Edwin: Saya benci banget dengan kata auteur

Posted on May 26, 2010

6


This slideshow requires JavaScript.

Dari klub kajian film IKJ, hari Kamis, 8 April 2010
Moderator (Mohamad Ariansyah)

Sore ini kita akan menonton dan sharing film Babi Buta yang Ingin Terbang (2008).  Bagaimana cara melihat film seperti Babi Buta? Mengapa Edwin membuat film seperti itu? Bagaimana produser bekerja dengan film-film seperti ini? Bagaimana target audiencenya? Bagaimana strategi berbicaranya? Benarkah film ini memberikan bahasa visual baru? Ada visi baru? Bagaimana menyusun cerita dalam film ini?

Edwin (Sutradara)

Ide film Babi Buta berasal dari kumpulan cerita pendek yang sa a tulis. Saya menulis adegan-adegan spesifik. Pertama: wanita memakan petasan. Saya membayangkan visual seperti itu. Selama 5 tahun sebelum membuat film ini, saya memiliki kumpulan visual-kumpulan seperti itu. Ada momen ketika say a baca, ada warna yang sama dalam sekuens-sekuens itu. Saya mencoba mengartikan gambar-gambar ini. Secara tidak sadar, ada benang merah di cerita-cerita ini yakni soal kegamangan identitas. Kalau diterjemahkan: bagaimana perasaan menjadi China di Indonesia, bagaimana menjadi marjinal. Tapi ini lebih ke perasaan-perasaan yang abstrak, jadi bukan sebab-akibat yang jelas.

Jadi cerita Babi Buta ini tentang identitas. Tadinya saya mau membuat yang naratif saja, tapi setelah saya tulis dengan menjadi naratif, saya kehilangan kesan puitisnya. kesan personal yang tiba-tiba terkikis gara-gara pola/struktur yang jelas: harus memperkenalkan karakter, konflik, dll.

Saya mencoba bertanya apakah kalau membuat film harus berkutat dalam bentuk yang komunikatif seperti itu. Apakah saya boleh menawarkan sebuah film yang terus-terang agak egois karena saya terpesona dengan apa yang saya tulis sendiri dengan penggalan-penggalan sekuensi itu? Kalau saya bisa merasakan hal itu sebagai sesuatu, kenapa penonton tidak saya ajak untuk mengalami ini? Saya ingin membebaskan penonton dari teks filmnya sendiri.

Hal ini menjadikan skenario filmnya tetap apa adanya. Saya bicarakan dengan teman-teman yang mendukung proses ini (tim). Orang-orang yang sudah bekerja lama dengan saya membuat film-film pendek. Dan saya melihat, ketika saya berikan itu ke Sidi (Sidi Saleh, sinematografer) dan Ipong (penata suara), semua orang beda pemikirannya. Ada semacam passion yang timbul untuk membuat ini. Waktu pertama kali membaca, reaksi orang berbeda-beda. Hal ini memperkuat saya untuk membuat film yang bebas diinterpretasikan. Pembacaan mereka sangat menarik dan memperkaya naskah saya..

Saya diskusi internal tapi kita percaya bahwa impresi pertama saat membaca naskah adalah penting. Dengan begini, saya juga bisa mengharapkan sesuatu dari penonton. Saya berharap positif bahwa penonton dapat mengolah kreatifitas mereka sendiri, mau dipakai sebagai apa film ini sendiri, Dari cara saya menonton film, saya jarang bisa menonton film secara kontinyu. Selalu ada momen-momen yang hilang (missed). Saya suka ide, satu adegan bisa jadi cerita tersendiri. Saya lebih percaya bahwa image bisa merangsang kemampuan kita untuk lebih menjadi manusia, untuk tidak sekadar memakan mentah-mentah (semua hal, pen.)

Bagaimana dengan strategi bercerita? Tidak punya selain mengikuti skrip yang kita miliki. Peletakannya pun karena urutan aja. Petasan sebagai pertama karena dari idenya memang begitu. Kebanyakan orang suka lima menit pertama saja karena di depannya diberi sesuatu yang memancing. Saya taruh adegan bulu tangkis di depan untuk itu. Awalnya saya pengen adegan badminton yang packed, editing dinamis, dll. Adegan bulu tangkis yang sebenarnya membutuhkan dana 200 juta namun kita tidak punya uang. Kita dapat lokasi syuting badminton pagi sebelum syuting. Saya bekerja dengan keadaan. Hal ini lebih mengasikkan daripada berdasar story board. Saya lebih suka adegan ini daripada yang saya bayangkan sebelumnya. Karena tidak dapat dinamisnya itu, muncul ide untuk memainkan suaranya agar suara kosong. Shot penentuan baru muncul. Impactnya jauh lebih sesuai yang dibutuhkan film ini. Banyak sekali penonton melihat opening film ini menarik. Hal ini penting karena berarti sudah ada ekspektasi di kepala penonton.

Meiske “Dede” Taurisia (produser)

Dari produksi, saat kita mulai, Edwin memberi buku komik dan tulisan-tulisan dia. Lalu saya baca. Saya belum pernah jadi produser di film. Karena sering bareng, ya udahlah. Kita bagi-bagi tugas jadi saya jadi produser. Saya sudah kebayang Edwin maunya gimana. Kita punya gambaran. Waktu akhirnya bikin bareng, kita berpikir, audiensnya siapa? Kita tidak mikir muter di bioskop-bioskop di jaringan besar. Kita muter di tempat-tempat seperti ini, yang lebih community based. Film seperti ini tidak dijual. Secara teknis pun tidak memungkinkan. Kita juga tidak bisa bikin copy (seluloid/35mm, untuk jaringan bioskop 21, pen.) Ini tidak feasible dan nggak perlu.

Saya tahu Edwin dari film pendek. Waktu memutuskan, target pertama kita adalah festival. Kita coba di lokal, cari orang. Tanya, presentasi. Kita bikin teaser dulu. Teaser-nya menarik tapi awabannya enggak. Yang kita lakukan selanjutnya adalah apply funding festival, teman-teman dekat (patungan), sponsor (rental/ngutang), nyumbang can film (seluloid). Swadaya banget. Sehari sebelum shooting, kita dapat telpon soal Istora untuk lokasi opening. Kita langsung shooting saja, karena nggak tau kapan dapat chance lagi. Jam 5 sore. Ketemu bagi-bagi tugas pagi. Bener-bener siaga. Kalau ada shooting apa, kita bisa nggak ya pinjem. Kita dari awal sudah mikir, dengan kapasitas seperti ini, harus stand by. Komitmennya tinggi.

Akhirnya kita shooting, full terus 1 minggu. Sisanya tersebar-sebar satu atau dua hari. Kita apply funding. Ini harus prakarya, harus online, cek deadline. Kita harus rajin kirim aplikasi. Secara produksi, dari awal sudah tau, harus siap dengan badan.

Moderator: Apakah kalian memiliki obsesi awal? Atau yang penting jadi?

Meiske “Dede” Taurisia
Saya mau (dengan film ini) karena saya China. Ada perasaan-perasaan orang yang tidak pernah tahu. Efek film ini ke kita: ada fase di kita yang hidup dengan agak bingung.

Apakah dari awal ada obsesi untuk meluruskan? Nggak sih. Orang sudah tau perasaan kita pun sudah lumayan.

Edwin
Kita tidak punya obsesi mulia.  Jangan musuhi China, misalnya. Tapi lebih internal. Film itu media yang sangat bagus untuk terapi filmmakernya. Ini minimalnya. Jadi kita tahu apa yang mengganggu kita dan kita mencari jawaban. Banyak sekali yang saya temukan selama proses pembuatan film ini tentang bagaimana menjadi China. Waktu kita lagi cari sponsor, saya agak naïf. China kan banyak yang kaya. Saya masuklah ke China-china yang kelihatan liberal, punya channel di kebudayaan. Ternyata repot juga. Lalu sampailah kita ke seorang wanita berumur 70 tahun, pakai kebaya, China banget, tapi nggak mau kelihatan China. Dia punya pabrik air mineral dan ketika saya presentasi ini, dia baca. Dia bilang, kok susah. Saya jelasin, ini soal china. Dia baru ngeh. Dia merasa itu bahaya untuk dibicarakan. Ternyata masih ada ketakutan di generasi itu.

Apa yang dilalui orang-orang China itu sudah mendarah daging, dengan topengnya. Dia nggak mau diungkit-ungkit lagi. Waktu dulu, menjadi China itu sangat dideskriminasikan. Saya kemudian merasa, dua-duanya salah: yang dideskriminasikan dan korbannya, sebagai contoh, ibu-ibu yang memakai topeng itu. Kita sebagai China mau digituin. Dan kita akan terus memakai itu sebagai topeng. Itu yang saya pelajari dari film ini. Saya belajar hal seperti ini dari film.

Panca (editor)

Ide film ini saya dengar sudah lamalama, setelah film Very Boring Conversation (film pendek Edwin, pen.). Saya mengiyakan masuk tim. Problem kechinaan sangat saya rasakan karena saya juga China meski tidak kelihatan. Dari shot-shot yang Edwin buat di film ini, saya merasa adegan-adegan film ini seperti film pendek. Ini statement. Ini shot-shot statement. Dokter yang disikat pejabat/TNI. Masuk Islam biar kawin lagi, dll. Tapi kita nggak mungkin bisa bikin statement terus-menerus. Pas editing, kita bikin statement yang bikin marah. Kita liburan tiga bulan, memikirkan lagi secara internal, mau diapain. Dengan istirahat itu, kita tidak semarah itu. Ini harusnya tentang pertanyaan. Kita ubah struktur editingnya. Kita dapat suasana film yang mempertanyakakn tentang identitas. Kita kembali ke pencarian jati diri, ke awal yang terlihat dari susunan-susunan.

Edwin
Penonton film di Indonesia tidak terlalu banyak pertanyaan, tapi diam-diam menulis di blog. Tapi ada juga yang membuat terharu. Tapi kalau di luar negeri, ketika melihat penonton saya sendiri, pemutaran rata-rata penuh. Mereka tertarik dengan penuh. Mereka nggak terlalu ngerti filmnya. Mereka nggak tau Indonesia, apalagi China di Indonesia. Mereka bisa asik sendiri membaca adegan-adegan ini. Menurut saya, orang nggak harus membaca keseluruhan film tapi adegan per adegan. Saya pernah mendapat pertanyaan dari penonton di Argentina, di luar Q+A, kenapa babi perempuan yang dipilih? Untung ada mahasiswa cewek, yang menjawab menggunakan bahasa Spanyol.

Moderator
Apa hal yang paling lucu tentang film ini?

Meiske “Dede” Taurisia
Di 3 continents film festival di Perancis, setelah pemutaran film, para programmer datang dan menyanyikan lagu 
Stevie Wonder. Filmmaking bisa jadi fun. Di Italia ada nenek-nenek dengan anaknya yang sutradara. Mereka suka filmnya karena penuh dengan pertanyaan. Orang-orang bertanya langsung. Saya selalu bingung dengan pemutaran di Indonesia karena tidak ada respon yang jelas.

Puput
Sebenarnya apa fungsi Ladya Cheryl dalam film-film kamu? Mengapa kamu suka menggunakan aktor yang sama?

Edwin
Ladya itu sinematik banget. Saya nggak tau lagi siapa yang bisa menggambarkan satu karakter dengan sangat sinematik.

Nur Azizah
Saya baru pertama kali datang ke tempat ini. Film ini menambah ilmu bagi saya. Membuka wawasan saya. Beginilah realita China di Indonesia.  Film ini menggunakan banyak sekali bahasa metafor dan itu yang pengen saya tau. Mengapa Chinanya yang dipakai China Surabaya? Kenapa nggak China yang lain-lain? Mengapa menggunakan simbol di gurun, padahal gurun bukan habitatbabi, Mengapa babinya ditaruh di situ? Kalau menonton film, seperti bermimpi, interpretasi itu terserah kita. Tapi bahasa-bahasa itu pasti ada maksudnya kan. Apa maksud boneka kelinci di ruangan dokter gigi?

Edwin
Semua film mengandung metafor.

  1. China Surabaya? Karena saya orang Surabaya, tapi logat film ini kacau. Logat anak-anak dan Ladya itu sangat Jakarta, nggak Surabaya. Saya tidak membuat film tentang otentisitas tempat. Saya tidak membuat film sejarah Surabaya. Itu bukan metafor, kebetulan saja hal-hal teknis menuntun kita untuk ke Surabaya.
  2. Babi di Bromo? Betul babi tidak pernah ada di gurun, tapi di Bromo ada sih. Tapi mengapa babi sepertinya misplaced? Itu metafor bagi orang China, karena misplaced, karena tidak cocok/akrab.
  3. Soal kelinci, nggak saya pikirin. Karena lucu saja waktu itu. Kebetulan kelinci itu ada di tempat dokter. Saya memiliki kepercayaan, shooting boleh sesiap apapun, tanpa memperhatikan apa yang ada di shooting. Namun ternyata ketika di editing, Panca menggunakannya.

Panca

Dia tidak pernah memberikan pecahan shot yang begitu. Tugas saya yang harus mendapatkan hal indah dari itu. Alasannya teknis untuk trans/perpindahan dari adegan seks ke babi. Edwin jarang menggunakan skrip, jadi yang tau dia aja. Selalu ada ritual-ritual khusus dengan shot-shot. Saya perlu setengah tahun untuk menyelesaikannya. Pertanyaan statement-statement yang jadi question itu lama banget.

Ade Muana

Banyak sekali metafor di film ini. Saya melihat satu bagian perempuan ingin ikut Planet Idol. Kenapa kostumnya langsung berubah dan lagunya nggak match?

Edwin
Salma berjilbab setelah ke Planet Idol. Ini soal kostum dan identitas. Saya memiliki pertanyaan soal Negara dan jilbab, serta agama. Jilbab : ada nilai yang bisa mengangkat seseorang, sama seperti pakaian militer. Kostum/identitas: topeng. Ini bisa sangat disalahgunakan di Indonesia. Kita membicarakan karakter-karakter yang oportunis. Ini orang-orang yang harus memiliki kostum agar eksis. Saya berharap penonton bertanya apakah Joko ini memang benar-benar tentara atau bukan.

Moderator
Apa konsep metafornya? Kenapa pembelokannya terlalu ekstrim?

Edwin
Semua elemen film itu metafor, tergantung strukturnya. Film ini sangat tidak lancar bercerita secara naratif. Banyak pelanggaran cara bercerita yang normal. Makanya ketika ada ketidaklancaran itu , metafor bekerja. Masalahnya ini nonnarrative filmmaking. Film itu semua tanda/sangat metaforik. Dalam film naratif, karena dipancing dengan naratif yang halus, seolah-olah tidak ada metafor.

Yandi

Saya pernah buat film deskriminasi China dan tentang kerusuhan 1998. Saya juga merasakan ketakutan generasi di atas. Film ini diharapkan agar penonton berpikir, menurut saya berpikir. Threesome: pihak militer dan pemerintah (dari kostum) untuk mendapatkan kepuasan, dengan menindas China ini.  Kenapa memakai media sodomi untuk bicara penindasan ini? Soal judul, yang terbang siapa dan yang mana?

Edwin

Saya belum pernah memperlihatkan film ini ke orang tua saya. Tentang kenapa sodomi? Sebenarnya sangat teknis, sangat komposisi. Bagaimana menggambarkan hubungan ketiga karakter laki-laki ini? Dan kebetulan, perasaannya, kira-kira begitu. Ada perasaan selain komposisi. China, pemerintah dan militer, saya rasakan sangat mewakili banget. Saya yakin ini keputusan yang tepat. Ini perdebatan yang panjang. Apa harus seperti ini? Masalah angle, dua minggu debat. Ada kekhawatiran kita akan menyinggung karena salah dibaca. Tapi kita membuat film ini untuk diinterpretasi.

Terbang: sesuatu yang tidak mungkin. Judul saja sih supaya muda diingat. Judul bisa mematikan. Orang kan pertama kali lihat judulnya, baru sinopsis, sebisa mungkin bisa mewakili.

Moderator

Menurut kalian, konsep film seperti apa sih? Kenapa film nggak direct saja?

Edwin
Saya suka dengan konsep sinema. Kita menonton film, orang yang kita lihat di layar, di saat yang sama ada di tempat lain, melakukan hal yang lain. Itu momen yang ajaib. Ketika kita mendapatkan sesuatu dari film, kita jadi manusia yang berhak mewakili dan menilai. Itu kebutuhan manusia. Kita butuh menilai diri-kita sendiri. Sinema harus bisa mengembalikan fungsi itu: kita menjadi manusia, tanpa harus bersentuhan dengan dunia riilnya. Kalau kita sendiri, ada banyak pertanyaan. Ketika kita ditemani layar dua dimensi, kita jadi utuh. Itulah sinema. Ketika Lumiere menunjukkan film keretanya, pengalaman itu cuma bisa dilakukan oleh sinema. Sinema sebagai propaganda dan pesan-pesan, itu nomor sekian.

Nayla Majestya

Apa pengaruh festival ke film-film Edwin? Ada ambisi untuk membuat bahasa visual baru? Menurut kalian, film kalian itu bagaimana?

Edwin

Saya nggak bisa memastikan film saya akan diputar di festival. Kita membuat film ini minimal buat kita sendiri. Ada sesuatu yang mau kita kerjakan bareng-bareng. Sama sekali nggak ada keyakinan untuk festival. Untuk apa juga? Di festival, kita juga nggak dapat duit sama sekali. Mungkin bisa dibilang, festival adalah kesempatan untuk melihat penonton film yang lain. Tiap tempat beda karakter. Menonton film yang lain, bertemu dengan orang-orang ber-passion yang sama. Perasaannya spiritual.

Meiske “Dede” Taurisia

Apa dampak festival? Babi Buta masuk ke 45 festival. Saya kirim mereka satu persatu. Itu semua prakarya. Itu kerja yang gila-gilaan. Kita apply sendiri, cari sendiri. Ada saat, sangat capek di festival. Di festival saya nggak bisa nonton film karena saya harus bertemu banyak orang. Satu festival, saya mengirim email minimal ke 50 orang. Saya sibuk usahaian. Itu bukan tugas yang gampang. Festival itu gambling. Setelah menjalani semua ini, kesimpulan saya: simply membuat film yang bagus. Festival adalah ruang screening alternatif.

Edwin

Bahasa visual: akan ada karena film cuma dua: film yang besar sekali dan film yang sangat personal. Itu yang saya pegang banget. Dan saya percaya, film personal itu akan terus ada dan dibutuhkan. Film-film yang di tengah-tengah ini adalah film-film banci. Personal: hal-hal unik yang akan muncul dari pembuatnya. Hal ini akan memunculkan bahasa-bahasa yang unik.

Roy

Apa yang mendorong kepingan-kepingan itu? Apakah Edwin akan tetap di karya seperti ini atau akan berubah? Untuk Dede, sebagai produser, hal apa yang paling sulit dilakukan? Film yang bagus itu seperti apa?

Meiske “Dede” Taurisia

Hulahoop Sounding (film pendek Edwin, pen.) skripnya jadi utuh. Itu skrip biasa saja. Film pesenan dari Rotterdam. Babi Buta: cuma pecahan-pecahan, banyak sadarnya saat nulis.

Angga

Kenapa lagunya Stevie Wonder? Ini persoalan statement tapi kan terjadi dialog dengan penonton. Apakah pertanyaan-pertanyaan dalam film itu sudah terjawab?

Edwin

Sebenarnya saya nggak suka banget dengan Stevie Wonder tapi saya pengen share memori manusia tentang sebuah lagu yand dibombardir terus-menerus. Apa yang dirasakan oleh China itu sama, dari waktu ke waktu, nggak berubah. Lagu ini tidak akan pernah cukup.

Puput

Sampai sejauh mana shot dikonstruksikan? Ada nggak kepentingan-kepentingan lain yang mempengaruhi keputusan-keputusan itu? Kira-kira gimana posisi aktris di dalam sinema?

Edwin
Dalam penciptaan, saya punya image sendiri tapi film adalah hasil karya banyak orang dan alam. Saya benci banget dengan kata auteur, karena itu omong kosong. Itu bahasa bisnis/marketing. Tidak akan ada auteur kalau editing/shooting sendiri.

Edwin

Tipe film yang ideal menurut saya, bisa ditonton berkali-kali. Film yang mengganggu, bisa ditonton berulang-ulang.  Saya sering menonton film dan kadang apa yang saya dapat tergantung suasana hari itu. Film yang paling enak: film yang bisa ditonton terus-menerus.

Kerusuhan 1998: sekuens ini diluar yang saya pikirkan. Ini adalah hasil dari membuat/proses ketemu orang-orang. Ngomongin China berarti ngomongin 1998. Itu momen yang penting. Perlu nggak ya ada 1998? Pertanyaan itu menjadi penting ketika ketemu orang-orang. Kita belum tahu statement kita tentang 1998. Lalu kita cari footage dulu. Saya nggak bisa bikin statement yang cukup jelas tentang 1998. Yang mau kita kasih lihat : 1998 adalah kompleks banget. Saya nggak bisa bikin sesuatu yang kongkret/riil, yang semua orang sepakat. 1998 sangat dimaknai banyak orang. Saya nggak bisa mengorbankan statement orang-orang ini. Chaos banget nih 1998. Jadi adegannya seperti itu. Ada semacam kebingungan, antara generasi pasca-1998.  Kita mau percaya siapa. Film ini sudah dua tahun dan masih diputar.

Katinka van Heeren
What do you get from the therapy? Apakah kamu dapat kebanggaan sebagai orang China setelah film ini? Apa hasil dari mengurangi dari angry to questioning? Kenapa penonton Indonesia tidak mau bertanya? Apakah karena permasalahan dalam film masih hidup di sini, masih jadi masalah?

Edwin

Saya pribadi banyak mendapatkan pertanyaan kenapa saya tidak boleh menjadi China. Ada usaha dari kecil, supaya saya tidak menunjukkan identitas saya sebagai China. Saya nggak pernah dapat jawaban. SEcara nggak sadar ternyata itu sangat mengganggu untuk diri-sendiri. Saya ini apa? Tidak ada kebebasan.

Setelah film ini, banyak pertanyaan. Saya tidak pernah bisa ngobrol dengan sesama China, tapi karena ngomongin film, ada kesempatan untuk memaknai diri saya sendiri. Saya cukup bangga bisa menyelesaikan diri saya sendiri. Saya pengen belajar, saya nggak terlalu peduli lagi sekarang. Gangguan saya sudah terjawab.

Panca
Yang tidak pernah diobrolin, diobrolin. Kasusnya beda-beda. Edwin punya masalah takut ketahuan China. Saya harus ngasih tau kalau saya memang China. Dulu saya nggak mau mengaku sebagai China. Setelah film ini, saya tidak malu mengakui bahwa saya China. Itu masalah banget. 1998 itu berat banget. Saya hidup di Pecinan jadi merasakan sendiri.

Meiske “Dede” Taurisia
Dari kecil, soal China nggak boleh ditanyakan. Saya jadi yakin, kata-kata abstrak, problem identitas, lama-lama benar-benar kerasa.

Sylvia
Sempat nggak ada kekhawatiran bahwa pesan yang diinginkan tidak sampai?  Bagaimana soal tanggung jawab sutradara untuk membuat frame-frame?

Edwin

Saya yakin dosen-dosen (dosen film, pen.) itu tahu bahwa ada yang sebenarnya di luar rancangan manusia yang lebih indah. Kadang-kadang kita tidak pernah tahu sekarang. Sinema selalu mengandung hal-hal yang tidak bisa dijelaskan. Itu soal timing. Kita belum bisa menjelaskan. Tapi saya yakin ada hal-hal magis/spiritual yang membuat film ini jadi. Seperti kata Yasujiro Ozu, metafisik itu penting. Ketika alam turut campur, itu bonus banget. Film bukan sekadar/harus menyampaikan pesan. Kata Bela Tarr, hanya iklanlah yang menyampaikan pesan. ***

Advertisements
Posted in: Uncategorized