Arkeologi Media

Posted on May 11, 2009

0


Pada 14 Januari 2009 Klub Kajian Film IKJ mengadakan diskusi tentang arkeologi media, terutama dalam kaitannya dengan pre-cinema. Ekky Imanjaya dengan artikelnya mengemukakan pentingnya membahas soal sejarah sinema. Selama ini ada 3 pendekatan dalam penulisan sejarah sinema:
• model klasik, yang mengukur sejarah dari pencapaian-pencapaian estetik, contoh:Brassilac
• teleologis, dengan pencapaian realitas, seperti yang dicoba oleh André Bazin
• sejarah ideologi, seperti Thomas Elsaesser, berasal dari arkeologi

Perdebatan soal arkeologi ini kini menjadi sesuatu yang penting dengan dasar pemikiran bahwa dispositif (cinematic apparatus existed before the camera). Tak terhindarkan bahwa istilah arkeologi merujuk pada istilah yang juga digunakan oleh Michel Foucoult.

Pada tahun 1978, ada pertemuan untuk meredefinisi sejarah film. Sejarah ini kemudian lebih mengacu pada sejarah alat-alat/cinematic apparatus. Kasus Lumière misalnya. ‘Penemuan’ Lumière sebenarnya lebih berupa pertemuan antara cinematic apparatus dalam sebuah event. Pendekatan sejarah yang demikian memberi konteks pada perkembangan istilah ‘expanded cinema’.

Selama ini sejarah film selalu dilihat sebagai sesuatu yang linear atau di sisi lain, sering dilihat bersifat teleologis (film sebagai representasi realitas Bazin). Maka arkeologi sinema melihat di satu sisi, sejarah sinema, dan di sisi lain, fenomena expanded cinema. Bagi Bazin, pertanyaan masih, « What is cinema ? », sementara bagi Elsaesser, « Where is cinema ? » dan bagi Wedel,”When is cinema?”. Analisis Wedel ini berkaitan dengan tulisan Gunning tentang cinema of attractions.

Pembahasan yang tak luput dari arkeologi sinema adalah phantasmagoria, sebuah piranti proyeksi (seperti wayang) tetapi diproyeksi dari belakang. Phantasmagoria sering dilihat sebagai pre-cinema di Barat. Pengertian ini mengandung di dalam dirinya 3 definisi proyeksi:
• projection as a cultural practice
• projection as mental and physical activity
• projection as psychoanalysis

Ekky Imanjaya dan peserta mendiskusikan kemungkinan wayang di Indonesia sebagai salah satu pre-cinema apparatus. Arkeologi sinema memungkinkan pembacaan yang demikian. Pertanyaan-pertanyaan soal cinema apparatus dan wayang apparatus mengemuka. Tetapi dalam beberapa hal, proses menonton orang Indonesia, misalnya layar tancap bisa dilihat sebagai expanded cinema dengan pertanyaan tentang ‘where is cinema’ menjadi penting.

Sebenarnya, menurut Ekky, diakuinya istilah arkeologi yang berakar dari definisi Foucoult berusaha untuk mengangkat narasi-narasi kecil karena hingga sekarang, sejarah sinema selalu dilihat dari satu perspektif, yakni perspektif Barat. Jadi arkeologi sinema yang diinisiasi oleh Thomas Elsaesser ini berusaha untuk mendekonstruksi sejarah sinema (Barat) dan menyajikan sejarah sinema sebagai sejarah alat (cinematic apparatus). Studi ini tidak hanya untuk melihat ke sejarah di belakang, tapi juga melihat ke depan, di tengah meledaknya berbagai piranti menonton film. Studi-studi arkeologi ini bermanfaat dalam membuka ruang-ruang baru dalam studi sinema.

Advertisements
Posted in: Memento