Video, Dominasi, dan Provokasi

Posted on September 1, 2009

0


by: Veronica Kusuma

There is usually no time to build a relationship with the image:if we are not in motion, then the image is designed to pass us by in an instant.

(Frances Guerin dan Roger Hallas, 2007)

Pernyataan dua penulis visual culture di bagian awal tulisan ini tampaknya mampu menggambarkan apa yang sedang terjadi di dunia sekarang. Bagaimana tidak? Hidup kita yang sudah malang ini penuh dan dibanjiri citraan-citraan (images) yang luar biasa:film, televisi, layar telepon genggam dan blackberry, komputer, internet, neonsign-neonsign iklan, papan-papan penanda perjalanan, papan nama, video game, apa pun. Citraan tampak mengalami overproduction (Marx) atau pun ekses.

Revolusi kebudayaan citra (atau secara umum disebut visual culture) merupakan hal yang khas abad 20 (dan sekarang, abad 21) meski material-material visual selalu menjadi bagian integral dari kehidupan manusia. Contoh mudah, film. Sebagai teknologi, film ‘ditemukan’ pertama kali tahun 1895 oleh Lumière bersaudara, dalam sebuah pertunjukan ajaib tentang gambar bergerak di Grand Café, Paris. Film yang mulanya sebuah atraksi[1], dibakukan menjadi sebuah industri penghasil citra (image-making apparatus) yang melibatkan berbagai formasi ekonomi dan kepentingan politik.

Contoh lain, komputer dan  internet. Teknologi yang mulanya dikembangkan militer untuk kepentingan pengawasan (surveillance) guna kepentingan Perang Dingin, kini menjadi bagian tak terpisahkan dari perilaku manusia modern. Ketiga teknologi ini: film, komputer dan internet mengubah dengan revolusioner pemahaman manusia akan citra dan kini perubahan itu berada di titik yang semakin cepat dan luar biasa. Apa yang bisa dilihat dari semua ini selain istilah lama macam simulacra dan simulacrum (Baudrillard) ?

Wacana ini muncul kembali setelah perhelatan besar OK.Video berlangsung. OK. Video adalah acara festival video dua tahunan yang dilaksanakan Ruangrupa sejak tahun 2003. Tahun ini, OK.Video diselenggarakan di Galeri Nasional, Jakarta, dari tanggal 28 Juli sampai 9 Agutus 2009. Seperti juga peristiwa menonton film, menonton televisi, merekam bencana tsunami dengan video, atau pun mengirim gambar via telepon seluler, festival video adalah sebuah peristiwa visual. Di dalam peristiwa ini, orang mencoba mencari informasi, makna (meaning), dan kesenangan dari teknologi visual (tekologi multimedia, terutama digital).

Video yang dipamerkan dan ditayangkan di OK.Video sendiri hanyalah satu dari berbagai jenis video yang diproduksi di Indonesia. Pameran mengumpulkan 95 karya video dari 86 orang seniman yang datang dari 31 negara. Ketika masuk galeri pertama kali, pengunjung akan melihat video Anggun Priambodo berjudul Sinema Elektronik-Video Elektronik. Setelah itu, pengunjung akan menemukan ruang luas di tengah galeri yang menampilkan berbagai video dari televisi layar datar di dinding-dinding, dan dua buah layar besar yang ada di tengah. Kalau dilihat secara selintas, penataan televisi-televisi ini tampak datar, bersih, tanpa aksen berarti. Semua video ditayangkan dengan satu jalur visul (single channel). Meski demikian, suara yang dikeluarkan video-video itu sangat riuh, melebihi suara televisi yang dinyalakan bersama-sama di toko elektronik atau pun bagian penjualan televisi di supermarket Carrefour mana pun. Suara-suara dari video yang diproyeksikan ke layar dibiarkan bersahut-sahutan, menimbulkan noise yang cukup keras.

Dibandingkan dua tahun lalu, video yang ditampilkan OK.Video memang lebih sedikit. OK.Video Militia 2007 menampilkan lebih banyak karya video (119 video dari 99 artis dari 27 negara). Hasilnya, video-video dari Indonesia yang diputar banyak dibuat oleh artis-artis video yang memang sudah terkenal. Katakanlah, Anggun Priambodo, Muhammad Akbar, Ariani Darmawan, Henry Foundation, Maulana M. Pasha, Wimo Ambala Bayang dan lain-lain. Namun demikian, di seksi kompetisi, video-video yang menang adalah video-video yang (kebetulan) berasal dari Eropa:sebuah video sangat cerdas berjudul Ivo Burokvic dari Paul Wiersbinski (Jerman), sebuah video sederhana yang sangat menyenangkan berjudul How To Make A Table dari Lemeh42 (Italia) dan The Door of The Law dari Morten Dysgaard (Denmark).

Penyelenggaraan OK.Video dan beberapa festival serta pameran video lain, seperti Videobase dan Video:WRK di tahun 2009 ini menghadirkan wacana menarik. Dengan jelas, fenomena ini menggambarkan melimpahnya produksi video di Indonesia. Bukan hanya video yang ditujukan untuk ekspresi seni seperti video-video yang muncul dalam ajang festival, tetapi video secara umum (film, sinetron, video rekaman berita, video rekaman pernikahan/kelahiran/acara, dan lain-lain).

Selain OK.Video, pameran Videobase:Video.Sosial.Historia bisa jadi ajang pameran video paling mengesankan tahun ini. Pameran yang berlangsung Maret 2009 di Bentara Budaya Jakarta memperlihatkan berbagai praktik video yang banyak dilakukan di Indonesia, mulai dari produksi video konvensional naratif(dalam bentuk film panjang, film pendek, termasuk serial di televisi, dll), video yang merupakan rekaman jurnalistik (rekaman berita dari televisi, laporan khusus yang bersifat dokumenter), video rekaman acara (pernikahan/kelahiran/kematian/pertunjukan musik/acara-acara lain), video rekaman hal sehari-hari (misalnya, dari telepon genggam), dan lain-lain (tetapi tidak termasuk di dalamnya pornografi/rekaman yang bersifat pornografis yang juga populer beredar di Indonesia).

Pameran ini dan acara-acara sejenis menampakkan gejala intensifnya penggunaan medium video di kalangan masyarakat, terutama dengan diproduksinya ribuan bahkan mungkin jutaan jam footage. Video tampaknya menjadi media baru yang cukup menjanjikan bagi masyarakat luas untuk membuat dokumentasi, menyosialisasikan ide/kepentingan propaganda atau sekadar buat bermain-main.

Menandakan apakah hal ini bagi kita? Pertama, Indonesia memproduksi banyak sekali video sehingga festival macam OK.Video bisa bertahan sebagai salah satu festival video terkuat di Asia (di Asia Tenggara, mungkin hanya Indonesialah yang memiliki festival video yang reguler). Kedua, teknologi video ternyata lebih lentur dalam fungsinya. Sebagai medium, video bisa jadi diberlakukan secara serius (penuh dengan perhitungan, baik teknis, artistik maupun ekonomi), tetapi bisa juga diberlakukan sebagai medium yang lebih fleksibel dengan sifatnya yang dapat menangkap spontanitas, sesuatu yang bersifat instan, simultan, dan interaktif.

Video sendiri adalah sebuah medium yang menggunakan sinyal (isyarat-isyarat) elektronik untuk menghasilkan citra (image). Karena sifatnya yang demikian, maka video lebih bersifat tidak stabil. Ia bisa memberikan keleluasaan bagi seniman/pengguna video untuk memproduksi karya dengan prosedur yang bervariasi. Dibanding film dan jenis medium seni lain, video memiliki struktur yang lebih terbuka. Hal ini dimungkinkan oleh begitu mudahnya unsur-unsur sinyal, segmen atau sekuens dari piranti video diubah, didistorsi, dirusak, atau ditumpuk dalam presentasinya dan ditransformasikan menjadi obyek yang sama sekali berbeda. Video bisa berfungsi sebagai alat perekam (recording), bisa mereproduksi (menyalin), dan bisa pula hanya sebagai pajangan (instalasi/pameran). Video pun bisa dihubungkan dengan perangkat lain untuk mendapatkan fungsi yang lain lagi.

Video tidak memerlukan sinematik aparatus seperti yang berlaku pada film (ruang gelap, proyektor dari belakang yang memantulkan sinar tunggal, dan layar) atau pun televisi yang memiliki hukum dan konvensi serialitas tersendiri. Video tidak mensyaratkan piranti tertentu. Sinyal video bisa dihasilkan dari kamera, atau bisa diciptakan di dalam peralatan video itu sendiri. Video bisa memaklumi main-main secara teknis sebagai proses menghasilkan citraan (superimposition, berbagai reproduksi gambar). Film membutuhkan waktu dan ruang yang berbeda untuk merekam dan menampilkan gambar, video memiliki kelebihan dalam melakukan keduanya. Video dapat melakukan kerja-kerja simultan, merekam sekaligus menampilkan, menyatukan visual dan audio (dalam seluloid, dua hal ini dipisahkan dalam pita).

Struktur video yang lebih terbuka ini memungkinkan reformulasi, perubahan, distorsi maupun perusakan struktur video baik secara visual maupun audio[2]. Tak heran, Spielmann menganggap bahwa copy (salin), remake (membuat kembali) dan remix (mencampur kembali) merupakan mode artistik yang sering dijumpai dalam medium video. Video dapat mengubah serialitas dalam medium televisi atau kesinambungan naratif dalam medium film mejadi sinyal-sinyal elektronik, video loop atau bingkai elektronik (electronic frame) dari medium lain[3]. Video menjadi medium yang sadar akan mediumnya sendiri, ia mereproduksi karena fungsi video sebagai medium reproduktif[4].

Contoh mudah yang bisa dilihat adalah video Sinema Elektronik-Video Elektronik dari Anggun, video Telepower dari Muhammad Akbar dan Ketik reg spasi blablabla dari Yusuf Ismail di ajang OK.Video 2009. Ketiga video ini menjadikan mode penyalinan, pembuatan kembali dan pencampuran visual televisi Indonesia sebagai pilihan artistik. Proses yang kadang dilakukan dengan sangat mirip (Anggun, misalnya, menggunakan shot, frame, gaya akting, singkatnya:referensi visual sinetron Indonesia –yang ditonton kebanyakan oleh orang Indonesia) ternyata menghasilkan efek yang sangat berbeda dengan presentasi konvensionalnya sebagai sinetron.

Praktik-praktik seperti ini membuat video menghasilkan pluralitas visual yang tak terbatas. Video bisa menjalani fungsi artistik (seperti videoart), fungsi sejarah (dokumentasi, menyajikan cerita/gambaran berbeda dengan gambaran yang selama ini telah dibuat), fungsi sosial/politik (menyampaikan ide-ide/propaganda ide, bermain-main), dan lain-lain. Beberapa fungsi memang inheren dalam medium video (terutama artistik), tetapi beberapa fungsi lain sangat terikat dengan konteks khas masyarakat Indonesia.

Pluralisasi yang dimungkinkan video membuat video memiliki peran penting dalam menyediakan estetik baru maupun medium ekspresi baru bagi aspirasi-aspirasi politik atau pun personal. Thomas Elsaesser (2005) mengatakan bahwa nilai-nilai spontanitas, instan, simultan dan interaktif yang menjadi ciri video adalah nilai-nilai kapitalisme masa Victorian (di abad 19) yang muncul dalam bentuk televisi dan internet. Baginya, sinema (dengan S besar) bukanlah mimpi dan hal yang diharapkan abad 19. Yang mereka harapkan adalah teknologi yang bisa interaktif, instan, dan simultan sesuai nilai-nilai baru kapitalisme industrial.

Kehadiran film dan pembakuan sistemnya dalam bentuk film panjang dengan konvensi dan mode naratif tertentu (contohnya, sinema Hollywood klasik) membuat impian abad 19 akan medium interaktif dan instan agak tertunda. Sinema membutuhkan proses literasi yang lebih massif,  dalam arti, pembuat film perlu menyusun naratif(struktur bercerita), butuh membuat sistem produksi yang mengakomodasi berbagai kepentingan ekonomi dan politik, dan berbagai syarat lain. Dengan dukungan modal dan terutama kekuatan politik, film menjadi aparatus pembuat citra (image) yang dominan.

Dominasi film tidak berakhir ketika televisi muncul sebagai teknologi yang lebih memenuhi impian abad 19 (atau dengan singkat bisa disebut:impian kapitalisme). Televisi dengan segera memenuhi impian-impian akan hal-hal yang bersifat instan, simultan, dan spontan, tetapi tidak melepaskan diri dari kepentingan ekonomi dan politik dominan. Kehadiran teknologi komputer, internet dan teknologi digital membuka kemungkinan baru untuk memberikan alternatif, provokasi atau bahkan perlawanan terhadap dominasi film dan televisi sebagai aparatus penciptaan citra.

Namun apakah dalam konteks Indonesia hal ini cukup berlaku? Kalau kita melihat video-video yang dihasilkan, kita akan menemukan dimensi yang lebih luas dari sekadar kata alternatif, provokasi atau perlawanan. Tulisan kuratorial dari Aminudin TH Siregar di dinding putih Galeri Nasional berikut ini bisa jadi rangkuman yang menarik.

“Ada dua kecenderungan yang lazim ditempuh dari sejumlah tayangan di OK.Video Comedy, yaitu pertama, seniman membangun narasi –panjang maupun pendek—yang lalu secara sengaja ditata, baik alur, suara dan pola komunikasinya, untuk kemudian direkam. Kedua, menunggu momentum dari realitas kehidupan sehari-hari yang secara kebetulan memancing tawa dan secara tak sengaja terekam oleh kamera.

…….”

Pengantar pameran ini tampak seperti diktat kuliah taksonomi yang dingin tetapi dengan tepat menggambarkan bagaimana orang-orang Indonesia memberlakukan teknologi seperti video. Dalam banyak kasus dan amatan, metode pembuatan video yang kedua adalah metode yang paling banyak dijumpai/populer di Indonesia[5]. Mode kedua ini lebih mengandalkan spontanitas, faktor kebetulan, tanpa struktur yang cukup ketat. Dalam mode ini, terlihat bahwa video banyak dipakai dan diperlakukan untuk menangkap citraan-citraan yang berlari dengan sangat cepat, yang bersifat instan dan simultan, tanpa kedalaman. Hal ini tidak hanya terlihat dalam medium yang terhitung baru seperti video, televisi dan film pun diberlakukan dengan cara serupa. Namun video memberi makna baru dalam hal, karakteristik mediumnya yang memang sangat mengakomodasi sifat-sifat instan dan simultan ini.

Hal ini mau tak mau mengingatkan kita pada realitas kehidupan masyarakat Indonesia yang semakin menuju dan berada di tengah fenomena-fenomena dunia yang bergerak cepat, bersamaan, berlimpah, dan bersifat permukaan. Kehadiran video sebagai sebuah teknologi yang berskala global direspon dengan isu dan cara yang terikat dengan batas-batas negara-bangsa.

Produksi video yang berlangsung secara massif, didorong oleh murah dan semakin mudahnya peralatan video diakses, memberi gambaran pada proses negosiasi antarberbagai kekuatan pembentuk citra yang terus-menerus bertempur di Indonesia. Kekuatan-kekuatan dominan yang muncul dengan modal dan kekuatan politik besar, termasuk di dalamnya kapitalisme global dan globalisasi, dinegosiasi dengan kehadiran unsur-unsur lokal dan cara pandang lokal, terutama tradisi lisan yang muncul kembali dalam bentuk rekaman-rekaman video. Apakah ini benar-benar perlawanan atau sekadar gaya-gayaan, tentunya hal ini tidak perlu dijawab dengan seketika karena video, sebagai satu bagian dari fenomena besar ini terbukti telah berhasil sebagai satu taktik bagi mereka yang tidak mengendalikan proses produksi visual dominan.***


[1] Sinema sebagai atraksi diteorikan pertama kali oleh  Tom Gunning dan  André Gaudreault untuk menyebut fenomena kelahiran sinema awal (early cinema). Dalam fase awal kemunculannya, film lebih dianggap sebagai atraksi visual, sebuah tontonan, bukan sebuah bentuk seni tertentu (dengan sendirinya bentuk ini mengantarkan kita pada satu ciri sinema,yakni naratif). Thomas Elsaesser & Adam Barker (ed.), Early Cinema: Space Frame Narrative, London:BFI, 2008 dan  Wanda Strauven (ed.), Cinema of Attractions Reloaded, Amsterdam:Amsterdam University Press, 2006.

[2] Yvonne Spielmann, “Copy, Remake and Remix:The Open Structure of Video”, dalam catalog Videonale 11, Herausgegeben von Georg Elben, 2007.

[3] Nicholas Mirzoeff menyebut fenomena pengambilan referensi visual dari berbagai media sebagai intervisualitas. Nicholas Mirzoeff, The Visual Culture Reader, London&New York:Routledge, 1998.

[4] Digital memberikan mode pemrosesan data dan artistik tersendiri karena dalam video, variasi bisa ditimbulkan dari copy, remake dan remix, sementara dalam teknologi digital, copy (salin) bukanlah copy karena tidak ada yang asli. Copy (salinan) dalam digital tidak berbeda alias sama persis dengan aslinya.

[5] Gridthiya Gaweewong dan David Teh, “Unreal Asia” programme introduction, Oberhausen Film Festival, 2009.