apapun- selama sepersekian detik karena berkat adanya persistence of vision inilah kita semua dapat menikmati pertunjukan film terutama yang diputar di gedung bioskop. Film terdiri dari rangkaian gambar-gambar diam yang karena ada gerakan perputaran film pada proyektor membuatnya terlihat seakan-akan bergerak. Bentuk ilusi dari rangkaian gambar yang bergerak inilah yang kemudian orang menyebutnya dengan film, gambar yang bergerak.
Untuk pertama kalinya Andre Bazin memberikan statement sebelum menuliskan esai-esainya, ia menyatakan bahwa film merupakan sebuah bentuk pencapaian pada “kesempurnaan”. Kesempurnaan yang dimaksud oleh Bazin adalah kemampuan film untuk dapat menyerupai realita telah benar-benar menjadi nyata. Realita yang diwujudkan oleh film lebih pada realita ruang dan bentuk yang pada dasarnya bersifat fisik. Kemudian dijelaskan kembali oleh Bazin dalam tulisan yang berbeda bahwa “realisme yang menjadi inti dari film bukan hanya saja pada kemiripan bentuk atau sebuah realisme ekspresi belaka”. Ada yang lebih penting dari hanya sekedar realitas benda, ruang ataupun ekspresi pembuat, yaitu moving picture. Dengan adanya moving picture dalam film inilah yang membuatnya menjadi “sempurna” dan tidak ada media yang menyamai karakteristik yang dimiliki film.
Melalui tulisannya dalam The Ontologl of the Photograpic Image, Bazin juga menekankan bahwa realita dari film memang tidak hanya dibentuk berdasarkan perkiraan realisme fisik semata namun lebih kepada psikologis (What is Cinema? : 13). Dalam kerangka psikologis saat menonton film, penonton tidak begitu mempedulikan seberapa detailnya film mereproduksi realitas secara fisik. Namun perlu diingat jika penonton memiliki satu kepercayaan bahwa film yang ia tonton merupakan sebentuk reproduksi dari realitas yang ada. Mereka tetap dapat melihat film sama seperti bagaimana mereka melihat realitas. Penonton juga memiliki keyakinan saat ia menonton di bioskop, ia tahu bahwa film yang ia tonton merupakan hasil dari reproduksi mekanik yang belum tentu terjadi pula dikehidupan nyata. Sehingga sangat memungkinkan bila image maupun naratif yang mereka tangkap tampak tidak real atau diada-adakan atau bisa jadi juga didramatisir oleh pembuatnya yang secara sengaja seolah absen dan tidak dirasakan kehadirannya.
Namun ketika menonton film, penonton akan seolah benar-benar secara nyata melihat dan merasakan apa yang sedang terjadi di dalam film. Perguliran cerita yang ada dalam film mampu meyakinkan penonton bahwa apa yang telah mereka lihat adalah benar-benar terjadi alias “real”. Ada sebuah nilai dramatik yang terjadi ketika penonton menonton sebuah film, bukan hanya semata imitasi bentuk realitas dan kedalaman ruang yang terbentuk. Keterlibatan penonton secara psikologis ke dalam film dapat saja terjadi karena keobjektifan yang dibentuk oleh film. Keobjektifan tersebut seolah dapat diperoleh karena ketidakhadiran si pembuatnya dalam sebuah karya film -ini juga telah dijelaskan pada pembahasan sebelumnya.
Bukan lagi menjadi satu perkara yang mengherankan jika film mampu memindahkan realitas sehari-hari kita ke dalam bentuk gambar yang kemudian ditonton  oleh banyak orang. Seluruh bentuk gambar yang ada pada film diakui Bazin bukanlah realita itu sendiri. Semua itu adalah ilusi dari reproduksi mekanik yang sifatnya buatan atau artifisial. Karena apa yang kita lihat di film hanyalah sebentuk realitas yang hanya terbatas pada pita seluloid yang terpasang pada proyektor di gedung bioskop dan bukanlah realita yang dapat dijumpai di  kehidupan sehari-hari. Meskipun hal tersebut terkait dengan beberapa hal yang sangat penting yang harus diperhatikan.
Ada dua hal besar yang dapat dijadikan pedoman mengapa film sangat dekat dengan realitas, yaitu unsur naratif yang ada dalam cerita dan unsur figuratif yang turut mendukung di dalamnya. Struktur naratif cerita termasuk hal yang sangat menentukan dalam proses identifikasi penonton film. Dengan adanya identifikasi maka secara psikologis penonton telah -untuk sementara- meyakini apa yang terjadi dalam film adalah sebuah realitas yang kemudian disebut sebagai realitas naratif. Melalui realitas naratiflah penonton mampu untuk senantiasa mengikuti perjalanan cerita hingga akhir film. Segala unsur pembentuk naratif cerita baik plot, karakter, konflik, setting dan dialog dibuat senyata mungkin sehingga dapat meyakinkan penonton bahwa yang mereka lihat (seolah-olah) adalah sebuah realita kehidupan yang benar-benar terjadi.
Begitu pula dengan unsur figuratif yang begitu mendukung realitas dalam film seperti peran teknik fotografi yang mendukung image gambar yang dibentuk film maupun peran teknologi suara yang baru dipergunakan dalam film sekitar tahun 1930-an. Image gambar yang diadobsi dari fotografi hitam putih kemudian berkembang hingga dapat menghasilkan image gambar yang lebih colorfull seperti realitas yang kita biasa jumpai membuat penonton semakin merasa berada di dunia yang sama. Kemudian masuknya suara dalam film yang menimbulkan banyak pro dan kontra, justru ditanggapi Bazin dengan positif. Karena bagaimanapun ketika suara masuk dalam film maka pada saat yang sama realitas film akan semakin bertambah. Sehingga segala bentuk tampilan film baik dari segi fisik –gambar dan suara- sampai pada segi psikologi mampu mewujudkan realita yang selama ini diidam-idamkan banyak orang juga selalu menjadi obsesi para seniman.
Tampilan yang dihasilkan oleh film memang mirip dengan aslinya namun itu hanyalah sebuah ilusi semata yang tidak real. Realita film yang ditangkap oleh penonton hanyalah berada imajinasi pikiran penonton masing-masing. Atau dapat juga dikatakan sebagai bentuk kamuflase semata dan tidak benar-benar real dalam kehidupan mereka. Perumpamaan yang paling mudah adalah ketika kita berkaca di depan cermin. Apa yang kita lihat dari cermin tentang diri kita, ya itulah ”bentuk” ataupun tampilan dari diri kita. Sehingga yang terjadi dalam film merupakan hubungan antara model dengan cetakannya, yang hasil dari semua proses itu memiliki tampilan yang serupa bahkan mungkin sama dengan aslinya. Pada dasarnya konsep yang dimiliki film seperti fenomena bercermin ini telah dijelaskan  sebelumnya oleh Plato mengenai teori gua. Kemudian sempat pula teori ini dipergunakan oleh Baudry untuk menjelaskan teorinya mengenai ideological effect yang jika diruntut lebih jauh terkait dengan proses identifikasi penonton pada film.
Kemudian bentuk yang ditampilkan film ternyata telah begitu dikenal oleh penontonnya. Sehingga memang dunia ilusi yang dibentuk oleh film tetap menggunakan dunia nyata sebagai referensi. Dengan menggunakan referensi dari dunia realita, film mampu berkomunikasi dengan penontonnya yang notabene memiliki multi-teks di dalam diri mereka. Secara lebih jelasnya film pada dasarnya menggunakan realitas sebagai referensi untuk memberikan kesan ”real” kepada penonton, juga agar penonton memiliki kedekatan terhadap dunia ilusi pada film. Namun Bazin menolak anggapan bahwa film mengunakan realitas sebagai bahan mentah atau raw materialnya. Karena bukan hanya dunia realitas saja yang dapat menjadi bahan untuk menjadikan film sebagai media pembentuk realitas. Masih banyak aspek-aspek lain yang turut menentukan film dalam mewujudkan realitas. Ini juga telah dijelaskan sebelumnya.
PENUTUP

KESIMPULAN
Mungkin sudah menjadi sebuah obsesi setiap orang sejak jaman dahulu hingga sekarang untuk selalu dapat memperoleh sekaligus untuk menggenggam apa yang disebut dengan “realita”. Apabila pada masa lalu jasad manusia yang telah mati mencoba untuk tetap dipertahankan eksistensinya baik secara fisik maupun jiwa yang bersemayam dan salah satu cara tersebut adalah dengan membalsem jasad hingga menjadi mumi. Kini realitas tersebut dicoba kembali untuk diwujudkan menjadi kenyataan. Yaitu dengan film, segala bentuk realitas kini telah dapat direproduksi hingga sampai menyerupai aslinya.
Kebutuhan akan pengungkapan realitas juga disadari oleh Andre Bazin yang kemudian ia membawa isu mengenai realisme dalam film yang kemudian berkembang menjadi realism film theory. Apa yang telah dikemukakan oleh Bazin mengenai realitas dalam film merupakan sebuah pemikiran yang kontradiktif terhadap teori yang sebelumnya dikemukakan oleh Eisenstain dan kawan-kawan sebelumnya mengenai formalist film theory. Dalam pandangan formalist film theory, film dianggap sebagai sebuah seni dan memiliki permasalahan pada pencarian elemen dalam film yang membuat film sama dengan seni, sehingga film memiliki otonomi seni sendiri, yaitu sebagai seni film.
Bazin menilai bahwa film merupakan media yang memiliki keutuhan dan ketotalan dalam mewujudkan realitas jika harus dibandingkan dengan medium yang lain. Dia menggunakan konsep ontologis dalam fotografi untuk menjelaskan bentuk realita yang dihasilkan oleh film yang merupakan bentukan sebelumnya dari fotografi. Hadirnya film merupakan sebuah fenomena yang paling idealistik dari yang pernah ada sebelumnya karena di dalam media, film mampu menghasilkan tampilan yang sempurna. Sempurna dalam pengertian Bazin yang dimaksud adalah film mampu melakukan imitasi bentuk realitas layaknya lukisan bahkan melebihi itu. Kemudian film juga memiliki kedalaman ruang yang dikarenakan pemakaian lensa kamera. Lensa kamera mampu membentuk kedalaman ruang (perspektif) yang diinginkan oleh pembuatnya secara lebih objektif dan bukan hanya perkiraan seperti yang ada dalam lukisan. Sekaligus film memiliki sisi real yang tidak dapat dilakukan oleh seni dan media manapun yaitu dramatic impact.
Kesempurnaan inilah yang membuat Bazin menganggap hanya filmlah yang mampu menggungkapkan realitas kehidupan sehari-hari. Tentunya ini akan lepas dari intervensi pembuat film itu sendiri dalam merepresentasikan realita yang terjadi dalam masyarakat.

Daftar pustaka :
–    Andre Bazin. What is Cinema?. University of California Press : 1967
–    David Bordwell & Kristin Thompson. Film Art; Fifth edition. McGraw-Hill : 1997.
–    Dudley Andrew. The Mayor Film Theories. Oxford : 1976
–    Fiona MacDonald & Antony Mason. The Culture Book. Miles Kelly Publishing : 2003
–    Susan Hayward. Cinema Studies the Key Concepts. Routledge : 2000