Si Fullan Sebagai Subyek Muslim*

Posted on July 29, 2011

0


(Berikut adalah satu dari enam resensi singkat atas enam film pendek yang dibuat Klub Kajian Film IKJ dalam kerjasama event Boemboe Forum, 9 July 2011 lalu)

 

Fullan (sesi diskusi di FFTV IKJ), di depan kelas ki-ka: nayla, ancha, ray

 

Melihat narasinya yang begitu gamblang, film pendek Fullan karya Eldiansyah Ancha Latief bisa dikategorikan (jika bisa disebut) film Islami. Si Fulan yang secara literal berarti seseorang (no name/ si ini/ si itu) adalah nama yang seringkali dipakai untuk mengacu pada tokoh atau subyek Muslim dalam kisah-kisah keteladanan dan pengajaran moral Islam. Ia tak bernama, karenanya tak membawa identitas lain selain sebagai si Muslim atau seseorang yang bersentuhan dengan budaya Islam (ia tak selalu muslim, tetapi ia berada dalam dunia penceritaan/pengajaran moral Islam).

Menuruti konvensi dalam Islam yang melarang menggambarkan sosok Nabi Muhammad SAW dan Allah SWT secara visual, film-film bertemakan Islam (Islamicate films) memperlihatkan karateristik ikonografi yang berbeda dengan film-film relijius lainnya. Jika ke-Hindu-an ataupun ke-Kristen/Katolik-an bisa terwakili dengan pencitraan simbol-simbol seperti salib, orang-orang suci, maupun dewa-dewa, ke-Islam-an dalam film dimediasi lewat representasi sosok ‘Muslim Sosial’[1]. Film pendek Fullan ini memperlihatkan dengan baik salah satu contoh sosok Muslim sosial ini.

Fullan mengikuti sebuah dilema keimanan seorang Muslim dalam melakukan ibadah. Dalam perjalanan untuk melakukan salat berjamaah ke masjid, si Fulan bertemu orang-orang yang membutuhkan bantuannya. Dalam setiap keputusannya membantu orang-orang ini, ia menderita kerugian secara fisik; baik dalam bentuk uang maupun pakaian. Namun, di akhir kisah, praktek keimanan si Fulan (membantu orang-orang di sekitarnya) dibenarkan dalam sebuah forum pengajian yang membahas posisi subyek Muslim dalam hubungannya dengan sesama manusia (hablu minannas) sebagai sebuah bentuk lain ibadah. Dilema si Fulan bahwa ibadah sosial yang ia lakukan membawa kerugian fisik bagi dirinya, diselesaikan lewat penguatan identitasnya sebagai seorang Muslim yang baik, yaitu Muslim yang membawa banyak manfaat bagi orang lain.

Pada mekanisme penguatan identitas kemusliman ini, kisah dalam film Fullan  memperlihatkan posisi ideologisnya. Bahwa film ini merepresentasikan subyek Muslim yang memposisikan diri berlawanan dengan ide dasar kapitalisme. Prinsip dasar kapitalisme adalah mengakumulasi kekayaan untuk digunakan dalam memproduksi lebih banyak kekayaan. Dengan kata lain, harta/modal diputar dalam sebuah sistem ekonomi sehingga ia menghasilkan lebih banyak lagi harta. Namun, film Fullan memperlihatkan bagaimana ‘harta’ dipahami dalam sistem kepercayaan Islam yang utamanya tidak berpaku pada bentuk fisik, melainkan spiritual. Harta atau kekayaan seorang muslim adalah pahala yang diperoleh lewat sistem akumulasi berupa praktek ibadah. Tak jarang dalam sistem akumulasi kekayaan spiritual ini, harta dalam bentuk fisik dikorbankan, seperti halnya yang terjadi dengan uang dan pakaian takwa si Fulan.

Narasi-tanding atas prinsip kekayaan/harta ini memperlihatkan bagaimana film Fullan melakukan konfirmasi atas posisi komunitas Muslim sebagai Yang Liyan (the other) dalam sistem ekonomi global di era kapitalisme mutakhir. Maka, sebagai entitas kelompok yang berbeda dari the-rest-of-the-world, hanyalah adil jika ia dijelaskan lewat logikanya sendiri. Salah satunya, seperti yang dicontohkan film ini, sebagai sebuah komunitas yang memiliki logika akumulasi kekayaan tersendiri.

Narasi si Muslim sebagai yang berbeda atau Yang Liyan merupakan wacana yang banyak mengemuka pasca peristiwa 9/11, terutama dalam peta politik US. Dalam usaha ‘pengkambinghitaman’ terhadap komunitas Muslim, film-film arus utama Hollywood (dan Hollywoodian) menjadi salah satu mesin afirmasi dan konfirmasi ideologi dominan war-on-terrorism yang mengelola jarak tertentu terhadap Muslim. Muslim sebagai obyek yang dikisahkan/dijelaskan oleh non-Muslim dipenuhi bias-bias dan ketimpangan akibat politik Perang Teluk dan lebih lanjut 9/11[2], sehingga ia menjadi Sang Liyan dan karenanya terlegitimasi sebagai ‘bukan kita/kami’ (not-one-of-us), yang dalam jarak dan dengan mekanisme tertentu bertransformasi menjadi ‘sang musuh kolektif’.

Jika kita mempertimbangkan peta ideologi di atas, dengan mengedepankan si Fullan sebagai subyek Muslim, film pendek Fullan bisa dianggap sebagai bagian dari usaha global dalam ‘merebut’ ranah representasi Islam lewat logika penceritaan ‘orang pertama’. Karena hanya ketika narasi digunakan sebagai ranah ‘mengisahkan diri’ lah, maka subyek Muslim tak lagi menjadi Yang Liyan.

Namun, tentu saja, bahkan sebuah film naratif pun tak hanya soal narasi. Fokus film Fullan terhadap narasi tidak diimbangi usaha sinematiknya. Penggarapan tema subyek Muslim hanya konsisten sebatas pada plot dan story, namun tidak pada cara imaji film (audio visual) mengakomodirnya. Mengapa ini menjadi penting? Karena kegagalan menggunakan medium utama film dalam mengisahkan sesuatu, menghadirkan kemungkinan untuk mengganti medium penceritaan. Dengan kata lain, jika kisah si subyek Muslim ini tak bisa dikisahkan secara filmis, mengapa ia harus difilmkan? Ia toh bisa saja dituliskan dengan kata-kata atau diceritakan secara oral.

Secara umum, kita bisa mengatakan bahwa sebagai sebuah film bertemakan Islam, film Fullan berhasil memanfaatkan konvensi visual genre dalam merepresentasikan Islam. Namun, belum berhasil memanfaatkan konvensi filmis sebagai medium representasi.

*oleh Nayla Majestya

[1] Bahasan lebih jauh soal film-film bertemakan religi yang menarik bisa dilihat dalam buku Filming The Gods, tulisan Rachel Dwyer.

[2] Lihat film-film Hollywood yang merepresentasikan komunitas Arab dan Muslim sejak masa perang Teluk hingga pasca 9/11. Salah satu kajian yang komprehensif di area ini bisa dilihat di buku Reel Bad Arabs, karya Dr. Jack Shaheen.