A courts d’ecran en voyage

Posted on May 11, 2009

0


Pada 11 Februari 2009, Klub Kajian Film IKJ bekerja sama dengan A Courts D’ecran en Voyage. Program ini merupakan program regular CCF (Pusat Kebudayaan Perancis) di Jakarta yang memutar film-film pendek Perancis dan Indonesia. Dimas Jayasrana, programmer a court d’ecran en voyage, menjelaskan tentang terbukanya program ini bagi para pembuat film Indonesia. CCF Jakarta juga membuka kerjasama dengan siapa pun untuk memutar program film ini di mana pun. Mengenai pemilihan film, Dimas Jayasrana mengatakan bahwa film-film yang diputar dipogram ini dipilih untuk audiens yang luas, sehingga program didesain sedemikian rupa supaya mudah diterima, dengan batasan umur penonton 15 tahun ke atas.

Sebenarnya program seperti ini berfungsi untuk membuka ruang dialog bagi para pembuat film Indonesia dan Perancis. Apakah film pendek Indonesia harus seperti Perancis? Tentu saja tidak. Tetapi kita bisa melihat dari impresi penonton bahwa film pendek Indonesia dan Perancis itu sangat ‘njomplang’, alias berjarak sangat jauh, baik dalam hal teknik penceritaan, teknis, dan lain-lain. Film sederhana, seperti After-Shave, misalnya, memberikan impresi tentang persoalan negara/politik/sosial meski dilihat dengan sudut pandang yang sangat biasa.

Hal ini dikarenakan persoalan sejarah. Perancis memiliki sejarah sinema yang panjang, juga soal kemauan belajar. Pembuat film Perancis sangat mau belajar. Mereka menjadikan film pendek sebagai cara mereka untuk berkarir secara profesional. Dalam hal teknologi, Perancis sebenarnya cukup terlambat merespon teknologi digital. Mereka masih banyak menggunakan seluloid oleh karena itu, mereka banyak mencari referensi karya-karya digital karena ini medium ekspresi yang baru.

Baru pada tahun 2008, festival film Clermont-Ferrand mengadakan fokus Asia Tenggara, ketika yang lain sudah melakukannya jauh-jauh hari. Perancis agak terlambat melihat mazhab baru digital cinema. Indonesia sebenarnya bisa penetrasi ke pasar itu.

Nayla, peserta diskusi, bertanya apa saja pertimbangan yang dipakai dalam memprogram film. Dimas menjawab bahwa film-film yang dipilih harus menunjukkan range yang luas, film pendek yang bisa bicara banyak hal, dengan kalangan penonton yang beragam. Secara tematik, film-film ini relatif mudah dilihat/ditonton. Sebenarnya itulah tugas programmer: memikirkan penonton.

Nayla bertanya lagi tentang apakah digital dan seluloid itu sesuatu yang penting bagi Perancis. Karena dari kesan yang terlihat, transisi dari seluloid ke digital sepertinya sangat revolusioner. Nayla maklum pada romantisme Perancis dengan seluloid, tetapi sebenarnya film adalah medium baru yang memiliki bahasa ekspresi yang baru pula. Tapi dari fenomena ini terlihat bahwa language of cinema itu tidak untuk mengakomodasi medium.

Dimas mengatakan bahwa bahasa sinema bisa sama tapi aksennya berbeda. Artikulasinya beragam. Medium dan bahasa saling mengisi dan saling mempengaruhi. Digital dan seluloid jelas menghasilkan bahasa sinema yang berbeda. Uni Eropa baru pada tahun 2006-2007 membuat seminar mengenai skema baru sinema Eropa, dan ini lebih dipengaruhi kepentingan ekonomi.
Hingga sekarang, teknologi produksi digital sudah selesai, tapi untuk eksebisi, digital masih belum selesai. Perancis menargetkan pada tahun 2014 untuk mengubah sistem eksebisinya menjadi digital.

Tapi di sini memang ada persoalan kultur, yakni romantisme. Pembuat film sebagai seniman film sangat kuat di Perancis maka transisinya memang tidak semudah negara-negara lain, misalnya Korea. Digital kan lebih banyak dipakai oleh generasi baru. Amerika mengalami transisi yang sangat cepat karena ekonomi memegang penting dalam film. Sementara negara-negara yang kultur sinemanya lemah, seperti Indonesia langsung meloncat ke teknologi digital.

Lulu Ratna menanggapi bahwa di tahun 1990-an, film pendek di luar IKJ sangat sedikit diproduksi. Sekarang semua orang bisa bikin film. Banyak yang terjadi di sini (Indonesia, maksudnya). Menurut Lulu, sekarang merupakan kebangkitan kedua di mana film pendek mulai mendapat tempat. Indonesia memang menjadi negara yang menarik karena dalam 10 tahun banyak hal yang telah terjadi.

Pidi menanggapi, apakah merebaknya teknologi yang murah dan mudah ini bisa jadi masalah. Kata Lulu, justru ini iklim yang tepat ketika film yang bebar-benar bagus akan stand out dari film-film yang jelek. Ray memberi opini bahwa kondisi seperti ini sebenarnya alami. Di Amerika Serikat, banyak film low-brow yang diproduksi dan memang harus dibiarkan. Nanti akan terjadi seleksi alam.

Dimas menerangkan bahwa banyak faktor eksternal yang berpengaruh selama 10 tahun terakhir ini. Menurut Dimas, bisa saja saat ini disebut kebangkitan kedua. Kebangkitan pertama ditandai dengan kebebasan berproduksi, munculnya banyak sekali film pendek. Fase kedua, penekanan kuantitas akan berubah ke penekanan pada kualitas. Indonesia muncul sebagai kekuatan sinema karena kuantitasnya yang banyak. Produksi film pendek sekitar 720 film/tahun, hampir sama dengan Jerman. Pada tahun 2004, produksi film mencapai 800 film pendek.

Tetapi seleksi alam terjadi. Muncul orang-orang yang konsisten atau orang-orang yang memang berbakat. Kita bisa bertanya sekarang, berapa film Indonesia yang masuk kompetisi internasional. Faktor-faktor eksternal bisa jadi ironi. Semua orang punya hak yang samauntuk membuat film. Ini risiko demokrasi. Siapa saja boleh bikin film. Tetapi adakah jaminan mereka akan survive? Tidak ada jaminan.

Ray, peserta diskusi, berkata bahwa film pendek sebenarnya sangat efektif untukb ercerita. Film pendek memiliki nilai komersial yang kecil. Orang bikin film pendek tidak untuk mencari untung. Nature film pendek adalah sebagai laboratorium, eksperimentasi medium maupun tema/cerita. Jadi tidak ada beban. Tetapi ini kan tergantung siapa yang menggunakan medium. Dan tidak ada bioskop untuk film pendek.

Dimas menjelaskan bahwa di Eropa, TV-TV memutar film pendek, jadi ada industrinya tersendiri. Di Indonesia, kondisinya sangat berlainan. Di berbagai workshop, kita masih banyak mendapat pertanyaan tentang belajar film pendek. Padahal sumber informasi ada di mana-mana. Jadi bisa saja kita mengambil kesimpulan bahwa mereka yang punya pengetahuan tidak melakukan transfer.

Vero bertanya, apa peran sekolah film sendiri dalam perkembangan film pendek Indonesia. Dimas menjawab bahwa pada tahun 1999-2002, slogan video is not cinema masih kencang terdengar. Garin meragukan digital cinema pada tahun 1997. Hal ini karena salah satunya, dengan video, IKJ tidak eksklusif lagi sebagai pencipta film. IKJ sendiri tampak ingin menyikapi ledakan teknologi ini tetapi tidak memungkinkan. Tidak ada policy yang jelas di tingkat pemerintah.

Dulu ada gerakan sinema 8 di LPKJ. Gerakan ini memutar film-film pendek di kampung-kampung, membuat festival film pendek 8mm, dan menyelenggarakan forum film pendek (1982). Pada tahun 1998, terjadi peleburan eksponen sekolah film dengan komunitas dalam bentuk Konfiden sehingga perdebatan tentang polarisasi sekolah film dan komunitas tidak relevan lagi.

Posted in: Memento