Klub Kajian Film: Lukas’ Moment

Posted on March 15, 2011

0


Pembicara: Aryo Danusiri (pembuat film, Harvard University)
19 Agustus 2009

Latar Belakang: Antropologi Visual
Sebelum membicarakan soal film ‘Lukas Moment’, saya ingin menjelaskan tentang antropologi visual dan etnografi visual. Selama ini kedua hal ini dipahami sebagai dua kutub yang berlawanan. Antropologi visual merupakan bagian dari disiplin ilmu antropologi yang berfokus pada media visual.  Antropologi visual terdiri dari dua disiplin, yakni antropologi media dan etnografi visual.

Istilah antropologi media telah diterima di kalangan antropologi arus utama untuk mengacu pada kebudayaan yang terlihat (visible culture). Etnografi visual sendiri berasal dari sejarah antroplogi perjuangan. Dalam etnografi visual, para antropolog mempelajari bagaimana media visual bisa menjadi metode dalam etnografi. Dalam etnografi visual, ekspresi visual dari antropolog tidak sekadar menjadi ilustradi dari penelitian antropologi.

Pada abad 19, antropologi berfungsi terutama untuk memahami keberadaaan kebudayaan serta persebarannya sehingga antropologi fisik menjadi penting. Pada tahun 1940-1950-an, Malinovsky meninggalkan pendekatan evolusionistik dalam antropologi dan mengatakan bahwa setiap budaya memiliki inner logic-nya sendiri. Pada masa-masa ini, visual tidak hanya mendokumentasikan aspek-aspek fisik, namun juga menjelaskan keberagamannya. Saat itu muncul istilah seperti ikonophobia (ekspresi ikonik yang ditakuti). Ikonophobia menyangkut kronopolitik (studi atas manusia dimunculkan dalam waktu tertentu/terperangkap waktu, contohnya pada zaman batu, masyarakat yang diam), berjarak (distance antara masyarakat yang dipelajari dengan antropolog) dan obyektif.

Pada tahun 1973, terjadilah sebuah pertemuan para antropolog visual yang dipimpin oleh Margareth Mead. Muncul pertanyaan, mengapa kita mengirim antropolog-antropolog dengan pena dan buku sementara sudah ada perkembangan baru dalam teknologi perekaman? Pada masa ini, telah ada kamera 16mm yang portabel serta teknologi sinkronisasi suara. Dekade ini juga ditandai oleh menyebarnya teknologi dan media TV yang telah melakukan kerja-kerja dokumentasi.  Jean Rouch, seorang pembuat film dari Perancis, bahkan mengatakan bahwa kamera merupakan alat investigasi pengetahuan bagi antropologi.

Selain faktor-faktor ini, penggunaan teknologi ‘baru’ juga dirangsang olehkebutuhan  untuk mengkonservasi budaya-budaya yang hampir punah. Maka pada dekade ini (sebenarnya dimulai sejak tahun 1960-an), film dan foto mulai digunakan sebagai metode antropologi.

Pada tahun 1980-an antropologi merevisi pendekatannya dari abstraksi dan jarak menjadi fenomenologi dengan tekanan pada tubuh dan praktik-praktik antropologi. Pada saat ini, etnografi visual mulai berkembang. Metode yang umum dipakai adalah riset selama setahun atau dua tahun kemudian ditulis. Setelah itu, antropolog pembuat film akan menulis skenario dan melakukan perekaman (shooting).   Pendekatan fenomenologi lebih menekankan pada pengalaman sensorial dan embodied knowledge.

Tentang Lukas’ Moment
Saya mengerjakan film ini sejak musim panas tahun 2004 ketika saya melakukan fieldwork (penelitian lapangan). Lokasi film ini berada di daerah suburban Merauke, di Papua. Saat itu saya ingin melihat dinamika suku asli Papua (indigenous people) dan para pemilik tanah.

Saya menggunakan long take shot sebagai bentuk/teknik yang bisa mempresentasikan sebuah kebudayaan secara holistic. Saya melakukan riset dengan kamera, namun saya bermaksud membongkar obyektivitas dan jarak dalam studi antropologi dengan menggambarkan kedekatan (intimacy) lewat kamera.  Selama masa riset dan perekaman, saya menggunakan kamera digital. Tidak dapat disangkal bahwa kehadiran kamera, terutama kamera digital membuat perilaku berubah. Namun saya menempatkan diri/kamera saya sebagai katalis dalam peristiwa-peristaiwa yang terjadi di dalam film.  Saya ingin mengajukan pertanyaan, sejauh mana kemungkinan perubahan setelah ada kamera?

Lukas adalah subyek yang ketiga, setelah dua lainnya gagal di awal proses. Saya benar-benar berangkat dari nol dan menunggu sesuatu terjadi. Sebelumnya saya tinggal di masayrakat pemburu dan nelayan (hunting dan fishing).  Lalu saya bertemu Lukas dan saya mengikuti apa yang dia lakukan dan apa yang dia tuju.

Setelah reformasi, menjadi terlihat (being visible) menjadi sangat penting bagi Papua. Selama ini ide mengenai indigenousity tersebar di mana-mana di Papua. Ekspresi muncul secara tak terprediksi (muncul dalam praktik sehari-hari). Saya ingin memperlihatkan hal ini.

Diskusi
Ibnu Rizal
Selama ini antropologi selalu identik dengan eksotisme subyek oleh ilmuwan Barat. Saya melihat antropologi banyak mengeksploitasi subyek. Apakah ini adil bagi kita dan subyek?  Yang kedua, saya ingin bertanya tentang antropologi visual. Apakah ini sama dengan dokumenter-dokumenter yang ada di National Geographic dan Discovery Channel?

Aryo Danusiri
Pertanyaan pertama: menurut saya, semuanya ada risikonya. Namun harus dipahami bahwa antropologi mengembangkan metodologinya untuk memahami perbedaan. Ia menghindari komodifikasi. Selama ini memang sering dikatakan secara bercanda bahwa sosiologi adalah ilmu untuk mempelajari masyarakat Eropa, sementara antropologi adalah ilmu untuk mempelajari masyarakat non-Eropa (the other). Namun antropologi sendiri dimensinya sangat luas. Dalam disiplin ini juga ada metode kuantitatif yang percaya pada instrumen-instrumen dan kualitatif yang lebih subyektif.  Antropologi bersifat polifoni dan kita memang harus melihat relasi kuasa yang terjadi. Banyak proses pencatatan dari kerja-kerja komunikasi menjadi hilang. Ini merupakan risiko.

Pada tahun 1970 ada sebuah seri berjudul Dissapearing World yang berisi perburuan paus.  Ini merupakan program televisi yang melibatkan para antropolog namun para antropolog kecewa karena logika televisi tentu sangat berbeda dengan disiplin antropologi. Negosiasi seperti ini terus berlangsung.

Henny Septantia
Selalu ada tanggapan negatif jika seorang antropolog membawa kamera. Selain itu, disiplin antropologi visual itu sangat Amerika, tidak berkembang di Eropa. Di Eropa, antropologi hanya menyangkut antropologi fisik dan etnografi.  Bagaimana ini? Kemudian soal lokasi, apakah memvisualkan pengalaman manusia di setting urban masih bisa disebut etnografi?

Aryo Danusiri
Di Harvard, pada awalnya antropologi terdiri dari arkeologi dan antropologi sosial. Antropologi sosial ini bersifat lebih eklektik dan dapat menampung studi-studi urban. Studi masyarakat urban biasanya menggunakan ethnic studies dan urban studies.  Disiplin ini berbeda dengan human evolution  yang menjadi disiplin sendiri (bukan bagian dari antropologi).

Gede
Saya ingin bertanya soal film Lukas’ Moment. Saya melihat saat adegan memancing, para subyek tidka canggung di depan kamera. Bagaimana bisa begitu?

Aryo Danusiri
Pada saat-saat terakhir field work saya di Papua, sebenarnya saya sudah hampir menyerah. Saya iklas saja menunggu apa yang terjadi (karena belum menemukan subyek). Tetapi ya saya menggunakan intuisi, pengetahuan, ketrampilan/latihan (yang saya dapat dari sebulah field work) dan juga sense of adventure.

Saya ‘menemukan’ Lukas bersama teman-temannya dan ia ingin membuka usaha ikan itu. Ini merupakan moment yang sangat penting bagi Lukas. Namun Lukas tidak memiliki kesadaran (aware) dengan media. Saya sendiri menggunakan metode observational cinema. Saya banyak mengambil long take, dan tidak menekankan pada montase.

Budi Wibawa
Saya melihat dalam antropologi visual ini banyak problem-problem etis. Sementara dalam film, pembuat film banyak berurusan dengan problem estetis. Saya ingin tahu, bagaimana antropologi visual melihat estetika?

Aryo Danusiri
Visual ethnography telah berubah ke sensory ethnography. Hal ini bertujuan untuk mencari irisan antara film non-fiksi , etnografi dan estetika. Etnografi lebih mengacu pada persoalan-persoalan/isu sosial. Estetika bertujuan untuk mengembangkan bahasa visual, jadi ada irisan ke seni/seni visual (penemuan-penemuan kerupaan). Hal ini bisa kita lihat dalam karya-karya Stan Brakhage (pembuat film eksperimental Amerika) atau Lucien-Castaing Taylor (filmnya telah diputar di Berlinale).

Affandi
Antropologi kan selama ini bersifat abstrak dan ilmiah. Bagaimana dengan film yang dbuat dalam konteks antropologi? Apakah kita masih bisa mengaplikasikan pemahaman ilmiah ini? Apakah deskripsi/metode masih penting?

Aryo Danusiri
Sama seperti antropologi tertulis (yang menggunakan tulisan untuk menceritakan pengalaman), antropologi visual juga menggunakan narasi. Ada tiga momen besar dalam antropologi visual:

  1. Margareth Mead yang menggunakan kamera cangking
  2. Robert Gardner: tidak ada narasi/tidak ada subtitle
  3. Penemuan long take shot oleh teknologi digital

Sekarang ini pengetahuan yang bersifat sensoris lebih penting. Clifford Geertz merupakan contoh antropolog yang sangat pandai dalam deskripsi. Ia sangat sibuk dengan klasifikasi (ilmu pengetahuan yang holistic). Tetapi proses interpretasi juga merupakan proses penting. Michael Jackson (Cambridge University), sebagai contoh,  bisa menggambarkan deskripsi sebagai sensoris ketubuhan.

Jimmy Paat
Apakah dalam etnografi, kata-kata bisa bersifat redundant atau visualnya yang redundant? Dimana perbedaan di antara anak-anak Papua dan anak-anak dari daerah lain? Apakah Lukas sekolah?  Apakah etnografi visual juga mengandung kritik? Apakah etnografi visual juga ingin memberdayakan subyek, bukan hanya mendeskripsikannya?

Aryo Danusiri
Saya jawab pertanyaan kedua dulu. Lukas memang sekolah. Perbedaan Lukas dengan anak-anak di daerah lain terlihat dalam adegan ketika ia berdialog dengan ayahnya. Saya menggunakan pengertian Daniel Rutherford tentang mitos-mitos Papua soal ratu adil. Saya ingin membuat penonton/pembaca melihat/memahami film sebagai konstruksi. Dalam berbagai adegan dan obrolan, saya ingin memperlihatkan bahwa ada pembuat film yang sedang merekam subyek. Etnografi visual berangkat dari titik ini, yakni menggunakan kamera untuk melihat sejarah bahasa baru. **

Posted in: Uncategorized