Digital : Sebuah Dispositif Dalam Film

Posted on March 22, 2011

0


Kamis, Februari 2011

Pembicara: Mohamad Ariansah

 
Dalam presentasi ini, saya akan membicarakan soal digital dan dispositif. Dua hal ini sebenarnya merupakan isu yang berbeda dan memiliki sejarahnya masing-masing. Untuk menggabungkan keduanya mungkin kita bisa berangkat dari pembicaraan soal teknologi sinema. Sebenarnya sangat sulit untuk mendefinisikan secara ketat apa arti digital karena terlalu luas. Tapi rumusan mudahnya adalah sebagai berikut. Digital adalah perluasan dari kata digit, yakni prosesing angka-angka yang sering dirumuskan lewat kode binari. Digital bersifat integral, mencakup pada pengertian tentang revolusi digital, komputerisasi, imaji animasi, perkembangan media baru dan revolusi internet.

Digital dan Film

Dalam industri film, isu digital umumnya dipahami sebagai ‘membuat produksi  [film]lebih murah’. Sinema digital dianggap dapat mengurangi biaya pembuatan film. Digital juga dikaitkan dengan perkembangan perangkat lunak 3D yang membuka kemungkinan imajinasi yang lebih luas luas.  Teknologi 3D juga memungkinkan penonton menjadi kreator, sehingga muncul istilah interaktif yang perkembangannya sebenarnya dipengaruhi oleh virtual game. Dalam permainan ini, penonton terlibat dalam proses menentukan wujud fisik yang ingin ia lihat, jadi bukan sekadar ikut dalam proses pemaknaan.

Apakah definisi digital hanya seperti ini saja?Tidak. Saat ini kita masih berada di masa transisi, belum revolusi digital yang sepenuhnya. Dalam film, perdebatan yang terjadi adalah apakah film tetap memakai seluloid atau digital?

Digital merevolusi sinema dalam hal nilai ekonomi karena lebih murah. Digital juga mengubah alur produksi (pra-produksi-pasca) yang tidak harus sepenuhnya menggunakan seluloid ataupun digital. Dalam film Hollywood, film yang digital sepenuhnya sebenarnya masih jarang. Sejauh ini hanya film Wachovski Brothers, The Matrix Reloaded. Selain di tingkat produksi yang menggunakan digital, eksebisi/pemutaran film ini juga telah menggunakan digital. Jadi proses eksebisi terjadi dengan ditransmisikannya data film The Matrix Reloaded dari Los Angeles ke bioskop-bioskop di berbagai negara.

Sekarang ini, banyak pembuat film yang menganggap film/seluloid sudah kuno dan digital sepenuhnya adalah masa depan film. Pembuat film ini telah menggunakan perangkat lunak sejak pra-produksi hingga eksebisi. Digitalisasi memungkinkan data film disimpan dalam satu hardisk untuk disebar ke seluruh dunia.

 

Digital dan Dispositif Sinema

Sebenarnya sia-sia dan sulit untuk bicara soal teknologi digital secara total. Hal yang lebih menarik adalah biara tentang karakteristik imaji (citraan/gambar) dalam dispositif sinema. Dalam digital, karakteristik imaji adalah sebagai berikut:

  1. Dalam imaji digital, tidak ada perbedaan/penurunan kualitas antara master dan copy.  Hal ini berbeda dengan teknologi analog. Ketika kita membuat kopi dalam teknologi analog, maka akan terjadi penurunan kualitas dari master ke copy.
  2. Dalam teknologi digital, data diubah menjadi angka. Angka inilah yang merekonstruksi imaji baik yang ingin tampak semirip mungkin dengan realita maupun fully modified hingga membuat obyek yang benar-benar berbeda.

Dua hal ini mengakibatkan perdebatan antara imaji dan realitas dalam digital tidak lagi relevan. Digital merekayasa sepenuhnya. Digital memungkinkan pembuat film mencapai taraf plastisitas pembuatan film yang sebelumnya hanya dimungkinkan dalam lukisan dan animasi. Digital tidak memiliki keterbatasan. Batas digital adalah daya penyimpanan data (storage).

Dari karateristik ini, kita bisa menyimpulkan bahwa digital bukanlah sinema. Ia adalah kelanjutan dari animasi karena subyektifitas pembuat film dalam digital adalah penuh layaknya pelukis.

 

Dispositif

Dalam bahasa Inggris, dispositif berarti apparatus (perangkat). Saya akan menggunakan kosakata ini untuk menjelaskan tentang teknologi digital.  Baudry menulis tentang apparatus dalam dua makna. Pertama, dispositif adalah mesin mekanik film (kamera, proyektor, layar, dll). Kedua, dispositif adalah segala perangkat yang membentuk proses kepenontonan. Pengertian ini merujuk pada  kondisi psikologis yang memungkinkan penonton menonton film layaknya mengintip (voyeur). Contohnya, ruangan yang gelap, tidak adanya suara lain, dll. Pemahaman kedua inilah yang memberi pijakan pada pengertian dispositif sebagai mekanisme mental penonton.

Secara garis besar, dispositive mengacu pada semua diskursus dalam tiap institusi sinema, baik yang eksplisit maupun implisit, yang terkatakan ataupun tak terkatakan. Contoh yang mudah dipahami: perdebatan tentang Ahmadiyah. Ada yang menganggap perdebatan itu menyangkut agama. Sementara yang lain soal ideologi. Itu semua disebut dispositif.

 

Dispositif yang muncul tentang digital terdiri dari beberapa hal, antara lain:

  1. Film hanyalah produk sains. Jadi perkembangan atas teknologi digital adalah bersifat ilmiah.
  2. Perkembangan zaman mendorong digital muncul. Zaman meminta teknologi yang dapat menangkap gambar bergerak/realitas kontemporer.

 

Dalam konteks ini, digital sebenarnya bukanlah persoalan film. Ia adalah perkembangan mahaluas yang menyinggung, salah satunya tentang film. Digital ada bukan karena film. Ia lebih besar daripada itu. Digital itu persoalan kemanusiaan. Yang ditantang adalah manusia dalam dimensi sosialnya, bukan hanya pembuat film. Nilai kemanusiaan macam apa? Manusia itu apa? Apakah ia perlu bersosialisasi ketika semua hasratnya bisa terpenuhi? Apakah ketika digital bisa memenuhi seluruh kebutuhannya,  ia tidak memerlukan masyarakat?

 

Diskusi

German Mintapraja
Saya seorang penata kamera dan tertarik dengan isu revolusi kamera digital. Menurut Robert Rodriguez, film telah mati. Di kalangan penata kamera sekarang ini, terutama di Indonesia, sudah jarang orang menggunakan seluloid. Kebanyakan menggunakan kamera digital. Bahkan bagi beberapa orang, digital sudah selesai, sekarang adalah  file base era. Jadi data tidak ada bentuk fisiknya. Kondisi ini sangat mengubah proses kerja (work flow) pembuatan film. Namun secanggih apapun teknologinya, tetap yang tidak berubah, yaitu kaidah-kaidah dasar sinema seperti konvensi close-up, high angle, dll.

Sekarang ini muncul DSLR (digital single lens reflex) cinema (contoh: kamera Canon 5D/7D yang sekarang banyak dipakai pembuat film). Dengan DLSR ini ada perubahan yang signifikan dalam profesi penata kamera. Mau jadi sinematografer atau fotografer? Perkembangan ini cukup menarik. Oleh karena itu, saya ingin bertanya tentang bagian akhir presentasi, yakni soal digital dan kemanusiaan. Boleh dijelaskan kemanusianyang seperti apa yang mengalami perubahan?

 

Mohamad Ariansah

Dalam kasus ini, istilah ‘film is dead’ bukanlah hal yang relevan. Digital dan seluloid adalah dua hal yang berbeda karena karateristik imaji/gambar yang dihasilkannya berbeda. Digital itu ibaratnya seperti penumpang gelap dan berusaha dimasukkan ke dalam wacana sinema, kemudian sinema disuruh ‘nurut’ ke digital. Urusan digital sebenarnya cuma berusaha mencapai kualitas dengan lebih mudah dan murah. Jadi tidak ada urusan dengan kemampuan pembuat film. Yang bisa membuat film mati adalah ketika orang sudah tidak mau membuat film lagi, bukan teknologi digital.

Bicara soal kemanusiaan dan digital, film sebenarnya terlalu kecil untuk bicara itu. Terobosan digital yang paling groundbreaking adalah second life (teknologi penciptaan avatar).  Kebayang nggak kalau digital total semacam second life terjadi? Ruang sudah tidak penting. Manusia mungkin tidak perlu berinteraksi secara langsung dengan manusia lain. Dan inilah yang jadi pertanyaan. Apakah manusia sebagai makhluk sosial dan manusia politik masih relevan? Jadi persoalannya adalah kemanusiaan sebagai implikasi.

 

Henny Septantia

Digital adalah hal penting yang dampaknya terasa, bukan hanya di film, tapi juga hal lain. Saya juga tidak percaya film is dead. Menurut anda apakah isu digital ini sudah sampai ke situasi krisis? Apakah ini sudah mencapai soal krisis kemanusiaan? Ini memang isu besar. Tapi tidak semua isu besar adalah krisis. Kalau ini sudah krisis, apa yang harus dilakukan selanjutnya?

 

Mohamad Ariansah

Pertanyaan itu hanya jadi relevan kalau post-factum (sudah terjadi). Digital hanya bersifat krisis ketika revolusi digital terjadi secara total. Jika hasrat kita semua sudah terpenuhi oleh kecanggihan digital, kemungkinannya adalah kemunculan pertanyaan seperti apakah manusia butuh orang lain? Apakah manusia butuh pengetahuan lagi?

 

Veronika Kusumaryati

Menurut saya itu bukan hal yang baru. Contohnya, Facebook, yang awalnya dimaksudkan untuk membuat orang lebih sosial, tapi ternyata malah membuat orang asosial. Itu konsekuensi logis. Tapi persoalannya adalah bagaimana menyikap teknologi digital ini? Bagaimana dengan para pembuat film (imagemaker) menyikapi hal ini? Bagaimana memahami sejarah teknologi sinema?

Teknologi digital adalah teknologi yang ‘direstui’ Hollywood, tapi digital di sini kan hanya menyangkut teknologi HD (high definition), bukan teknologi video digital (yang banyak berkembang di Indonesia). Format bakunya tetap HD. Bagaimana memahami fenomena ini?

German Mintapradja

Saya tertarik dengan pernyataan mbak Henny soal krisis. Menurut saya, digital ini bukanlah  krisis kemanusiaan tapi krisis di sinema. Kita kena imbas dari WNI yang karateristiknya pemakai, bukan pencipta. Sekarang setiap orang bisa bikin film tanpa perlu kebutuhan produksi maupun eksebisi yang standar. Akibatnya, nilai film semakin ‘turun’.

Kusen Donny

Kok menurut saya tidak terjadi krisis seperti yang dikatakan mas German. Dulu perkembangan teknologi suara menuruti keinginan penonton yang lebih suka mendengar suara yang sempurna. Tapi sebenarnya, manusia kan tidak biasa mendengar suara yang sempurna. Teknologi pun berubah, mengikuti keinginan manusia.  Teknologi dalam hal ini memang membuat lebih murah, tetapi kualitas tetap berbeda, tergantung dari manusianya. Contohnya, di fotografi masih ada orang yang memakai kamera lubang jarum walaupun teknologinya sudah sangat ketinggalan. Selain soal ekonomi, saya tetap melihat ada aspek kemanusiaan. Ketika teknologi sudah sangat canggih, bagaimanapun tetap ada pilihan untuk membuat film dengan seluloid. Ini kan sama dengan kembali populernya polaroid dan kamera lom. Buat saya ini bukan krisis.

 

Henny Septantia

Saya sepakat dengan mas Donny. Ketika kita menganggap ini sebagai persoalan kemanusiaan, saya sepakat. Tapi ketika kita anggap ini krisis, jangan-jangan kita itu paranoid. Tiap ada perubahan baru kita takut ini akan membawa implikasi buruk ke kehidupan normal. Sungguhkan ini ancaman? Atau ini bagian dari perubahan dunia karena memang waktunya untuk digitalisasi?

German Mintapraja

Yang saya maksud krisis,adalah ketidakjelasan. Ketiadaan tujuan yang sama. Minimal harus ada konvensi yang disepakati. Krisis itu maksudnya: keilmuan sinematografi yang baku dan klasik goyang, serta soal ekonomi yang berhubungan dengan lapangan kerja yang spesifik.

 

Gatot Subroto

Kalau saya lihat ternyata memang dibutuhkan suatu hukum tertentu mengenai sinema digital.  Ketika digital berlaku, tidak satupun sistem di dunia ini aman. Bentuknya kan bukan fisik, tapi informasi dan ini tidak bisa dijaga secara total. Hacker makin canggih. Secara umum, bukan film/celluloid is dead, tapi cinema is not dead. Bisa saja nanti muncul perangkat lunak pembuatan film sehingga semua orang bisa jadi filmmaker. Ketakutannya justru pada nilai eknomi industri. Para produser akan membayar tenaga kerja secara murah karena sudah digital. Aspek kemanusiaan dalam penciptaan kreatif jadi kehilangan nilai ekonomi.

Mohamad Ariansah

Esensinya adalah soal manfaat. Kita pinggirkan dulu soal distopia ini. Ada dua plot dalam perkembangan digital. Di satu sisi ada teknologi Digital Video dan High Definition. Itu hal yang terpisah. DV adalah bagian dari perkembangan video. Yang mau dilawan DV adalah TV. Digital juga kemudian dipakai untuk melawan film-film Hollywood. HD itu jawaban sistem ekonomi sinema. HD membuat sistem yang lebih efisien dalam mendekati sinema.

Dalam perspektif auteur (penciptaan), HD dan DV adalah perkembangan linear karena mereka bisa jadi bagian dari eksperimen gambar. Kalau industri mau standar gambar yang kualitasnya bagus, kita lihat HD dan DV.

 

Kusen Donny

HD sebenarnya sudah dari tahun 1980-an. Teknologinya berasal dari HDTV. Sekarang ini, HD ingin menggantikan pola pemutaran di layar lebar.

 

Rina Harahap

Digital merupakan revolusi ekonomi tapi di industri film di Indonesia, pengertian ini menjadi salah kaprah, yakni dengan tidak/kurang menghargai filmmaker dan kru secara layak. Karena digital berarti murah, produser jadi menganggap murah hal lainnya juga.

 

Henny Septantia

Yang disampaikan Rina dan Gatot soal penghargaan terhadap filmmaker tidak ada urusannya dengan teknologi. Di Jepang teknologi berkembang, tapi standar penghargaan tetap tinggi. Itu soal mental feodal.

German Mintapraja

Saya setuju  dengan mbak Henny. Itu hanya senjata para produser untuk menekan biaya dan upah kru. Itu kan jadi strategi para praktisi dalam negosiasi dengan produser. Saya cenderung hanya mau syuting proyek dengan seluloid.

Diskusi selesai.

Advertisements
Posted in: Memento