Talk: Minggu Pagi di Victoria Park

Posted on May 3, 2011

0


Bersama Lola Amaria (sutradara) dan Dewi Umaya (Produser)

16 Maret 2011

Lola Amaria

Latar Belakang “Minggu Pagi di Victoria Park”

Selamat sore semuanya. Saya terus terang deg-degan karena pertama kali film saya diputar di kampus film. Saya masih belajar, banyak kekurangan.

Ide/gagasan awal film ‘Minggu Pagi di Victoria Park’ dimulai tahun 2007. Lalu kita mulai riset tahun 2008 dan mulai penggambilan gambar (shooting) tahun 2009.  Ide awalnya berasal dari pengalaman saya sendiri saat main film di Taiwan. Film “The Detours of Paradise” dirilis di Taiwan tahun 2009 namun tidak diputar di Indonesia. Film ini bercerita tentang tenaga kerja Indonesia (TKI ) di Taiwan. Dari main di film itu saya melihat dengan mata kepala sendiri kondisi TKI di sana. Selama ini citra (image) yang beredar tentang TKI adalah bahwa TKI tidak nyaman, sering disiksa dan lain-lain. Di Taiwan situasinya berbeda.  Saya juga heran, kenapa orang Taiwan yang membuat film tentang TKI, bukan orang Indonesia. Jadi setelah itu, saya pengen membuat film tentang TKI tapi  bukan soal TKI yang disiksa. Banyak TKI yang sukses dan belum banyak yang diceritakan

Pada tahun 2008, saya bertemu Titin Watimena dan Dewi Umaya. Kita berdiskusi kemudian tertarik untuk membuat film di Hongkong. Saya pernah ke sana untuk liburan namun saya bisa lihat banyaknya TKI  di sana. Jadi saya tertarik untuk membuat film di Hongkong. Kita ketemu orang konsulat, agen, dll. Banyak hal yang didapat. Film ini sendiri dibuat berdasarkan kejadian nyata (true event). Kami merangkum hasil penelitian di lapangan,  membuat tokoh dan mengambil sisi dramatik. Tokoh-tokoh di film itu memang ada. Lalu kami membuat dramanya.

Bayangan saya, situasinya tidak akan serumit ini. Jadi TKW ya tinggal pergi saja. Tapi ternyata di Hongkokng, calon TKW harus masuk pendidikan selama 6 bulan, harus bisa bahasa Canton, dll. . Mereka hanya mau dengan pembantu yang siap semuanya.

Produksi

Proses pre-produksi film ini lama, sekitar 1, 5 tahun. Skenario dibuat sampai draft 10. Shooting 1,5 bulan di Hongkong (shooting days 20 hari). Sisanya di Porong.  Proses seluruhnya kira-kira 2 tahun hingga bisa masuk bioskop.

Q+A

Panji
Apa kesulitan menyutradarai sekaligus bermain sebagai aktor dalam film ini?

Lola Amaria

Sebenarnya saya nggak mau main, karena berat banget. Ada banyak alasan kenapa saya mau main. Saya  sebenarnya mau casting orang lain tapi produser saya, Dewi ‘memaksa’ saya untuk main. Menurut dia, saya tahu sejak awal cerita film ini termasuk seluk-beluknya, selain bahwa lebih irit kalau saya juga main (tertawa). Dalam persiapan, saya punya co-director, Titin Watimena yang sangat membantu. Jauh sebelum produksi dimulai, saya bikin konsep penyutradaraannya. Jadi ketika shooting semua sudah jadi. Persiapan sangat ribet, tapi shooting gampang. Saat  saya menyutradarai, saya berperan sebagai sutradara pada umumnya. Tapi kalau saya sedang main, Titin Watimena yang mengambil alih penyutradaraan. Semua unsur saling mendukung,: artistik, sinematografi, dll. Saya bersyukur mendapat pemain dan kru yang bagus-bagus.

Penanya
Saya sudah nonton film ini dua kali dan saya sangat terkesan dengan alur ceritanya. Tapi film ini, mbak Lola ngomong bahwa kebanyakan masalah TKW diakibatkan oleh TKW itu sendiri. Sebenarnya ini kesalahan siapa? Saya pernah lihat di Tanjung Priok TKW berangkat tanpa bisa baca tulis. Saya pernah transit di Muscat, ada TKW yang dianiaya sampai pincang. Apakah kebobrokan dari kita orang Indonesia atau mereka/majikan yang jahat?

Lola Amaria
Sebenarnya persoalan TKI secara universal itu ruwet banget. Setiap negara itu beda-beda. Hongkong memiliki sistem dan hukum yang bagus. Orang Hongkong taat. Juga tidak semua TKI bodoh dan disiksa. Hal ini berbeda dengan kondisi di negara-negara Arab yang bersistem kerajaan. Kalau di Arab, pembantu diberlakukan seperti budak dan ini didukung oleh pemerintah setempat. Di Hongkong semua ada kontrak, ada asuransinya, ada wawancara via webcam.

Jadi dipastikan ketika TKW sampai di Hongkong, mereka memiliki ketrampilan dan bisa berbahasa Canton. Dan kalau majikan salah orang, bisa dikembalikan lagi. Selama tujuh bulan pertama, TKW diberi 500HKD, sisanya digunakan untuk membayar biaya pelatihan dan visa selama 6 tahun. Kalau ada masalah, TKW bisa mengadu karena ada poskonya.

Di Malaysia dan Arab, TKW  selalu berkasus. Persoalannya, di Arab Saudi ada dua pintu, yakni pintu TKI dan pintu haji/umroh. TKI kadang memiliki visa umroh sehingga bisa dikatakan masuk secara ilegal. Malaysia memiliki banyak pintu. Dan TKI pun tidak harus memiliki kemampuan, karena illegal. Penyebabnya, banyak agen illegal dan pemerintah sendiri tidak mau tau, jadi agen tidak mau turut campur jika ada masalah. Saya mendengar satu cerita tentang TKW yang tidak tahu apa-apa. Dia sudah diminta bosnya untuk menutup jendela karena dia baru membeli furniture. Namun karena tidak tahu dan tidak mengerti, si TKW membiarkannya saja. Akhirnya, si majikan menampar si pembantu. Siapa yang mau disalahkan dalam kasus seperti ini?

Penanya
Peran serta pemerintah dalam hal pemberangkatan TKW sejauh mana?  Pemerintah benar-benar lepas tangan.

Dewi Umaya
Kita tidak bisa pungkiri bahwa pemerintah harusnya bertanggung jawab. Dan itu yang tidak pernah dilakukan/diberikan. Saya berharap dengan film ini generasi muda jadi memahami persoalan TKI ini sehingga kita bisa melakukan sesuatu sesuai porsinya. Apalagi sebagai praktisi film, kita memiliki tanggung jawab terhadap masyarakat luas. Kita tidak bisa berharap pada pemerintah. Kita bisa membantu teman-teman dengan cara kita sendiri.

Lola Amaria
Di Hongkong, situasi TKI agak berbeda karena kekeluargaan/solidaritasnya tinggi. Mereka saling bantu. Konsulat di Hongkong bagus karena Hongkong juga butuh kehadiran TKW. Di sana biasanya juga ada welcoming party untuk TKI yang baru datang. Hukum tetap berjalan. Yang salah, tetap akan dihukum.

Yudhis
Menurut saya, film ini tidak mengangkat isu yang berkenaan dengan pemerintah  dan justru itu yang menarik. Di film ini, saya melihat kehidupan TKW kayak artis. Juga isu lain seperti lesbianisme, pinjam-meminjam duit, dll.

Lola Amaria
Film ini berangkat dari peristiwa. Tokoh-tokohnya nyata. Dari awal, tim kreatif ingin sekali cerita yang humanis. Kita melihat manusianya, bukan soal salah dan benar. Mereka, para TKW boleh memiliki sesuatu yang mereka inginkan. Di Hongkong mereka bertemu dengan hal-hal baru, seperti empat musim dan kebebasan baru sehingga wajar mereka ingin memiliki sesuatu yang tidak pernah mereka miliki sebelumnya. Soal pinjam-meminjam uang itu terjadi karena semua orang yang dikampung, menganggap mereka sukses. Kadang untuk itu, mereka harus meminjam uang.

Dewi Umaya
Kita ingin memotret beberapa pengalaman teman-teman kita. Film ini bertujuan untuk meningkatkan awareness terhadap kondisi TKW di luar negeri. Kita pernah memutar film ini di sebuah kampus. Kami mendapatkan reaksi yang mengejutkan. Mahasiswa menuduh kami berkhianat, nggak nasionalis karena mengungkap cerita tenaga kerja di luar negeri.

Lola Amaria
Kebanyakan TKW adalah lulusan SMP/SMA, namun mereka sudah mampu menciptakan lapangan kerja di desanya. Mereka tidak peduli dengan label. Mereka bertujuan untuk menyejahterakan keluarganya. Saya pernah riset ke TKI yang sudah 8 tahun bekerja di  Hongkong. Kitabertanya, sudah berapa banyak uang yang kamu dapat. Dia bilang, tinggal 3 juta. Ia baru saja mengirim uang ke kampung. Delapan tahun kerja dapat apa saja? Sudah bisa membelikan rumah untuk ibu, sawah untuk ayah, sapi, kambing dan lain-lain. Kita semua bangga. Lalu kita bertanya, 10 tahun ke depan bagaimana kamu melihat diri kamu? Saya tidak selamanya ingin jadi TKW. Mereka juga ingin dihargai orang.

Dewi Umaya

Tidak selamanya pekerja rumah tangga itu buruk. Masalahnya ada di pemerintah Indonesia yang tidak pernah beres. Di luar negeri banyak yang disiksa. Di Indonesia juga banyak disiksa. Jadi solusinya bukan hanya soal ganyang Malaysia. Yang harus dibereskan adalah  sistem pengirim dan dan sistem pendidikannya.

Ima
Dari dua kali saya nonton, selalu terdengar suara klek klek saat menyeberang jalan.

Lola Amaria

Itu bunyi lampu merah.

Dewi Umaya
Agak sulit membedakan siang dan malam di Hongkong. Sound-nya sama di sana. Apa ya yang membuat beda? Suara klek-klek itu itu salah satu ciri khas HOngkong.

Lola Amaria
Juga suara tombol yang berbunyi setiap masuk apartemen. Suara itu dominan.

Reva
Film ini kan syutingnya di luar negeri. Bagaimana teknis pengurusan izin, bahan baku, bagaimana dengan kru, semuanya di sini atau di sana?

Dewi Umaya
Kita ada kuota pekerja film yang diambil dari Hongkong. Kita memakai production services di Hongkong jadi semua perizinan di mereka. Semua kru dari Indonesia memakai visa kerja dan asuransi. Saya melakukan semuanya secara legal. Kita didaftarkan.

Lola Amaria
Kita membawa 35 pemain dan kru, terutama kepala departemen ke Hongkong. Penata artistik dari Indonesia, kru Hongkong, dll.  Kita menggunakan 12 jam kerja, dengan komunikasi bahasa Inggris. Masalah umumnya hanya soal makanan yang tidak cocok, tapi semua bisa ditanggulangi. Bahan baku dari Hongkong. Kamera film dlsb sama saja, kita sewa juga. Kita menggunakan tahapa hunting lokasi, casting, dll. Kita tinggal bilang spot mana saja yang mau dipakai. Sehari kita hunt 12 lokasi. Satu tempat cukup 10 menit soalnya argo jalan dan tidak ada santai-santai seperti di Indonesia. Di Hongkong, orang film sangat menghargai profesinya. Kita mendapatkan pelajaran banyak dari produksi ini. Kapan ya Indonesia bisa punya sistem yang bagus kayak Hongkong, dalam hal film saja?

Dewi Umaya
Yang pertama kali dilakukan ketika berhadapan dengan kru Indonesia dan Hongkong adalah menyamakan jam, etos kerja, serta ritme. Kita sempat ada clash. Mereka tidak memakai BB/twitter/FB saat kerja. Kerja ya kerja. Kita syuting paling lama jam 12 malam. Calling jam 12 siang. Kita tidak pernah syuting sampai pagi. Adegan malam kita mulai jam 12 siang. Semua teratur dan lebih sehat. Tapi begitu pulang ke Porong, tetap mulai jam 3 pagi. Di Hongkong, mereka sangat efisien. Semua dihitung.

Ito
Tadi diangkat juga soal lesbianisme. Apakah itu berdasarkan riset? Apakah itu disebabkan karena TKW (semua perempuan)? Apakah karena sistem pembinaan yang 6  bulan? Apakah itu berpengaruh pada standar ‘moralitas’ mereka di Indonesia?

Lola Amaria
Sekitar 40% dari 140,000 TKW yang berada di Hongkong lesbian. Hal ini terjadi karena mereka hanya mengambil TKW dari Indonesia. Tenaga kerja laki-laki diambil dari negara-negara persemakmuran Inggris. Mungkin cikal bakalnya dari pendidikan. Sebelum menjadi TKW di Hongkong, mereka semua normal, dan menikah, tapi ketika di Hongkong, TKW tidak mau nikah/berhubungan dengan yang non-Muslim. Di film ini, saya gambarkan sebagian TKW berhubungan dengan laki-laki Pakistan. Tapi banyak laki-laki ini hanya memperdaya. Yang lain, menyalurkan seksualitasnya ke lesbianisme. Ciri lesbian di Hongkong: membawa boneka Ketika kembali ke Indonesia, mereka kembali jadi normal. Nggak lesbian lagi. Ketika dia mau pulang, ia memakai jilbab dan kemudian menikah/kembali kepada suaminya (laki-laki).

Dewi Umaya
Jadi mereka social lesbian karena mereka merasa lebih aman berhubungan dengan sesama perempuan Muslim.

Lola Amaria
Di kampung mereka kan suka dengan bintang film India/Bollywood. Jadi ketika bertemu laki-laki India/Pakistan, mereka terpikat.

Yudhis
Observasinya berapa lama?

Lola Amaria
1,5 tahun.

Patar
Mau bertanya soal casting.  Saya lihat ada beberapa kru yang ikut main.

Dewi Umaya
Ya, itu pertimbangannya supaya murah wkwkw…

Lola Amaria
Sangat susah mencari bintang yang bisa berakting natural. Karena mereka kru, mereka tidak terbeban untuk terlihat bagus. Mereka seperti tidak berakting. Jadi hasilnya bagus. Meski begitu, kita tetap pakai casting. Jadi sutradara memang harus jeli  melihat segala sesuatu, termasuk potensi kru. Selama ini belum dicoba saja.

Dewi Umaya
Aline  sebenarnya sudah main di beberapa FTV.

Aga
Ketika saya datang ke Jakarta, saya melihat berbagai suku bekerja di sini. Ada suatu tempat di dunia, di mana seluruh orang di dunia bisa berkumpul. Bagaimana perasaan mbak, bertemu dengan banyak orang dari berbagai tempat di Hongkong?

Dewi Umaya
Setiap saya ke Victoria Park, saya merinding.  Taman itu penuh dengan orang Indonesia yang berbahasa Jawa dan jauh dari keluarganya. Orang-orang Hongkong tidak terganggu. Menurut saya, peran TKW sebagai agen budaya di Hongkong, cukup berhasil. Mereka mengenalkan adat-adat Jawa kepada orang Hongkong. Orang-orang Hongkong yang berjualan pulsa, juga sudah mengerti bahasa Jawa.

Lola Amaria
Hongkong itu east meets west, jadi sangat multikultur. Aturan kayak di Barat, tapi di berada Asia.

Dewi Umaya
Para TKW berhasil mengadaptasi kultur di sana. Orang-orang lain mulai mengenal bangsa Indonesia. Mereka menjadi agen budaya.

Lola Amaria
Setiap hari, anak-anak Hongkong diajari bahasa Indonesia. Juga masakan Indonesia.

Icha
Ada beberapa peran yang dimainkan oleh orang Hongkong asli? Apakah juga memakai casting?

Lola Amaria
Kita memang casting karena kita memakai production services.  Untuk casting Hongkong, production services-lah yang melakukakan.

Dewi Umaya
Tim casting berangkat 1,5 bulan sebelum syuting. Persiapan: izin kerja, lokasi. Saat syuting, kita benar-benar live. Kita tidak bisa menunggu orang ramai/sepi. Orang Hongkong biasa melihat syuting film, jadi tidak masalah. Kita juga dibantu banget sama konsulat.

Lola Amaria
Kita tidak mendapat gangguan. Sebenarnya kita pengen syuting di Mongkok, tapi terlalu banyak preman, jadi kita juga tidak diizinkan.

Dewi Umaya
Kita ada buku panduan untuk kru, soal do and don’t selama di Hongkong.

Zaki
Apa yang membuat mbak Dewi mau mengerjakan proyek ini? Saya menunggu film anda selanjutnya.

Dewi Umaya
Kita mempunyai idealisme. Itu yang belum bisa  saya khianati. Idealisme saya dan Lola sama dan kita tidak akan keluar dari jalur ini.  Saya melihat untung tidak hanya bisa dilihat dari profit tapi juga benefit/value.  Kita akan tetap terus membuat  film-film bagus tapi penonton juga harus datang ke hari pertama dan kedua supaya film tidak digulung di bioskop. Kita tidak bisa bilang, film-film horor itu buruk karena industrinya harus hidup. Ada permintaan ada penawaran. Film-film seperti ini bergantung pada kalian.

Lola Amaria
Kita nekad banget. Soalnya kalau nggak nekad, nggak jadi. Jalan ada aja. Kesulitan sudah terjadi dari awal, dari elemen manapun. Dari pemain saja, saya harus belajar dua bahasa (Canton, Jawa), kerjaan dobel dan itu tidak gampang. Untungnya, ada orang-orang yang selalu mendukung. Kesulitan itu bisa diatasi. Mulai dari DOP, artistic, dll.

Dewi Umaya
Saya kuliah di sini,  di IKJ dan diajari soal tangible/intangible. Pengalaman di Hongkong bagi saya tidak bisa dihitung. Tidak ada yang eksak. Tapi kita berusaha meminimalisasi kesulitan-kesulitan dan risiko. Mahal.  Film ini bukan pembelajaran yang bagus buat kalian karena film ini tidak balik modal wkwkwkw….

Lola Amaria
Kalo mau syuting di luar, kurs setiap hari berubah. Kita kena 500 juta hanya untuk pengiriman.

Dewi Umaya
Untung ada dana dan hibah.

Lola Amaria
Bantuan datang di akhir.

Iwang
Di Hongkong, ada isu lesbianisme. Di Arab Saudi, banyak yang disiksa. Apakah akan membuat film lain dengan tema TKW ini?

Lola Amaria
Saya tidak mau bikin film yang disiksa-siksa.

Dewi Umaya
Persoalannya adalah pemerintah yang gak peduli, orang-orang yang tidak mengerti, TKW yang tidak memahami aturan-aturan, dll. Di negara-negara Arab, persoalannya lebih kompleks. Di sana juga jauh lebih susah untuk syuting. Kalau di Hongkong kan masih bisa. Berita yang kita terima soal TKI ini juga simpang-siur. Padahal kontribusi ekonomi mereka sangat besar. Sumbangan TKI bernilai 140 trilyun pertahun!!!

Lola Amaria
Dulu Marrisa Haque pernah membuat film tentang TKW di Arab Saudi berjudul “Purnama di atas Madinnah”, sampai sekarang film itu tidak boleh diedarkan karena berisiko pada hubungan antara Indonesia dan Arab Saudi.

Yudhis
Next project?

Dewi Umaya
Saya sedang mempersiapkan sebuah road movie bersama Viva Westi, dan dua film lain. Lola belum ada proyek. Lagi bikin dokumenter.

Posted in: Memento