Mamalia, Sebuah ‘Dongeng Kancil’ Ibukota*

Posted on July 29, 2011

0


(Berikut adalah satu dari enam resensi singkat atas enam film pendek yang dibuat Klub Kajian Film IKJ dalam kerjasama event Boemboe Forum, 9 July 2011 lalu)

Mamalia (sesi diskusi di Kineforum), ki-ka: nayla, tumpal, ray

Sebagai sebuah teks, film Mamalia (juga bagian dari omnibus Belkibolang) karya Tumpal Tampubolon ini cukup kaya akan referensi budaya pinggiran kota Jakarta yang dengan nakal seolah menghidupkan kembali analogi populer soal ibu kota yang ‘sekejam’ ibu tiri. Referensi terhadap mamalia sebagai istilah biologis yang mengacu pada peran ‘ibu’ (menyusui) dalam film ini mencakup insting untuk mempertahankan diri, menghidupi, dan sekaligus mematikan. Tanpa bertele-tele, film ini memperlihatkan absurd-nya usaha bertahan hidup di jalanan kota Jakarta.

Tokoh utama film ini, Sang Mamal, adalah seorang perempuan yang terlibat dalam apa yang tampak seperti praktek prostitusi jalanan. Ia menggunakan organ seksualnya, yaitu payudara, untuk dipertukarkan dengan komoditas bernilai ekonomi (motor). Namun, pertukaran ini tidak melibatkan sistem ekonomi jual-beli jasa biasa, melainkan praktek kriminalitas kecil-kecilan.

Sang Mamal melakukan konfirmasi atas perannya lewat adegan menyusui. Namun, alih-alih menyusui dalam konteks memberi penghidupan, adegan menyusui ini adalah usaha untuk ‘mematikan’ yang disusui. Payudara sang Mamal yang dilumuri racun adalah sebuah perangkap erotis untuk mencuri sepeda motor seorang tukang ojek. Model kriminalitas yang menggabungkan seksualitas yang ganjil (payudara yg dilumuri ‘racun’) dan insting keibuan tersebut (Sang Mamal memang memiliki seorang anak yang harus ia hidupi secara finansial) menawarkan konsepsi keibuan yang menarik. Alih-alih memakai istilah ‘ibu’ yang telah banyak dipolitisasi dan diromantisir, ia mengajukan istilah Mamalia. Sebuah acuan pada peran keibuan yang sifatnya instingtif. Lalu meletakkannya dalam konteks budaya jalanan kota yang keras dan artifisial.

Ibu dalam film Mamalia adalah ibu yang dihasilkan oleh budaya pinggiran kota, dimana ibarat dongeng Kancil, kecerdikan dan penipuan adalah bagian dari insting bertahan hidup. Praktek menghidupi anak yang ia lakukan dibentuk oleh dunia ‘bawah tanah’ yang membentuknya menjadi semacam sosok femme fatale dengan seksualitas yang berbahaya (payudara beracun).

Sebagai sebuah karya adaptasi, film ini mampu membayangkan kembali dunia ‘bawah tanah’ Jakarta yang jarang direpresentasikan. Dibuat berdasarkan sebuah artikel koran Warta Kota tahun 2008, film ini berhasil melewati ujian terberat dalam proses adaptasi, yaitu mengaplikasikan konvensi klasik pembuatan film: show it, not tell it.

Menariknya, jika koran-koran ‘lampu merah’ cenderung suka melakukan erotisasi berlebihan terhadap cerita untuk menghadirkan semacam pleasure in reading bagi pembaca laki-laki, film Mamalia menggambarkan adegan seksual-kriminal tanpa pretensi semata menciptakan pleasure in viewing. Adegan ketika Sang Mamal menyodorkan payudaranya untuk diisap si tukang ojek, digambarkan begitu aneh dan komikal sehingga alih-alih menjelma bagai adegan erotis, is justru menjelma komedi gelap yang absurd dan membuat penonton baik laki-laki maupun perempuan tertawa setengah hati.

Secara umum, film ini cukup berhasil dalam menciptakan teks alternatif tentang Jakarta. Ironi muncul dari pemahaman ibu kota negara sebagai pusat dan pilihan sutradara untuk merepresentasikan narasi kehidupan warga pinggiran di dalamnya. Ibarat permainan kata, Mamalia memecah istilah ‘ibu kota’ secara literal untuk menyusun dialog baru antara ‘ibu’ dan ‘kota’ dengan usaha penciptaan makna alternatif yang patut diapresiasi (meskipun secara ideologis masih bisa diperiksa lebih lanjut). Dalam mereproduksi kisah-kisah pinggiran warga kota yang jarang terepresentasikan lengkap dengan peristiwa-peristiwa aneh dan absurd yang melingkupinya, film ini menampilkan potongan puzzle imaji Jakarta yang selama ini hilang. Sebuah dunia ‘bawah tanah’ yang seringkali terlupakan.

 

 

*oleh Nayla Majestya