CINEMA NOVO BRAZIL

Posted on June 6, 2009

0


Setelah pemutaran pertama tanggal 19 Mei 2009 lalu, minggu berikutnya, yaitu tanggal 26 Mei, Klub Kajian Film IKJ mengundang dua mahasiswa film Brazil, yaitu Camila dan Leon untuk kembali memutar film diikuti diskusi singkat mengenai Cinema Novo di Brazil.

Film yang diputar sebelum diskusi berjudul Black God, White Devil yang merupakan karya Glaubert Rocha, salah satu eksponen penting Cinema Novo. Dengan mengangkat tema agama dalam sentuhan genre western, film ini berlatar belakang suasana politik Brazil pada abad 18 dimana muncul perubahan pemerintahan dari Monarki ke Republik. Dalam situasi ini, muncul kelompok-kelompok yang menolak bentuk pemerintahan Republik, termasuk di dalamnya kelompok-kelompok agama. Muncul semacam situasi dimana rakyat miskin berpaling pada pemimpin agama mereka untuk memberontak sementara di sisi lain juga muncul kelompok revolusi lain yang berisi kaum intelektual kiri yang menginginkan bentuk negara sosialis.

Menurut Leon, film ini adalah salah satu film pertama Cinema Novo dan diterima dengan sangat baik oleh publik Prancis. Dianggap dipengaruhi oleh Neorealisme Italia dan juga Nouvelle Vague, Leon cenderung lebih melihat karateristik Neorealisme Italia dalam film-film Cinema Novo dibandingkan Nouvelle Vague. Terutama berkaitan dengan bagaimana hampir semua film-film tersebut diambil tanpa keluar dari Sertao (sebuah daerah di Timur Laut Brazil). Ada ekspresi kesadaran penggunaan setting yang sama dalam Cinema Novo dan Neorealisme Italia.

Camila memulai penjelasannya mengenai bagaimana Cinema Novo muncul yang ditandai sebagai upaya memproduksi film-film baru di Brazil yang berbeda dari kecenderungan film-film sebelumnya (1950an) yang lebih banyak menggunakan sistem studio. Para sutradara Cinema Novo shooting di luar studio, memakai kamera yang lebih kecil dan lebih fleksibel untuk bergerak, memakai banyak aktor amatir, dan mengangkat tema-tema sosial seperti kemiskinan. Penggunaan bahasa-bahasa filmis seperti long scene maupun cutting yang dinamis didapatnya dari pengaruh Novelle Vague. Juga mengenai pengaturan scene yang tidak hanya berorientasi mengakomodir cerita, tetapi juga sebagai alegori maupun peletakkan simbol-simbol tertentu. Pada level agenda politiknya, Cinema Novo ingin mempengaruhi penonton untuk melakukan revolusi.

Leon menambahkan bahwa meskipun film-film tersebut bermaksud menjauhi karateristik film-film Brazil sebelumnya yang mengadaptasi gaya Hollywood, tidak dipungkiri ia juga mengadaptasi salah satu genre mereka yang disebut genre western dengan memodifikasinya berdasarkan ciri khas Brazilian. Ini merupakan karateristik yang sama seperti yang dilakukan Nouvelle Vague terhadap genre Noir.

Ibaw yang menjadi moderator diskusi menggarisbawahi beberapa hal seperti bagaimana film Black God, White Devil ini merupakan salah satu film terpenting Cinema Novo yang menggambarkan sebuah reaksi sosial pada masa transisi bentuk pemerintahan di Brazil. Dengan menolak kecenderungan Hollywodian dalam sinema Brazil sebelumnya, Cinema Novo mengeksplorasi usaha-usaha untuk menjadi sinema Brazil. Menurut Ibaw, tentunya Brazil dan Indonesia sangat berbeda. Namun, ada sedikit persamaan situasi sosial dan budaya yang bisa menjadi bahan diskusi.

Pertanyaan pertama muncul dari Vero mengenai dari generasi apa para filmmaker Cinema Novo in berasal? Apakah mereka filmmaker-filmmaker yang sebelumnya juga merupakan bagian dari sistem-sistem produksi studio ataukah para mahasiswa film, misalnya? Kemudian bagaimana caranya hingga apa yang mereka lakukan bisa disebut sebagai sebuah gerakan?

Leon menjawab bahwa para filmmaker Cinema Novo bukan bagian dari industri film Brazil saat itu dan langsung saja membuat film independen mereka sendiri. Tidak ada sekolah film di Brazil pada saat itu dan juga tidak ada yang pergi sekolah keluar negeri untuk belajar film. Namun, para filmmaker Cinema Novo ini semuanya adalah orang-orang kaya yang punya akses untuk belajar secara otodidak mengenai film, filsafat, maupun kondisi perfilman dunia saat itu. Revolusi pertama yang mereka lakukan adalah dengan menolak shooting di Sao Paulo maupun Rio de Janeiro yang merupakan dua kota utama di Brazil dan justru memilih shooting di Sertao.

Pertanyaan kedua dilontarkan oleh Ibnu, mengenai kedekatan Cinema Novo dengan Neorealisme Italia. Ia membandingkannya dengan sutradara Roberto Rosellini yang punya kecenderungan membuat film tanpa skenario dan lebih menekankan pada improvisasi lapangan. Sementara ia melihat film yang ditonton tadi justru sangat kuat gaya teatrikalnya, dengan pengaturan dialog yang ketat.

Camilla menjawab bahwa pilihan shooting based on script merupakan pilihan personal seorang sutradara. Namun, ada satu hal yang ia suka dari film tadi bahwa ada keminiman penggunaan dialog sepanjang film sebelum tokoh Corisco muncul.  Memang setelah itu, tokoh Corisco banyak bicara yang kemudian bisa dikatakan ia mengatakan apa yang sebenarnya ingin dikatakan filmmakernya. Namun, ini sendiri cenderung bersifat improvisasi. Setidaknya ini diasumsikan jika kita benar-benar mempercayai pengakuan para filmmaker Cinema Novo yang berpegang pada moto: kamera di tangan, ide di kepala. Kecenderungan saat pengambilan gambar di lapangan memang sangat bebas. Baru saat proses editing pemikiran untuk mendesain film mereka mempengaruhi berbagai keputusan editing sesuai dengan berbagai teori-teori filmis yang mereka tahu.

Menjawab pertanyaan Vero, Camila menambahkan fakta bahwa para filmmaker Cinema Novo memang mendekalarasikan dirinya sendiri sebagai sebuah gerakan. Mereka melabeli apa yang mereka lakukan sebagai semangat perlawanan kaum muda terhadap kaum tua. Orang-orang ini sangat sadar posisi politik film dalam mengkritik sebuah situasi sosial, terutama saat pemerintahan diktatorian dimulai tahun 1964 dan sensor mulai memegang kewenangan besar (dimana juga muncul gerakan lain bernama sinema marjinal) saat itu. Orang-orang ini ingin mengkritik ‘diamnya’ rakyat Brazil saat kudeta politik saat itu.

Ray kemudian menanyakan mengenai sistem eksibisi film-film Cinema Novo sendiri. Dimana ia diputar dan bagaimana ia diterima oleh penontonnya?

Leon menjelaskan satu fakta menarik bahwa pada perkembangannya, Cinema Novo justru jauh dari masyarakat Brazil sendiri. Mereka jauh lebih dikenal di Prancis dan Italia. Bahkan meskipun ada komitmen dari Cinema Novo untuk mengkritisi pemerintah, mereka tetap menerima subsidi dari pemerintah untuk terus membuat film. Menurut Leon, ini karena pemerintah mempertimbangkan pula soal ketenaran para sutradara Cinema Novo di tengah publik Internasional dan mengingat proses distribusi dan eksibisinya yang terbatas di dalam negeri sendiri, kritik-kritik dalam cinema Novo dianggap masih bisa ditolerir karena toh tidak terlalu mempengaruhi masyarakat Brazil sendiri.

Kusen Dony menanyakan mengenai latar belakang sutradara-sutradara Cinema Novo yang berasal dari kaum elite kaya, tetapi punya sense yang kuat dalam mengangkat problem-problem sosial seperti kemiskinan, misalnya. Ada semacam empati luar biasa terhadap problem sosial, jika dibandingkan dengan borjuisme Nouvelle Vague yang bisa dibilang hanya sekedar bermain-main saja dengan medium dan tema-tema yang mereka suka. Apakah ini karena sebuah sistem pendidikan tertentu di Brazil yang bisa melahirkan generasi seperti ini, atau barangkali memang pernah terjadi semacam revolusi kebudayaan barangkali?

Menurut Camila kecenderungan itu tidak berasal dari sistem pendidikan Brazil, melainkan dari popularitas ide-ide sosialis Marxist menjelang kudeta di Brazil dan Revolusi Kuba tahun 1959. Para filmmaker ini adalah para intelektual muda yang sekedar berkomitmen untuk membumikan ideologi-ideologi tersebut.

Kusen Dony menambahkan bahwa nyatanya film-film Brazil sampai sekarang masih memiliki kecenderungan mengangkat tema-tema yang sama. Bisa kita lihat dalam City of God atau Central station, misalnya. Saya rasa soal empati sosial ini memiliki sebuah benang merah dalam tradisi yang membentuk para filmmaker Brazil.

Camila mengatakan bahwa mungkin kita bisa mengatakan bahwa tradisi film dengan kritik sosial dimulai dari Cinema Novo dan terus hidup sampai sekarang. Namun, kita juga tidak bisa mengatakan bahwa tradisi ini berkembang dengan lurus dan mulus. Banyak juga produksi-produksi film di Brazil yang tidak seperti Cinem Novo ataupun City of God dan Central station. Tahun 1990-1993 bahkan jumlah produksi film di Brazil hampil nol karena putusnya bantuan pemerintah pada kurun waktu tersebut.

Leon menambahkan bahwa beberapa tahun paska sinema marjinal, yang juga lahir di tahun 60an, film-film Brazil berkembang ke arah yang sama sekali berbeda. Lebih banyak bicara soal seks. Ini berlangsung selama 8 sampai 10 tahun. Jadi kalaupun ditarik garis merah antara Cinema Novo sampai sinema Brazil kontemporer, garis ini tidak lurus dan mulus.

Ale menambahkan tiga pertanyaan. Yang pertama, Cinema Novo dianggap baru dalam konteks apa? Apakah semua film Brazil sebelum cinema Novo benar-benar Hollywoodian semua? Karena tahun 1930an ada gerakan sinema Avant Garde disana. Yang kedua, bagaimana caranya keluar dari pengaruh Hollywood dan Sinema Art Eropa? Apakah mungkin sinema dunia ketiga bisa lepas dari itu semua? Mengingat jika kita percaya kata Robert Stam bahwa medium film itu sendiri terlalu Euro-centric, sehingga ada kemungkinan berbagai usaha untuk menjadi film beridentitas di luar itu sia-sia. Yang ketiga, Ale menanyakan kemungkinan FFTV IKJ bisa mendapatkan kopian film Limit (Avant Garde Brazil 1930an).

Camila menjelaskan bagaimana para sutradara Avant Garde Brazil rata-rata adalah lulusan sekolah lua negeri seperti Prancis, Italia, dan sebagainya yang mempelajari seni lukis, dan lain-lain. Sementara konteks kebaruan Cinema Novo sangat sulit didefinisikan karena salah satu filmnya bahkan ada yang meng-copy paste sebuah film Italia. Kebaruan yang dimaksud mungkin lebih pada usaha membedakan diri sebagai cinema Brazil. Misalnya, tema-tema agama dalam film-film tersebut yang menggambarkan adanya perkawinan antara agama dan ideologi Marxist. Ini adalah sebuah keunikan. Menurut Camila, untuk bicara soal identitas nasional sebuah gerakan sinema akan lebih bisa didiskusikan dalam pembicaraan mereka soal sinema marjinal dua minggu mendatang.

Jean kemudian bertanya soal konteks situasi sosial politik dalam film Black God, white Devil yang bicara soal revolusi. Apakah revolusi yang terjadi dimulai dari desa atau dari kota. Lalu dimana peranan gereja dan militer dalam situasi tersebut?

Menurut Camila, semua perubahan politik di Brazil mulai dari atas. Ada proses negoisasi di antara orang-orang elite untuk membuat perubahan. Jadi bukan sebuah revolusi dalam artian murni. Namun, respon-respon juga terjadi di desa-desa. Para pemilik tanah cenderung pro republik sementara dalam film, kelompok agama yang muncul lebih berupa sebuah sekte dan mereka anti republik.

Leon menambahkan bahwa tahun 60-70an ada kecenderungan pihak gereja mulai mendekati rakyat miskin dalam agenda pembebasan dari sekte-sekte ataupun kepercayaan-kepercayaan lokal yang dianggap mengguncangkan stabilitas masyarakat. Maka sekte-sekte agama tertentu membuat desa mereka sendiri, meskipun tetap dikejar-kejar militer.

Pertanyaan terakhir dari Vero menanyakan tentang generasi filmmaker Brazil di tahun 50-60an. Cinema Novo kan hanya sebagian kecil dair mereka. Lalu bagaimana kecenderungan para filmmaker yang lain? Industri dan infrastruktur film di Brazil saat itu bagaimana?

Menurut Leon di tahun 50an ada studio paling besar di Brazil, yaitu Daracruz. Film Industri sebagai besar bertopang pada subsidi pemerintah meskipun diktatorian. Sekarang, bioskop-bioskop yang dulu banyak bermunculan di desa sudah ditutup dan eksibisi di Brazil dikuasai jaringan bioskop layaknya 21 yang memasang tarif sangat mahal bagi rakyat kebanyakan.

Diskusi ditutup sampai di situ dan minggu depan akan dilanjutkan dengan pemutaran film dari gerakan sinema marjinal diikuti diskusi mengenainya dua minggu mendatang.

Posted in: Memento