BIENVENUE A PURBALINGGA FILM FESTIVAL 2009!

Posted on June 6, 2009

1


21-23 Mei 2009 lalu dua eksponen Klub Kajian Film IKJ (saya dan Puput) berkesempatan menghadiri Festival Film Purbalingga yang menginjak tahun ketiganya. Sangat disayangkan partner kami tercinta, Vero, sedang berada di Korea. Meskipun sudah merengek ingin ikut juga ke Purbalingga, niat tersebut terpaksa diurungkan karena belum ditemukannya penerbangan langsung Seoul-Purbalingga. Tanggal 21 Mei, kami berangkat dengan kereta Purwojaya dari stasiun Gambir tepat pukul 05.45 WIB. Satu gerbong bersama salah satu eksponen Boemboe.org yang hanya bisa meringis pasrah karena partnernya ketinggalan kereta dan kemudian terpaksa harus menyusul naik bus.

Setelah sekian puluh lagu, sekian belas papan nama stasiun, sekian buah terowongan, dan sekian kilometer rel, kami tiba di stasiun Purwokerto dan melanjutkan perjalanan dengan taksi menuju Purbalingga. Pengemudi taksi hanya menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah ketiga penumpangnya yang terkesima oleh pedagang celengan tanah liat dan sempat berniat berhenti untuk menawar tiga celengan berbentuk strawberry. Namun, menyadari ketiadaan ruang untuk membawa pulang barang apapun ke Jakarta, niat itu pun terpaksa diurungkan. Kurang lebih pukul 13.00 WIB kami pun tiba di Hotel Kencana, salah satu lokasi dimana festival film ini dilangsungkan (Satu lokasi lagi berada di Rumah makan Nony). Dan dua jam kemudian kami sudah berada di sebuah depot kecil di salah satu sudut kota Purbalingga, mencicipi es duren yang terkenal itu. Sungguh semangkuk surga kecil yang mengobati obsesi tak terpenuhi kami terhadap celengan strawberry.

Pukul 19.30 gong di aula hotel Kencana dipukul satu kali, dua kali, dan akhirnya tiga kali. Berbaris serapi sebisanya, kami mengantri mengambil karcis tanda masuk ke aula tempat pemutaran film. Ketika kami tiba, aula masih belum terlalu penuh. Namun, dalam waktu setengah jam, para penonton mulai memenuhi kursi hingga hampir semuanya terisi, termasuk oleh Bupati Purbalingga dan jajaran stafnya yang duduk di deret terdepan. Hanya selama setengah jam saja. Setelah basa-basi memberikan sambutan kedua mengekor sambutan direktur Festival Film Purbalingga, yaitu Bowo Leksono, rombongan Bapak Bupati pun keluar dari ruangan. Mungkin sedikit merasa tak nyaman setelah pidato Bowo yang kurang lebih menyentil kembali konflik antara JKFB dan Pemda.

Acara pembukaan festival diikuti dengan pertunjukan singkat musik tradisional dari perangkat lesung yang diiringi drama singkat dan tarian rakyat. Kemudian diputarlah tiga buah film pendek hasil karya filmmaker Purbalingga. Yang pertama, Kado Untuk Kakek adalah karya murid SLTP yang cukup menarik. Meskipun penggarapannya masih sangat amatir, tetapi kepolosan bertuturnya, ide yang ingin disampaikan, dan cita rasa lokalnya, semua menyatu menjadi sebuah film pendek yang cukup menghibur.

Dilanjutkan film lain berjudul Apa Sing Kowe Goleti, Lastri? yang kembali mengetengahkan problem-problem dan dialek-dialek lokal yang kental. Dengan penggarapan yang lebih baik dan lebih terdesain, film ini mencoba mengangkat isu kesulitan ekonomi pasutri muda hingga akhirnya mendorong sang istri pergi bekerja menjadi TKI. Romantisme naïf dan lagi-lagi lelucon lokal tampil di layar. Film terakhir, berjudul Petung, sedikit lebih ajaib dibandingkan kedua yang lain. Dibuka dengan monolog panjang seseorang yang mengenakan beskap dan destar dalam bahasa Jawa Alus dalam rangka menjual peralatan musiknya (sitar) kepada seorang pedagang bekas yang luar biasa perhitungan. Maka dialog tawar-menawar pun terjadi antara sang pemilik sitar dalam bahasa halus dan dramatis a la pemain Ketoprak dengan pedagang yang tak sabaran dan kasar. Begitu singkat, tetapi lumayan memikat.

Acara pembukaan Festival selesai pukul 22.00 WIB. Setelah pemutaran, para tamu yang berasal dari berbagai kota merubung aula depan, melihat-lihat stand dari berbagai komunitas film daerah untuk sekedar berburu pin (seperti yang dilakukan penulis) maupun saling mengobrol dengan tamu-tamu lainnya. Wilayah obrolan pun masih terbatas pada aktifitas ramah-tamah antar komunitas, panitia, maupun tamu-tamu lainnya.

Keesokan harinya, tanggal 22 Mei 2009, kami berdua adalah yang terawal membuka stand di atas meja berstiker tanda FFTV IKJ. Menggelar beberapa buku dari FFTV IKJ Press untuk dijual dan beberapa film karya mahasiswa IKJ dengan stiker ‘Screening By Request’ di atas meja, ditemani laptop untuk memutar film lengkap dengan speakernya dan satu buah laptop lain untuk menampilkan beberapa website terkait mengenai FFTV IKJ. Di dalam aula sendiri diadakan workshop kecil untuk para guru dengan tema Film Sebagai Media Belajar. Tidak terlalu banyak peserta yang tampak dan hanya beberapa saja yang sempat mampir ke stand untuk melihat film pendek di stand kami.

Sementara saya menjaga stand, rekan saya Puput mewakili untuk hadir dalam rapat temu komunitas di Rumah Makan Gama tak jauh dari hotel. Menurut kisah yang dilaporkan Puput, persoalan-persoalan yang dibahas dalam rapat panjang tersebut lebih mengetengahkan problem-problem khas komunitas film di berbagai daerah. Soal kelangkaan fasilitas, problem akses, hingga berbagai konflik yang muncul dengan pemerintah setempat. Agendanya adalah untuk sharing dan menuju sebuah jaringan antar komunitas yang diharapkan bisa mengatasi problem-problem itu bersama.

Pemutaran film hari itu dimulai pukul 14.00 WIB dan aula sebagian besar masih dipenuhi oleh tamu-tamu dari berbagai komunitas yang memang menginap di hotel Kencana. Baru pada pemutaran pukul 19.00 WIB warga Purbalingga yang sebagian besar adalah anak-anak SMA pendukung film sesi kompetisi dari SMA masing-masing datang. Ada lima film karya murid SMA yang dikompetisikan dan diputar malam itu.

Sayangnya, penulis ketinggalan pemutaran film pertama yang berjudul Nandur Duwur, Mendem Dalem. Film kedua yang berjudul Bumi Masih Berputar dibuat dengan teknik yang sederhana dan mengangkat kisah percintaan khas remaja. Film ketiga berjudul Kopdar, sayangnya memiliki kualitas imaji yang tidak terlalu bagus. Berkisah tentang fenomena kopi darat dari chat room internet yang berujung dengan tokoh psikopat, penculikan, dan pembunuhan. In sum, u can say that it was Hard Candy (Sundance, 2004) wanna-be.

Dua film terakhir mungkin adalah yang paling menarik dalam sesi kompetisi tersebut. Film keempat berjudul Nyarutang (Nyaur Utang). Bertumpu pada daily light dan teknik handheld kamera serta konsep produksi super-mini kru, film ini berkisah tentang seorang pemuda pengangguran yang kerjaannya nongkrong di tepi jalan. Suatu hari ia menemukan dompet jatuh dan menggunakan uang di dalamnya (RP 2000) untuk membeli rokok. Namun, saat melihat identitas sang pemilik dompet yang mana seorang gadis yang cukup manis, pemuda itu berpikir untuk mengembalikan saja dompet tersebut. Problemnya adalah, ia sudah menggunakan sebagian uang milik gadis itu. Maka dengan kreatifitas dan kepolosannya, ia berusaha menyelesaikan problem hutangnya tersebut agar tetap bisa mendapat simpati sang gadis.

Sementara film terakhir yang berjudul Sandal Jepit mengundang derai tawa sama membahananya dengan Nyarutang. Sandal Jepit berkisah tentang seorang pemuda yang terus-menerus kehilangan sandal jepitnya karena berbagai hal. Meskipun begitu, ia terus-menerus tak putus asa berkreasi memodifikasi sandal jepitnya demi mengantisipasi segala peristiwa kehilangan yang telah terjadi sebelumnya. Pun, di akhir ia tetap tak berhasil mengalahkan ‘takdir’ sang sandal jepit dalam mengacaukan hidupnya.

Kedua film terakhir mendapat sambutan paling ramai dari penonton. Dengan mengandalkan lelucon dan dialek-dialek lokal, tokoh yang kreatif meskipun naïf, serta tema slice-of-life, sebenarnya keduanya tidak tampak mencolok dalam menunjukkan perbedaan mereka. Perbedaan paling mencolok mungkin dari durasi dan plot. Nyarutang memiliki durasi lebih singkat dan mengandalkan plot yang lebih mengalir serta terkesan spontan. Sementara Sandal Jepit berdurasi lebih panjang dan mengandalkan model plot repetitif.

Keduanya sama-sama menggunakan metode surprise di akhir cerita untuk memikat hati penontonnya. Nyarutang menggerakkan surprise dengan spontanitas, sementara Sandal Jepit meramu suspense dan klimaks dengan penuh perhitungan dalam mengantar penonton kepada surprise. Hal lain yang menjadi pertimbangan mengapa keduanya sama-sama dianggap menarik mungkin juga karena tema keduanya yang tak jauh berbeda. Mengangkat sebuah problem keseharian yang lokal dengan solusi yang sama lokalnya. Sepintas begitu sederhana, tetapi usaha mereka mempertahankan konsep keutuhan lokalitas tersebut patut diacungi jempol. Hingga rasanya cukup bisa dipahami alasan panitia memilih kedua film itu diputar di akhir sesi. Hasil kompetisi kurang lebih sudah bisa ditebak meskipun pengumuman pemenang baru diadakan keesokan harinya.

Paska pemutaran sesi kompetisi, aula depan dibanjiri anak-anak SMA. Stand kami pun mulai banyak dilirik. Terutama oleh anak-anak yang penasaran dengan film-film karya mahasiswa IKJ dan isu soal sekolah film gratis di IKJ untuk pemenang kompetisi film pendek di Festival ini. Kami memutarkan semua film pendek yang ingin mereka lihat dan memilih tidak berkomentar banyak soal isu yang mereka tanyakan.

Hari ketiga, tanggal 23 Mei, seperti biasa stand kami adalah stand terawal yang muncul di aula depan. Di aula dalam sedang diadakan workshop singkat mengenai dokumenter yang lebih banyak dihadiri anak-anak SMA yang rupanya banyak yang menginap di hotel sambil menunggu pengumuman pemenang program kompetisi malam harinya. Menjelang siang beberapa dari mereka sudah berkumpul dan bolak-balik ke stand untuk menonton beberapa film mahasiswa IKJ.

Pukul 14.00 WIB pemutaran sesi kompetisi kedua diadakan di dalam aula. Kali ini sesi kompetisi film dokumenter hasil karya workshop murid-murid SLTP. Namun, keramaian di stand tidak memungkinkan kami berdua menghadiri pemutaran. Tamu-tamu lain mulai datang dan memilih berbagai film untuk ditonton di stand. Hampir semuanya menanyakan apakah film-film tersebut bisa dibeli dan berharap bisa meskipun kami terus-menerus meyakinkan bahwa kami bukan pemegang hak untuk menjual film-film tersebut. Beberapa film mahasiswa IKJ paling populer yang terus-menerus dipilih para pengunjung untuk diputar di stand adalah Fronteira (dir: Emil Heradi) dan Ganco Cola (dir: Erik Wirawan).

Karena hari itu adalah hari terakhir kami di Purbalingga (satu-satunya tiket yang tersisa untuk kembali ke Jakarta sebelum senin hanya malam sabtu), stand hanya buka hingga pukul 18.00 WIB. Pukul 19.30 WIB taksi pesanan sudah datang menjemput untuk membawa kami ke stasiun Purwokerto dan maka pergi lah kami meninggalkan Purbalingga tepat saat acara pengumuman pemenang kompetisi baru dimulai.

A LIL LEFT NOTE: Purbalingga dan Wisata Kuliner

Tentu saja daya tarik Purbalingga beberapa hari itu tidak hanya terbatas pada festival filmnya. Tetapi juga dengan iming-iming wisata kulinernya yang sangat menarik karena hampir semua tempat bisa ditempuh dengan becak bertarif flat Rp 5000.

Selain es duren yang terkenal itu, kami juga menemukan beberapa makanan lain yang patut di-review dalam wisata kuliner kami. Berikut daftarnya:

1. Soto Kriyik (berada di kompleks jajanan Kya-Kya Mayong – nama yang menurut kami sangat orisinil dan penulis berani bertaruh pasti pertama kali ditemukan oleh seorang tokoh manga)

2. Tahu Gecot (salah satu varian makanan khas jawa yang melibatkan tahu, ketupat, dan sambal kacang)

3. Mendoan Eco 21 (made in Purwekerto – sambel kecapnya Te-O-Pe Bed lah…)

4. Getuk Goreng rasa orisinil/duren/coklat (idem, made in Purwokerto juga maksudnya)

5. Lanting (snack berbentuk cincin dari singkong)

6. Kripik Emping (memang sih emping bisa ditemukan dimana-mana, tetapi menurut salah satu eksponen Boemboe yang ingin dirahasiakan identitasnya kripik emping ini jauh lebih tebal dan gurih dan karenanya masuk kualifikasi sebagai oleh-oleh)

7. Mixed Kripik (Gadung dan Lanting – sebenarnya sih penulis curiga ini semacam produk gagal mengingat hanya ada satu bungkus jenis ini di antara deretan bungkus-bungkus lain yang hanya berisi kripik gadung saja)

8. Nopia Pandan (varian dari bakpia, pia-pia, latopia, maupun kue bulan. Intinya sama, berisi kacang hijau)

9. Jenang tape/ sirsak (semacam dodol dengan kemasan yang berbeda)

10. Sroto (Sebenarnya sih ini hanya nama lokal dari soto. Letaknya tepat di sebelah depot es duren di depan Kodim Purbalingga).

Advertisements
Posted in: Memento