MEDIA DAN WAJAH DEMOKRASI DI INDONESIA

Posted on June 6, 2009

0


Oleh: Daniel Rudi Heryanto

Masih terihat bekas tinta TPS di jari banyak warga yang pada tanggal 9 April lalu mengikuti Pemilihan Umum Legislatif. Masih tampak sampah pemandangan sisa-sisa sticker, banner, poster di dinding-dinding kota, pohon-pohon dan tiang listrik. Pemilu Legislatif 2009 berjalan tanpa aral melintang, negara relatif stabil, hingga tulisan ini dibuat penghitungan suara secara manual masih terus dilakukan. Media massa cetak, elektronik dan cyber dipenuhi berita-berita  pasca pemilu, rumah sakit jiwa mulai kedatangan pasien caleg gagal, ekses pemilu mulai dirasakan. Pengaduan pelanggaran dan kecurangan-kecurangan yang terjadi pada saat berlangsungnya pemilu menjadi tema utama di setiap pemberitaan. Ada yang senang, ada yang kecewa, itu suatu kewajaran, toh kita hidup di alam demokrasi.

Selama masa kampanye berlangsung, masyarakat diharu-birukan dengan berbagai pemandangan visual. Partai-partai dan calegnya yang beraneka warna menyemarakkan pesta demokrasi, mirip festival, setiap caleg menyuguhkan keunikan pose masing-masing. Beberapa di antara mereka nampak berani mencitrakan diri keluar dari mainstream desain. Menyuguhkan visualisasi yang nyeleneh, semisal mencantumkan Obama, David Becham, bintang Indonesia Idol dan tokoh populer lainnya. Tak tertingal tokoh-tokoh partai politik seperti Megawati, Prabowo, Wiranto, Hidayat Nur Wahid, Amin Rais, Jusuf Kalla bersanding lengket dengan para caleg. Trilyunan rupiah dihabiskan untuk pesta ini.

Di tengah semaraknya pemilu 2009, saya menemukan sebuah buku yang berjudul Pemilu Dalam Poster, disusun oleh Arif Budiman, Kutut Suwondo dan Pradjarta DS, diterbitkan oleh Lembaga Penelitian Universitas Kristen Satya Wacana, Salatiga. Sebuah buku yang menarik, berisi foto-foto dan ulasan terhadap poster pemilu di berbagai daerah di Indonesia. Buku ini membawa saya kembali pada suasana seputar pemilihan umum tahun 1982. Gambar-gambar yang ada memberikan gambaran segar tentang ragam visual yang menjelaskan semaraknya pemilu pada tahun itu. Salah satu yang membedakan secara jelas adalah pada tahun itu partai peserta pemilu dibatasi hanya 2 partai politik yaitu PDI dan PPP serta satu Golongan Karya yang sampai sekarang masih akrab dengan sebutan GOLKAR.

27 tahun yang lalu, para penggiat partai menggunakan cat, kuas dan alat manual untuk menciptakan media kampanye. Kini di tahun 2009, para penggiat partai menggunakan desainer komputer untuk menciptakan media komunikasi politik. Photoshop, Coreldraw dan software lainnya memiliki peranan penting dalam menciptakan image seseorang. Apapun bisa dibuat. Menghadirkan Obama, David Becham, tokoh-tokoh super hero seperti Superman, Batman, bahkan Gatot Kaca, dapat bersanding dengan caleg merupakan keniscayaan. Persoalan kualitas gambar dan kualitas, apalagi pesan urusan belakangan.

PHOTOSHOP DAN POLITIK

Saya mendapati banyak partai-partai menampilkan kesamaan desain visual pada setiap poster dan banner yang terpajang secara semrawut di jalanan. Pada satu waktu, saya mendapat kesempatan untuk bertandang ke sekretariat tim sukses salah satu calon legislatif. Kesibukan mempersiapkan atribut dan sarana kampanye sangat terlihat di sekretariat tersebut. Ketika setelah saya masuk ternyata sekretariat ini merupakan sekretariat bersama beberapa calon legislatif dari berbagai partai. Ada sebuah computer yang tidak pernah istirahat, silih berganti digunakan untuk mendesain atribut kampanye. Satu orang mendesain unuk beberapa caleg dengan menggunakan Photoshop. Pada kesempatan yang lain saya mengikuti mereka mendatangi percetakan di kawasan Tebet dan Cawang. Ini betul-betul sesuatu yang sangat mengesankan bagi saya, manakala saya mendapati caleg dari beberapa partai tercetak dalam satu plano cetakan. Nampaknya para caleg sudah berkoalisi sebelum mereka menduduki kursi parlemen. Kawan saya menjelaskan bahwa mencetak bersama itu merupakan strategi untuk mengirit ongkos cetak. Walaupun calon dari partai besar, tetapi mereka caleg dari daerah pemilihan yang berbeda. Walaupun dari berbagai partai namun untuk mensiasati ongkos cetak ya mereka berkoalisi juga dalam proses pencetakan. Memang menggelikan, pemandangan yang saya lihat itu dapat memberikan gambaran kepada saya bahwa tidak jamannya lagi fanatisme pada satu partai tertentu. Inilah yang menjadi keunikan pada pemilihan umum tahun ini.

Jika melewati persilangan jalan di depan bioskop Megaria, kita akan mendapati sebuah banner yang berukuran cukup besar.  Gambar sosok mantan Gubernur Jakarta Sutiyoso tampak dominan mengisi ruang banner dan terdapat tulisan : “Tegas, Berani, Teruji”. Seperti kita tahu, Sutiyoso merupakan salah satu politisi yang mengikuti bursa calon presiden. Sutiyoso tampil dengan wajah lebih bersih, berbusana rapih dan menunjukkan kewibawaan. Kalimat yang tertulis di sampingnya menjelaskan sikap dan perilaku tokoh yang ditampilkan. Latar belakang merah dan putih bukanlah sekedar tempelan, warna bendera Indonesia itu memberikan pesan Berani dan Suci. Tampilan banner itu tentu ditujukan untuk membangun sebuah image politik Sutiyoso. Saya membayangkan bagaimana tim kreatif yang berada di sekitar Bang Yos berupaya keras menampilkan image politik visual untuk mensukseskannya menuju puncak kekuasaan.

Photoshop memberikan keleluasaan ruang kreatif bagi seorang desainer yang menguasainya. Photoshop dapat memanipulasi kulit hitam jadi putih, baju kotor jadi bersih. Fasilitas yang disediakan photoshop membuka peluang untuk membuat berbagai bentuk atau objek menjadi sesuatu yang menarik dan berbeda. Poster-poster para caleg dan Sutiyoso pada tulisan di atas membuktikan bahwa manipulasi wajah bisa saja dilakukan.

Citra bersih, jujur, berwibawa, berani, tegas, ditampilkan dalam tanda-tanda visual. Wajah yang bersih yang terlihat dari para caleg dan calon presiden bisa diciptakan dengan software ini. Seorang desainer akan berusaha keras untuk menampilkan citra politik ke dalam wujud visual. Hanya dengan beberapa klik saja dari Photoshop, simsalabim, figur seorang caleg yang berbadan kurus kerempeng berubah menjadi figur yang gagah dan berotot laksana super hero yang siap membasmi kejahatan dan ketidakadilan. Dalam hal ini, Caleg maupun Capres kemudian direproduksi sebagai komoditas politik yang harus dikemas sedemikian rupa sehingga menarik perhatian pangsa pasar yang dituju: Rakyat yang memilih. Sebagai Reproduksi Politik, kemasan citra dan branding politik, mereka tidak ada bedanya dengan barang konsumsi sehari-hari yang selalu dicitrakan untuk diperdagangkan semacam rokok, kentang goreng, ayam tepung kentucky, Taman Impian Jaya Ancol atau Coki coki.

Photoshop hanyalah satu diantara sarana yang secara optimal dapat digunakan untuk mereproduksi image, mereduksinya menjadi lebih menarik. Dalam hal ini Photoshop menjadi sangat politis.

IKLAN PARTAI SEBAGAI KENDARAAN POLITIK

Partai Gerindra dengan Prabowo Subiyanto barangkali merupakan satu-satunya partai baru yang paling banyak menayangkan iklan di televisi. Partai Gerindra menggunakan televisi untuk melakukan sosialisasi visi dan misi Partai. Bentuk dan Gaya iklan audio visual Gerindra terlihat dikemas secara konsisten, menampilkan gambar-gambar yang memenuhi kaidah sinematografis. Sebagai partai baru, Gerindra cukup lama menggunakan televisi sebagai media sosialisasi. Pencitraan politik Prabowo Subiyanto sebagai orang nomor satu di partai tersebut terlihat jelas di tayangan iklan. Terlepas dari persoalan-persoalan di masa lalu, pada kenyataannya Gerindra mendapatkan kesempatan untuk maju ke kancah pemilihan Presiden yang akan datang.

Pencitraan partai di media melalui iklan televisi menjadi kajian menarik. Realitas direproduksi sedemikian rupa menjadi imagi politis. Selain Gerindra, PKS menunjukkan keberanian dengan menayangkan berbagai versi, nampak berbeda gaya dengan partai yang lain, iklan-iklan PKS lebih ditujukan kepada pemilih pemula yang kebanyakan adalah anak-anak muda. Keberanian PKS mengubah arti Partai Keadilan Sejahtera menjadi Partai Kita Semua dan Pojok Kiri Atas menjadi bahasa tersendiri, bahwasanya partai yang lebih populer dengan visi agama ini menjadi lebih cair dan populer. Lain lagi PDIP yang menampilkan iklan lebih sederhana. PDIP yang selalu mengklaim sebagai partainya “wong cilik” lebih mengedepankan makna yang lugas. Walaupun pada realitas politik, PDIP beroposisi dengan partai Demokrat, namun tayangan iklan partai Golkar yang membawa Jusuf Kalla sebagai ikon menunjukkan perang urat syaraf. Jika Partai Demokrat membawa keberhasilan program pemerintah dengan menurunkan harga bensin sampai 3 kali dan keberhasilan distribusi Bantuan Langsung  Tunai (BLT), maka Golkar menampilkan keberhasilan program Swasembada beras yang notabene sukses di daerah pemilihan –kantung suara– partai Golkar di Sulawesi. Televisi merupakan kotak ajaib yang sangat efektif  untuk berkampanye. Kita dapat melihat berbagai partai mencoba menanamkan pengaruh kepada massa melalui Televisi. Jika dikaji lebih jauh, tayangan tersebut tidak hanya sebuah tayangan, apapun partainya, siapapun calon presiden yang diusung, iklan partai tetap merupakan kendaraan politik yang ditujukan untuk meraih pengaruh massa sebanyak mungkin.

MEDIA DAN WAJAH DEMOKRASI

Demokrasi membuka ruang yang luas bagi pemilu multi partai, multi partai membuka peluang yang besar bagi massa untuk menggunakan hak pilihnya. Pemilihan umum diyakini menjadi penentu masa depan sebuah negara. Namun apakah Penyelenggaraan pemilu sebagai perwujudan demokrasi sudah merubah negara ini menjadi lebih baik, ataukah sebaliknya, Pemilu hanya bentuk lain dari Lotre raksasa yang menampilkan berbagai atraksi yang semuanya bermuara pada pemborosan anggaran Negara ?

Apa yang saya kemukakan di atas, barangkali hanya pengamatan kecil dari apa yang saya temukan pada realitas politik di Indonesia. Pada kurun waktu 27 tahun, perilaku politik dalam menggunakan media komunikasi politik tidak banyak berubah. Media tidak hanya diperankan, namun media dapat memerankan diri untuk merepresentasikan suatu relitas politik. Peranan media sebagai alat komunikasi politik di Indonesia pada Pemilu 2009 ini dapat menjadi tolok ukur apakah dalam kehidupan berbangsa dan bernegara kita sudah berubah ke arah yang lebih baik?

Di tahun 1982, ketika pemilu terbatas pada tiga kontestan dan pemilihan dilakukan di bawah bayang-bayang kekuasaan Soeharto dan Orde Baru, rakyat dapat menyampaikan ekspresi politik melalui berbagai macam bentuk dan gaya visual. Sementara teknologi pada masa itu belum seperti sekarang ini. Kini, ketika photoshop, software-software desain serta media audio visual dapat mereduksi image politik menjadi lebih baik, pertanyaan yang masih muncul adalah apakah wajah demokrasi di Indonesia sudah dapat memperlihatkan kemajuan-kemajuan yang akan dicapai di masa yang akan datang?. Kita dapat kembali melihat, di jalanan dan di tembok-tembok kota, di tiang telepon dan tiang listrik, di berbagai sudut ruang publik, gambar-gambar caleg menjadi sampah pemandangan. Membuktikan bahwa strategi memasarkan dagangan politik tidak pernah berubah. Masih belum kreatif, dan itu adalah mental caleg kita hingga detik ini. Masih mau berharap?